uncategorized

by request

Untuk kesekian kalinya, saya diminta untuk menceritakan bagaimana saya bisa (kembali) memeluk islam. Saya pikir pertanyaan ini akan terus-menerus diulang, dan saya tidak bisa selamanya menghindar. Pada masanya, saya harus menghadapi pertanyaan ini dengan duduk tenang, menarik nafas sejenak lalu mulai berkisah.

Saya akan memulai dengan mengatakan bahwa setiap orang memiliki kisah yang berbeda tentang bagaimana ia menemukan dan mengenal Tuhannya. Untuk KAtS kecil, segala sesuatu yang ia percayai tentang Tuhan adalah sebuah bentuk ideal sempurna. Sebuah gambaran tentang Tuhan khas platonik. Tuhan adalah sebuah entitas sempurna. Tanpa cacat. Tak terbatas.

Tapi persepsi semaca ini adalah persepsi yang rapuh jika ditemukan pada anak-anak. Tanpa nalar yang mumpuni, kebenaran atas kesempurnaan Tuhan tidak akan teruji jika dihadapkan pada fenomena paradoksial tentang Tuhan. Untuk beberapa anak, doktrin seputar agama dan Tuhan menghentikan keraguan mereka tentang Tuhan. Tapi untuk KAtS kecil, metode semacam ini tidak berhasil karena ia menginginkan penjelasan-penjelasan logis, bukan sekedar doktrin-doktrin yang dihafalkan. Dengan nalar yang terbatas, KAtS kecil tidak mampu menjawab fakta-fakta paradoksial tentang Tuhan lalu perlahan mulai ragu dengan “kesempurnaan” Tuhan yang dikenalnya.

Kondisi ini lalu diperburuk dengan kondisi sosial pada tahun-tahun itu yang sulit. Era tahun 1990 hingga 1998 adalah masa-masa yang penuh gejolak dan konflik dalam lingkup yang luas. Kondisi dalam negeri buruk. Korupsi dan tindak kejahatan dengan mudah dapat ditemukan setiap saat di televisi dan koran. Krisis ekonomi. Lalu konflik internasional. Intifadah. Konflik israel-palestine. Perang bosnia. Rangkaian peristiwa-peristiwa ini adalah fenomena paradoksial yang harus KAtS kecil jawab untuk membuktikan bahwa Tuhannya adalah sempurna. Maha Kasih. Maha Adil. Pemurah. Dan penuh cinta.

KAtS kecil gagal menemukan penjelasan logis. Lalu frustasi dan jatuh pada kekecewaan besar pada Tuhan. Marah. Pada satu titik KAtS kecil ingin mencari Tuhan lain. Diam-diam mempelajari kitab-kitab dan ajaran agama lain. Tapi ia menemukan bahwa Tuhan hanya ada satu. Tidak ada tuhan yang lain. Hanya ada Dia yang KAtS kecil anggap tidak mampu menjawab konflik-konflik sosial yang ada di sekitarnya pada masa itu. Ketika ketidakpuasan atas kondisi sosial menumpuk dan tak terjawab, rasa ketidakpuasan itu beralih pada Tuhan yang mengijinkan kondisi-kondisi sosial buruk itu terjadi dan seolah tanpa memberikan solusi apapun. KAtS kecil lalu berkembang menjadikan posisi dirinya vis-a-vis opositif melawan Tuhan.

Tapi KAtS kecil…ya kecil. Umur belum 12, tinggi kurang dari 140 dan berat gak pernah lebih 27 kilo. Gampang sakit, dan sama sekali gak jago olahraga. Melawan Tuhan? KAtS kecil tahu kuasa Tuhan jauh lebih dari cukup untuk membuatnya berubah jadi kucing. Lalu menendangnya jauh-jauh dari bumi. Maka KAtS kecil pun melawan Tuhan dengan terus menerus “protes”. Menunjukkan padanya bahwa Dia harus segera bertindak, atau kadang memboikotNya. Berikrar tidak akan sujud padaNya sampai dia mengambil tindakan. Sesekali memancing dengan cemooh, meskipun tampaknya Tuhan sama sekali tidak terlalu terpengaruh seberapapun capek KAtS kecil mencaci. Setidaknya, Tuhan tampaknya tidak marah dengan cara protes KAtS kecil. Dan KAtS kecil masih KAtS kecil. Tidak diubah oleh Tuhan yang marah menjadi kucing.

