uncategorized

tasawuf 2

topiknya masih tasawuf. dan kali ini cinta yang jadi bahan diskusi. tapi kali ini bentuknya bukan narasi. narasi terlalu panjang, kata kats. kita main tanya jawab saja. ini edisinya mas mas dan mbak-mbak lagi ngobrol.

A: apa itu cinta?
B: saya tidak tahu?
A: kenapa masih pengen diobrolin
B: kan pengen tahu…
A: ya udah…apa yang pengen kamu tahu?
B: apa itu cinta?
A: ish…dasar kucing.

notes:
katanya cinta itu mirip Tuhan. kamu tahu apa itu cinta. ralat. setiap orang tahu apa itu cinta. kamu tahu rasanya berdekatan dengan cinta. kamu tahu. semua orang juga tahu. tapi kamu tidak akan mampu menciptakan definisi cinta yang diterima universal oleh semua makhluk. cinta? ya cinta. Tuhan? kamu mengenalnya lebih baik dari siapapun. ketika kita mulai menjelaskan apa itu cinta, apa itu Tuhan, kita mulai kehilangan makna Tuhan dan cinta dari jiwa kita. solusinya? kita biarkan saja cinta dan Tuhan mula membuka tabirnya pada jiwa kita. bukankah cinta itu awal segala sesuatu?

A: btw, mengapa kamu pengen tau cinta?
B: agar aku bisa mencintai dengan benar apa yang aku cintai?
A: apa yang kamu cintai?
B: kamu?
A: aku tidak butuh cintamu.
B: tapi aku butuh mencintaimu.
A: mengapa aku tidak mencintaimu?
B: mungkin karena kamu sudah mencintai dia.

notes:
kebutuhan jiwa adalah mencintai. bukan dicintai. “antumul fuqaraa’u ilallah”, kata Quran. kita yang butuh mencintai Tuhan. Jiwa kita butuh untuk mencintai. jiwa kita haus akan rasa cinta yang tidak akan pernah bisa terpenuhkan kecuali dengan mencintai. “Innallaha ghaniyyul hamid”. Sesungguhnya Tuhan Maha Kaya. ia tidak butuh untuk mencintai sesuatu apapun.

B: mengapa kamu mencintai dia?
A: aku tidak tahu. mengapa kamu mencintaiku?
B: karena kamu juga mencintaiku?
A: geer…
B: klo memang kamu tidak mencintaiku? mengapa kamu memilih disini dan mengobrol denganku sedangkan dia butuh untuk selalu bersamamu?

notes:
Love is always mutual. dengan catatan khusus. jika memang itu cinta. “ketika manusia berjalan menuju TuhanNya, Tuhan menyambut dia dengan berlari”, kata Rasulullah. cinta selalu berlaku dua arah. tidak ada cinta yang tertampik selama itu memang benar-benar cinta. “man yuridullahu khairan yufaqqihu fiddin”, kata Rasulullah. ketika seorang hamba dicintai Allah, maka ia akan memberikannya ilmu, makrifat, yang akan membuat dia semakin mencintai Tuhan. kalau merasa melihat ada cinta yang tertampik sebelah tangan, coba tanyakan lagi, apakah itu memang cinta?

A: tapi aku mencintai dia.
B: itu tidak berarti kamu tidak mencintaiku.
A: tapi aku lebih mencintai dia.
B: bukankah cinta memang pilihan?

notes:
“Cinta memiliki tingkatan-tingkatan”, kata Al-Jauzi. dan kita harus memilih satu diantara cinta tersebut sebagai “Prime Love”, cinta yang paling tinggi.

A: aku tetap memilih dia
B: itu pilihanmu. tapi kamu tidak bisa berhenti mencintaiku
A: mengapa?
B: karena aku kawan dekatnya. dan kamu tidak akan mampu berdiri di depanku dengan rasa benci selama aku berteman dengannya. itu bukti bahwa kamu mencintainya

notes:
ketika kita mencintai sesuatu, segala hal yang disukaiNya akan kita sukai dan segala hal yang Dia benci akan kita benci pula. “tsalatsa man kunna fiihi wa jada khawalatul iman”, potongan dari sebuah hadist yang masyhur. lanjutannya panjang, jadi silahkan dicari sendiri. hadist ini memberikan beberapa perspektif.
1. rasa nikmat dalam mencintai hanya diperoleh jika kita menujukannya pada obyek yang tepat.
2. kecintaan kita terhadap sesuatu dapat dibuktikan dengan beberapa hal.
– kita mencintai Dia diatas segala sesuatu apapun
– kita mencintai apapun yang Dia cintai
– kita membenci apapun yang Dia cintai

