uncategorized

reframing…lagi

saking lamanya ndak buka blog…sampe lupa alamat blognya dimana (lol) untung ada plurk. bisa liat blog kak agunyanmon, maka ketemulah akun wordpress yang sudah lama tidak diupdate ini. mumpung blognya ketemu, yuk mari ngobrol bareng sama KAtS lagi :3

kali ini topiknya tentang re-framing. sambungan dari topik yang dulu pernah diobrolin bareng di tret ini –> https://knightofwind.wordpress.com/2010/01/27/re-framing/ tulisan lama sih, tapi seru buat dibahas, diobrolin, dikupas, dikunyah rame-rame *yummm

sebelumnya, tulisan ini ada karena, pertama, diingetin tentang reframing oleh kak agunyanmon. reframing itu topiknya memang ‘nyikologi’ banget. klo udah baca tulisan sebelum ini, mungkin temen-temen bisa paham klo konsep reframing yang kats tawarkan agak rumit klo belum paham konsep-konsep psikologi yang ada di belakangnya. nah, berhubung tulisan yang sebelumnya cuma bahas sekilas tentang reframing, sepertinya bakal lebih *yummm klo reframing dibahas sekali lagi.

alasan yang kedua, kemarin diajak ngobrol tentang konsep kebahagiaan. menurut yang ngajak kats ngobrol, kebahagiaan itu sesuatu yang ‘given’, sesuatu yang berasal dari luar diri kita dan tidak bisa kita rubah. nah, klo menurut KAtS, sesuai dengan konsep reframing yang sudah kita obrolin kemarin, kebahagiaan itu sesuatu yang ‘defined’. asalnya dari diri kita sendiri dan karena sifatnya yang ‘defined’, maka ia juga ‘defineable’ dan kita bebas me’redefine’ kebahagiaan semau kita.

jadi intinya-dengan reframing-kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari.

kredo reframing, “segala sesuatu di luar diri kita tidak memiliki arti hingga kita memberikannya makna”. bagaimana kita memberi makna pada hal-hal di luar kita, tergantung dari ‘rule’ dan ‘value’ yang kita miliki. setiap orang punya ‘rule’ dan ‘value’ yang berbeda. maka, jangan heran jika dua orang bisa memiliki perspektif yang jauh berbeda tentang hal yang sama. dua orang yang melihat seekor anak kucing lari jejumpalitan, misalnya, salah satunya mungkin akan memberikan perspektif yang ‘menyenangkan’. kucingnya lucu, kucingnya ceria, mari kita tersenyum dan habiskan hari dengan bahagia. meskipun demikian, salah satu dari orang tersebut bisa juga memiliki perspektif yang ‘tidak menyenangkan’. kucingnya alay, kucingnya ribut, mari kita *syuuuuung…lemparin pake sandal jepit.

itu tadi, bagaimana kita membentuk perspektif atas hal-hal yang ada disekitar kita. orang pertama memiliki perspektif positif. anggap saja ia baru pulang kencan. sebuah dinner yang sangat romantis, dan kekasihnya memberinya sebuah cincin. melamarnya. pikiran positif ini, yang sangat kuat, dalam pikiran orang ini akan membuatnya cenderung untuk memberikan perspektif positif pada hal-hal yang ada di sekitarnya. sebaliknya, orang kedua memiliki perspektif yang berbeda. bisa jadi dia kecapekan setelah dikejar moster gukguk. bunga kesayangannya mati. dia punya coklat, tapi diambil kucing dan dibawa kabur. pikiran-pikiran negatif ini, kuat mempengaruhi pikirannya, dan kita pun akan mendapatinya memberikan perspektif-perspektif yang kurang menyenangkan terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya.

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“tiga hal yang apabila seseorang mendapatinya, maka ia telah merasakan manisnya iman. orang yang menjadikan Allah dan rasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya. orang yang mencitai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah. dan orang yang membenci kepada kembali pada kekafiran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api (neraka)”(H.R.-Bukhari)

hadist diatas topik asalnya tentang iman dan mahabbatullah. akan tetapi, hadist ini juga berkesuaian dengan teori perspektif yang kita obrolin  barusan (dan tentu saja, reframing). manisnya iman –> kebahagiaan di dunia dan akhirat. maka kebahagiaan, menurut hadist diatas, dicapai dengan mahabbatullah-mahabbaturrasul (poin pertama), dan pengamalan dari mahabbatullah-mahabbaturrasul (poin kedua dan ketiga). agak bingung ya? mari kita buat studi kasus.

KEHUJANAN. JALAN BECEK. MOTOR MOGOK. TERPAKSA JALAN SATU KILO. SAMPE RUMAH LANGSUNG DEMAM.

tanpa perspektif yang tepat dan ketiadaan mahabbah (mahabbah–>cinta), rangkaian peristiwa diatas adalah peristiwa yang tidak menyenangkan. nyebelin malah. keberadaan ‘cinta’ dan penempatan perspektif yang tepat mampu merubah rangkaian peristiwa diatas, dari ‘jengkel nyebelin nan bikin sakit hati’, menjadi sesuatu yang ‘ceria menyenangkan nan bikin bunga bunga bermekaran di hati’. anggap saja pelaku kejadian diatas, seorang suami yang menjemput istri setelah tidak bertemu 3 bulan. hujan-jalan becek-motor mogok-jalan satu kilo, menjadi tidak lebih dari ‘kerikil’ kecil dari sebuah jalan yang harus dilewati dari sebuah perjuangan meraih cinta *wuiiii. maka demam pun menjadi sesuatu yang membahagiakan. soalne kan jadi ditungguin istri…disuapin bubur…de es te (ninja).

dari semua hal yang bisa dijadikan ‘frame’ dalam sebuah ‘reframing’, cinta memang salah satu yang paling ampuh. ada frame ‘pengorbanan’, ‘perjuangan’, ‘petualangan’, dan ratusan ‘frame’ yang bisa digunakan. tetapi hanya ‘cinta’ (terutama yang didasari dari kecintaan terhadap Allah dan RasulNya) yang mampu bertahan paling lama dan mampu menjadi ‘frame’ yang mampu merubah drastis perspektif kita terhadap hal-hal di sekitar kita. keberadaan cinta di hati, membuat seorang suami rela bekerja keras siang malam. seorang istri mampu bersabar dan tabah. seorang anak tak lagi berpikir ulang untuk berbakti pada orang tua. prajurit maju gagah berani ke medan perang, dan…kita, merubah dunia sedikit lebih baik dengan lebih banyak semangat dan senyuman :p

ini obrolan kita sedikit tentang reframing. lain kali kita ngobrol tentang variasi reframing dan trik mudah reframing sehari-hari nggih ^,^

Iklan

Satu tanggapan untuk “reframing…lagi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s