uncategorized

KAtS sewaktu SMA kelas 1. iseng baca mading di masjid, nemu tulisan tentang pacaran. artikelnya gedhe. panjang. ceritanya muter-muter. dan tentu saja yang nulis anak keputrian. ada cerita tentang gadhul bashar, zina mata, zina hati, tapi jika dikembalikan ke topiknya tentang pacaran, lalu disimpulkan, jadinya “pacaran itu mendekati zina, makanya dilarang”.

lalu, dalam sebuah forum diskusi, kebetulan topiknya sama. pacaran. KAtS bingung dengan argumen yang dibangun anak keputrian. lalu tiba-tiba pengen nakal sedikit. ikutan masuk koalisi ‘kecil’ (sebut saja tim kucing) yang kebetulan mengkonter argumen anak keputrian. argumen kontra koalisi kecil kami kurang lebih seperti ini.

klo lihat dari literatur Quran maupun hadist versi manapun gak ada kata ‘pacaran’. pengambilan hukum pacaran gak bisa langsung. minimal harus diqiyaskan. kasusnya nanti seperti bir. secara substansi dia berbeda dari khamr. tapi karena kemiripan sifatnya dia diqiyaskan dengan khamr. karenanya, hukumnya jadi haram. lalu karena ini qiyas, maka metode pengambilan qiyasnya gak bisa sembarangan. untuk kasus khamr ada dua pendapat mayoritas tentang qiyasnya. tapi nanti kesimpulan akhirnya sama. untuk qiyas yang pertama, mengambil ilat sifat khamr yang memabukkan. untuk qiyas yang kedua, mengambil ilat adanya alkohol dalam khamr. to be concluded, khamr haram. sekarang kita tinjau untuk kasus pacaran. ilat apa yang dipakai untuk mengqiyaskan pacaran dengan perbuatan mendekati zina?

lalu, apa definisi pacaran? pengambilan hukum untuk hal-hal yang tidak disebutkan secara definitif di alquran setidaknya harus memiliki definisi yang jelas. klo untuk kasus bir, definisinya jelas. bir ya benda itu. klo definisinya melenceng, maka pengambilan hukumnya cacat. untuk contoh, rootbeer. meskipun namanya sama-sama bir, tapi bahannya akar tanaman. rasanya pahit-pahit manis dan tidak mengandung alkohol. karenanya, menggunakan qiyas bir untu rootbeer secara kaidah fiqih tidak bisa dibenarkan…singkatnya, obyek yang akan dihukumi harus memiliki definisi yang jelas. klo tidak, maka pengambilan hukumnya cacat.

argumen pertama, ilat yang digunakan untuk mengqiyaskan pacaran dengan perbuatan mendekati zina lemah dan dalam banyak diskusi bisa dibantah dengan mudah. kalaupun ilatnya adalah karena pacaran mendekati zina, maka argumen kontranya sederhana, “yasudah…pacarannya gak usah deket-deket sama yang zina-zina.” dengan demikian ilatnya runtuh dan hukum ‘haram’ pacaran menjadi tidak berlaku lagi.

argumen kedua, tidak ada definisi yang berlaku secara umum untuk ‘pacaran’. dengan demikian, pengambilan qiyas atas pacaran secara kaidah, cacat hukum.

……

lalu diskusi pun mengalir. anak keputrian membalas dengan argumen, “mengapa harus pacaran? kan nggak ada gunanya?”. dijawab oleh tim kucing, “apa iya nggak ada gunanya? kan pacaran itu bisa bla bla bla…(nyebutin aspek positif pacaran)”. “itu kan menurut kamu, klo menurut saya pacaran itu gak ada gunanya”. dijawab, “klo kamu make argumen seperti itu ya sudah…jangan pacaran. tapi kamu gak berhak melarang orang lain pacaran kan?”

tim kucing mulai cekikikan.

salah satu anggota tim keputrian berdiri. kali ini langsung ketua keputrian.
“pacaran itu gak boleh dalam islam, kamu kan udah tahu tentang gadhul bashar, zina hati, bla bla bla (menjelaskan panjang lebar berapi-api)”
“ya sudah, klo pacarannya gak pake itu itu itu berarti boleh kan?”
“emang bisa? bla bla bla (menjelaskan panjang lebar berapi-api). bahkan untuk berbicara dengan perempuan pun anak cowok harus hati-hati. ingat hadist dari bla bla bla (nyebutin perawi hadist, kitab, halaman, matan dalam bahasa arab) yang secara singkat mengatakan bahwa suara perempuan itu aurat. bla bla bla…”

sejenak diam, lalu salah satu anggota tim kucing nyeletuk, “katanya suara cewek itu aurat, tapi kok kamu nyerocos mulu dari tadi?”. si mbak ketua keputrian memerah. diam. tim kucing pun bersorak dalam hati. HURRAAAYYYY….
sebelum ada yang tanya-tanya, KAtS luruskan dulu. pertama, KAtS meyakini bahwa hukum-hukum islam harus ditegakkan diatas dalil-dalil Quran dan Hadist yang kuat. ini demi tegakknya izzah Islam itu sendiri. klo argumennya lemah, seakan tampak dimata manusia hukum Tuhan itu bisa dinego, ditawar, atau malah dibuat sendiri. maka ketika sebuah hukum ditetapkan, dalil-dalil dan metode pengambilan hukumnya harus kuat. untuk kasus pacaran, KAtS tidak sepakat jika diharamkan. mengapa tidak bilang saja dengan jelas klo islam tidak melarang pacaran. yang dilarang itu, zina, mendekati zina, tidak gadhul bashar, de el el. klo ditanya mengapa, dalilnya jelas, dan dapat dipastikan rajih. klo ditinjau dari segi pedagogik, cara seperti itu juga lebih mendidik. sebagaimana Quran yang tidak serta merta melarang khmar, Quran memberikan alasan-alasan kuat bagi setiap muslim untuk menjauhinya. dalam kasus pacaran, kita bisa memberikan argumen-argumen qauliyah yang ada di Quran dan Hadist. klo tidak cukup, boleh diawali dan ditambahi argumen-argumen rasional yang memadai.

kedua, KAtS tidak sepakat dengan haramnya pacaran bukan berarti KAtS bakal pacaran. sama halnya dengan Islam yang membolehkan poligami, bukan berarti orang yang sepakat dengan poligami pasti istrinya lebih dari satu kan? ada hal-hal lain yang jauh lebih menyenangkan. makanya KAtS tidak mau pacaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s