Sampai akhirnya…KAtS kecil bertemu seseorang. Its a girl. And its a kind of romantic story. Teman sekelas. Pecinta kucing. Suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan jepang dan anime. Katakan saja ini bagian dari takdir Tuhan. KAtS kecil dengan cepat akrab dengan gadis kecil. Katakan juga ini bagian dari takdir Tuhan. Gadis kecil punya karakter yang sangat berbeda dengan KAtS kecil. KAtS kecil yang introvert dan misterius. Lalu gadis kecil yang ekstrovert dan sangat sanguinis. Dua karakter yang berbeda. Tapi, ya. Ini takdir. Kucing gak boleh protes.

Singkat cerita KAtS kecil dan gadis kecil bersahabat baik. Punya genk kecil isi enam orang. Lalu…ya udah. Gitu aja. KAtS kecil waktu itu masih memegang sumpah tidak akan menikah sampai kapanpun. Hingga pada suatu hari. Pada sebuah sore yang cantik. Kala ketika KAtS kecil duduk di beranda. Mengayunkan kaki menghentak. Bersiul ringan, mencandai angin menggoyang ujung-ujung dedaunan. Membuatnya menari riang. Lalu rerumputan pun riuh. Angin berdesau di sela ilalang ricuh berbisik. KAtS kecil sedang jatuh cinta. Burung-burung pun berkicau riuh.

…….

Baiklah, bagian terakhir itu tadi bohong. Kejadiaannya memang sore. Tapi gak ada adegan KAtS kecil duduk-duduk di beranda. Rerumputan dan angin? Ah itu biar ada efek dramatis aja. Dan burung gak mungkin berkicau sore-sore kan…singkat cerita KAtS kecil dan gadis kecil bersahabat baik. KAtS lalu menemukan bahwa gadis kecil sangat mencintai Tuhan. Singkat cerita KAtS kecil cemburu. Rangkaian protes berakhir.

KAtS kecil tidak bisa menerima fakta sederhana bahwa gadis kecil mencintai Tuhan. Dalam persepsi dunia idealnya, KAtS mencintai Tuhan. Sikap protes dan oposisinya terhadap tuhan dijelaskan dalam sebuah teori apologetik sebagai sebuah bentuk kecintaan terhadap kesempurnaan Tuhan. Keinginan KAtS kecil untuk menghilangkan kesengsaraan, ketidakadilan, kemiskinan dari bumi adalah karena KAtS ingin menghadirkan kesempurnaan Tuhan di bumi. KAtS kecil…ya kecil. Umur belum 14, tinggi kurang dari 145 dan berat gak pernah lebih 30 kilo. Gampang sakit, dan sama sekali gak jago olahraga. KAtS kecil lemah. Tapi Tuhan Maha Kuasa. Maka Tuhan-lah yang harus menghilangkan semua kesengsaraan, ketidakadilan dari bumi.

Tapi seberapapun teori apologetik KAtS kecil terdengar dan terlihat sangat logis tidak mampu menegasikan fakta “gadis kecil mencintai Tuhan”. Menunjukkan dengan jelas betapa teori apologetik KAtS kecil tidak relevan untuk kasus-kasus aktual di dunia nyata. Dan pastinya, KAtS kecil cemburu. Semua teori apologetik pada dasarnya bersifat egosentris, membuat setiap orang yang memakainya merasa paling benar. Dala kasus ini, teori apologetiknya mebuat KAtS kecil merasa dirinya yang paling mencintai Tuhan. Keruntuhan teori ini berarti, ada orang-orang lain di luar sana yang lebih mencintai Tuhan. Dan mereka mampu mencintaiNya dengan tulus.

See….I’ve told you that its a romantic story. Haven’t I?

Di akhir potongan kisah ini, KAtS kecil yang cemburu bertekad untuk mencintai Tuhan lebih dari siapapun yang KAtS kecil kenal. Mulai shalat. Serius belajar ngaji. Lalu pada suatu malam, tiba-tiba KAtS kecil bangun. Lalu entah mengapa, KAtS kecil ingin shalat malam. Dan di tengah-tengah shalat malam, KAtS kecil seakan merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat. Melingkupi seluruh tubuh KAtS kecil dengan nur yang cantik. Melembutkan hatinya, lalu memberinya semua penjelasan yang KAtS kecil butuhkan.

Tapi KAtS kecil…ya kecil. Baru mau masuk SMA. Tubuh cuma setinggi 145 senti. Kurus. Melawan dunia? Bisa saja. Tapi KAtS kecil harus bertransformasi. Sebut saja metamorfosis. Gadis kecil adalah guru metamorfosis yang pertama. Setelah itu ada dua guru metamorfosis yang lain. Aneh. Semuanya cewek. Tapi, ya. Ini kan takdir. Kucing gak boleh protes!

He may not the most humoriest person you ever know. But He always succed ini making you smile happily in the end of story. Isn’t He?

Iklan

8 tanggapan untuk “by request”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s