A: ish…kenapa ribet sih. kan aku udah bilang aku lebih mencintai dia.
B: biasa aja tuh
A: tapi aku gak mungkin membalas cintamu
B: aku tidak pernah mengharapkan cintaku berbalas

notes:
simply, platonik. kecintaan kita terhadap Tuhan dalam bentuknya yang paling murni tidak membutuhkan balasan dari Tuhan. meskipun pada akhirnya Tuhan akan membalas rasa cinta kita, dengan hadiah-hadiah, rahmat, rezeki yang mengalir, ilmu yang luas, kita tidak mengharapkan balasan apapun selain keridhaan bahwa kita mencintaiNya. kecintaan terhadap Tuhan, sikap penuhanan kita terhadap Tuhan memiliki beberapa tingkatan. yang paling rendah, menuhankan Tuhan karena Takut diazab. Yang kedua, menuhankan Tuhan karena ingin masuk surga. yang paling tinggi, dan yang paling utama, menuhankan Tuhan karena semata-mata ia adalah Tuhan, satu-satunya yang patut dipertuhankan.

A: apakah kamu tidak merasa sakit?
B: aku tidak pernah merasa sebahagia seperti ini sebelumnya

notes:
happiness always comes after love. kebahagiaan selalu datang membersamai rasa cinta. maka tidak salah hadist diatas, “tsalatsa man kunna fiihi…wajada khalawatul iman” iman, rasa cinta yang benar. ditujukan pada obyek yang benar. dan diwujudkan dencan cara yang benar. mendatangkan rasa manis, kebahagiaan bagi si subyek pencinta.

A: aku tidak yakin kamu mencintaiku
B: aku mencintaimu. aku hanya perlu kamu tahu saja
A: aku butuh bukti
B: mengapa harus dibuktikan?
A: bukankah cinta memang harus dibuktikan?

notes:
cinta bukan obyek. yang diam. pejal. ia kata kerja. setiap aksinya bisa dibuktikan dan dilihat dengan jelas. kecintaan kepada Tuhan, keimanan kepada Tuhan tidak pernah berhenti pada “aku mencintai Tuhan”. cinta menuntut subyek si pencinta untuk secara konsisten menunjukkan kecintaannya dengan serangkaian aksi-aksi terukur yang terencana dengan jelas. “Iman adalah menentang Realitas”, kata Ali Syariati. Realitasnya, Tuhan berada nun jauh bersemayam di Al-Arsy. Rasa cinta, Iman kita terhadap tuhan adalah satu-satunya obyek yang mampu mengubah realitas itu. setiap aksi-aksi kita, setiap aktivitas yang kita lakukan dalam rangka kecintaan kita terhadap tuhan, akan mendekatkan sosok Tuhan yang begitu jauh sehingga bisa dirasakan semua orang di bumi. membuat mereka mampu merasakan setiap tetesan rahmat yang diberikan Tuhan kepada mereka.

B: dengan apa cinta harus dibuktikan?
A: dengan aksi? kerja? cinta membuat hidup seseorang selalu dinamis
B: ah…capek. sudahlah, sepertinya aku harus pergi?
A: kemana?
B: biasa…kencan.
A: hoe? bukankah kamu tadi barusan bilang kamu cinta aku?
B: iya…tapi…aku tidak pernah bilang kamu satu-satunya orang yang aku cinta kan?
(brum brum…suara motor pergi berlalu)

end scene:
C: lho ini tasawufnya dimana?
D: lha ini tadi kamu baca barusan?
C: gak kerasa tasawuf. cuma obrolan mas B yang lagi ngegodain mbak A
D: ini namanya qiyas…cerita analog. klo ceritanya dibuat versi kucing jejingkrakan ntar kamu ndak paham. klo dibuat narasi ntar kamu bilang menggurui. ribet ah.

tasawuf, betapapun rumit penampakannya, hanya berbicara tentang dua hal. siapa yang harus kita cintai dan bagaimana kita sepatunya mencintai Dia.

ini tulisan lama…tapi sepertinya pas buat dikutip di artikel ini

Ketika cinta berada di luar sana, maka cinta adalah sebuah kata benda. Anggap saja bulat. Empuk. Kinyul-kinyul. Dan enak dicokot-cokot. Atau terserah deh…kalian bisa membayangkan cinta dalam berbagai versi. Silahkan gunakan imaji kalian dan bayangkan cinta dalam berbagai bentuk dan versi sesuka hati. Tapi kita harus sepakat tentang satu hal. Cinta di luar sana adalah kata benda.

Tapi ketika cinta ada dalam diri kita, maka cinta adalah sebuah kata kerja. Sebuah keputusan dan sikap. Cinta dalam diri kita tidak pernah mewujud dalam sekedar kata, sekedar vibrasi udara yang terartikulasi, atau sekedar tulisan yang tertulis dalam surat cinta.

Maka, ketika cinta datang mengetuk hati dan bertanya kepada anda tentang cinta, anda bisa memulai menjawab dengan sebuah kisah. Dimulai dari sebuah kelimat pendek, saya katakan kepada anda, “Cinta adalah manifestasi serangkaian tekad, rencana, dan sebuah aksi strategik yang tersusun sempurna.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s