uncategorized

tasawuf

kali ini topiknya tentang tasawuf. dan kita perlu meluruskan beberapa hal.
1. tasawuf sama sekali berbeda dengan filsafat.
2. tasawuf sama sekali tidak rumit.
3. tasawuf itu menyenangkan.

jika saya ditanya, apa itu tasawuf, maka saya akan menjawab ‘tasawuf adalah jalan tentang cinta dan bagaimana cara mencintai dengan utuh’. tasawuf dalam berbagai wajahnya hanya memiliki beberapa topik yang relatif tidak berubah selama ratusan tahun. Kamu, Tuhan, Cinta. jika hidupmu adalah sebuah kisah, maka keseluruhan kisah tentang kamu, Tuhanmu, dan bagaimana kamu mencintaiNya adalah definisi paling lengkap dan menyeluruh dari tasawuf.

beberapa orang mungkin melihat tasawuf sangat esoterik. tertutup. sangat esklusif. susah dipahami. saya ingin mengatakan bahwa keterbatasan akal hampir selalu membuat tasawuf tampak rumit. semata-mata karena kesederhanaan tasawuf hanya bisa dipahami oleh hati ketika ia dipenuhi oleh rasa cinta. tasawuf bukan cabang ilmu. tasawuf bukan tentang filsafat. segala perdebatan, teori, atau konklusi matematis tentang tuhan. tasawuf jauh dari itu. jika ditanya tentang ma’rifat, ilmu, tabir gaib yang disingkap dari sebagian salik, maka itu semata-mata karena rasa cinta mereka terhadap Tuhan. seberapa besar kecintaan kita terhadap Tuhan, tergantung dari seberapa jauh kita mengenal Tuhan. ma’rifat akan mendatangkan rasa cinta, dan Tuhan akan menyingkap tabir rahasiaNya kepada siapapun yang mencintaiNya, semata-mata agar kecintaan dia semakin besar padaNya. ilmu, ma’rifat, basyirah, dan nur yang Ia letakkan di hati bukan tujuan akhir dari tasawuf, melainkan jalan yang mendekatkan diri sang salik padaNya.

dan tentu saja, tasawuf itu menyenangkan. jalan tasawuf mengajarkan tentang bagaimana menemukan kecintaan terhadap Tuhan, dan bagaimana cara menumbuh-kembangkan rasa cinta itu setiap hari. rasa cinta yang semakin tumbuh, berarti kebahagiaan yang semakin besar setiap hari. tasawuf dalam berbagai wajahnya memiliki ritual-ritual dan tradisi yang unik untuk mempertahankan rasa cinta terhadap Tuhan dan menumbuhkannya dengan cara yang paling efektif dan efisien. Beragam. namun semuanya berakar dari aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. jalan-jalan, makan-makan, dan tentu saja, pesta!

Iklan

6 tanggapan untuk “tasawuf”

  1. lentingan pikir.

    “namun semuanya berakar dari aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. jalan-jalan, makan-makan, dan tentu saja, pesta!”

    maksud konklusinya apa…?? kita disuruh pesta2 gitu? seperti budaya dibanyak film korea itu? *walau saya ga intens nonton tapi resensinya demikian. dan ya, al mubazirina ikhwatusysyaithan?!

    namun bukan. bukan itu… jelas ukhrawi tak bisa dicampur dengan duniawi.

    namun demikian. “kita” akan tetap menemukan Dia disana. dimanapun. kapanpun. bagaimanapun.

    allahua’lam.

    ~Allahughayatuna~

  2. sepertinya ‘bahasa’ yang kita pakai beda. baiklah, kita samakan bahasa dulu. pola yang dibangun dalam artikel ini, cinta –> mendatangkan kebahagiaan. pesta –> membangun cinta –> mendatangkan kebahagiaan.

    kata ‘pesta’ disini diartikan semua aktivitas yang membangun kecintaan pada Tuhan. hedonisme, atau paham yang mengutamakan bersenang-senang tidak selalu negatif. ini distorsi sejarah. hedonisme merujuk pada paham yang diajarkan hedon, seorang tokoh filsuf yunani yang mengajarkan bahwa tujuan asli hidup manusia adalah bersenang senang. tapi paham ini sebenarnya bukan dari hedon, tapi dari gurunya (saya lupa namanya). distorsi sejarah timbul karena hedon dan gurunya berbeda dalam mendefinisikan makna bersenang-senang. hedon mendefinisikan bersenang-senang sebagai kegiatan pemenuhan fisik, ini definisi yang yang dikenal umum. tapi untuk tahu definisi yang asli, kita harus merujuk pada definisi yang dibuat gurunya dimana ia mendefinisikan bersenang-senang sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan spiritual. got it?

    mengapa harus merujuk pada definisi gurunya?
    ada dua alasan. pertama, karena pemenuhan kebutuhan spiritual sifatnya lebih permanen. kedua, karena pemenuhan kebutuhan spiritual bisa ketika dilakukan dengan benar bisa memenuhi kebutuhan fisik, sedangkan pemenuhan kebutuhan fisik hampir selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan spritual.

    ya…anggap saja maqam kamu tinggi. bisa bersenang-senang dan memenuhi kebutuhan spiritual dan fisik kamu hanya dengan zikir dan amalan-amalan sunnah. tapi kan tidak semua orang bisa begitu. ada orang-orang dengan maqam yang lebih rendah yang bersenang-senang dengan hal-hal lain. pun dalam tradisi tasawuf ada banyak sekte dengan berbagai macam ritual bersenang-senang yang ditawarkan. setiap orang yang ingin belajar tasawuf bisa memilih sekte dan cara bersenang-senang sesuai dengan maqamnya.

    tapi ada catatan penting disini. ritual bersenang-bersenang yang boleh dilakukan adalah yang masih tetap dalam batasan syariat. ada beberapa sekte tasawuf yang keliru dalam mendefinisikan makna bersenang-senang (mungkin mereka mengikuti definisi hedon) dan memiliki ritual yang tidak sesuai dengan syariat. diantaranya ada yang mengajarkan minum arak, seks bebas, atau bahkan hubungan sesama jenis. nope, jelas bukan ini makna bersenang-senang yang kita ikuti.

    as a conclusion, tasawuf adalah jalan tentang cinta dan bagaimana cara mencintai dengan utuh’. menjadikan aspek ruhiyah dan jasadi dalam satu harmoni, kecintaan kita pada tuhan. klo ada yang bilang “ukhrawi tak bisa dicampur dengan duniawi”, saya ragu klo dia pelaku ajaran tasawuf. dalam perspektif kami, aspek spiritual dan fisik harus dibangun sekaligus ketika membangun kecintaan kepada tuhan. aspek spiritual-fisik (klo ikut istilah komen diatas, ukhrawi-duniawi) tidak akan saling bertentangan selama mereka patuh pada fithrahnya. klo ada yang bilang kecintaan pada tuhan dan iman hanya ada dalam aspek spiritual saja, that’s nonsense. apalagi klo ada yang bilang kecintaan pada tuhan membuat hidup mereka menderita, that’s a total lie. rasa cinta selalu mendatangkan kebahagiaan. so, have a fun, and have a nice day.

  3. umm…itu…umm…ya…itu…umm…something fluffy grown inside my soul is a lil bit incompatible with writing skill which I’ve aqcuired by copying someone’s mental state. that litlle fluffy stuff is ceasing me to reproduce that person’s mental state so that I can’t use that person’s writing skill anymore. its like trying to run an old app from 16 bit computer in a new 64 bit based computer. it simply won’t work.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s