uncategorized

argumen tentang kesederhanaan

Ah, kawan kita, si Plato yang malang. Tidak akan berdaya jika harus beradu retorika berhadapan dengan tokoh sophis manapun. Maka ketika suatu hari, ketika seorang tokoh sophis mendatanginya dan berdebat tentang Tuhan, Plato hanya memberikan jawaban-jawaban pendek sekenanya. Menanggapinya tampak seolah malas.

Maka si tokoh sophis pun makin bersemangat menyerang dengan deret-deret retorika yang ampuh. Menunjukkan dengan analisis yang sangat tajam betapa ia tidak mampu menemukan sosok Tuhan dimanapun ia mencarinya. Ia berteriak keras. Memanggil-manggil Tuhan. Menunjukkan pada khalayak ramai betapa Tuhan yang dipercaya Plato seakan tidak pernah mendengar satupun seruannya. Dan Plato pun tampak semakin terpojok. Hanya mampu memberikan jawaban-jawaban yang semakin pendek dan tampak seadanya.

Hingga Plato terdiam tanpa membalas sedikitpun.

Maka si tokoh sophis pun tertawa penuh kemenangan. Berkacak pinggang dengan bangga karena mengalahkan kawan kita tanpa perlawanan berarti. De facto. Hari ini Plato dan Tuhannya telah dikalahkan oleh kaum sophis, pikirnya.

Pada akhir diskusi, Plato bertanya pada si tokoh sophis. “Apakah kamu tidak percaya Tuhan?”. Maka si tokoh sophis pun menjawab angkuh, “untuk apa saya mempercayai sesuatu yang tidak ada?”. “Hidup jauh lebih menyenangkan jika penuh dengan kebebasan. Tuhan tidak pernah ada, dan aturan-aturan yang kalian sebut agama hanya imajinasi kalian para manusia yang tidak mengerti arti kebebasan.”, lanjutnya dengan bersemangat.

 “itu sih…Terserah kamu mau percaya pada tuhan. Saya tidak tahu, dan sepertinya juga tidak mau peduli. Hanya saja, saya memilih untuk percaya dengan Tuhan.”, jawab Plato dengan santai. “Orang bodoh saja punya argumen bodoh untuk percaya Tuhan. Kalaupun Tuhan tidak benar-benar ada, dengan menjalankan ajaran-ajaran agama, toh ia tidak rugi sedikitpun. Ajaran agama toh pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tapi masalahnya, jika Tuhan benar-benar ada, Tuhan akan sangat murka jika ia menyalahi ajaran-ajaran Tuhan. Dia akan membakar dan menyiksa orang itu terus menerus dalam neraka.”

Si tokoh sophis pun terdiam.

“kamu bukan orang bodoh kan?”

Plato pun pergi dengan senyum kemenangan.

========

Dan tentu saja, argumen bodoh itu hanya berlaku untuk ‘orang bodoh’ dari yang paling bodoh. Setiap orang yang berakal harusnya memiliki alasan lebih dari sekedar ‘argumen bodoh plato untuk orang bodoh yang tidak percaya Tuhan’.

Dengan tulisan ini, saya ingin mengatakan betapa ‘sederhana’ adalah kata yang menyenangkan. Tokoh Plato yang seringkali muncul dalam imaji kita sebagai sosok yang rumit. Kompleks. Tidak terdefinisikan. Pada kenyataannya adalah tokoh dengan pola pikir yang sangat ‘sederhana’. Sama sekali tidak rumit, dan jauh dari kompleksitas yang selama ini kita bayangkan.

Apapun yang ia hasilkan dari pemikirannya, entah itu filsafat, geometri, ataupun matematika, berasal dari sebuah ke’sederhana’an metode berpikir. Pada dunia, ia memperkenalkan bentuk geometri sederhana. Lingkaran, segitiga, segiempat, segilima, bentuk-bentuk yang sangat murni. Sebuah pe’nyederhana’an dari segala bentuk yang kita temukan di sekitar kita. Sebuah simplifikasi.

Metode platonik yang saya bahas dalam tulisan sebelumnya pun, muncul dari sebuah ke’sederhana’an berpikir yang sama. Semua hasil pemikirannya, dalam semua bidang, pada hakikatnya menunjukkan bagaimana sebenarnya Plato berpikir dengan sangat ‘sederhana’.

Kita namakan saja ke’sederhana’an berpikir ini dengan ‘bahasa logika’. Sebuah bahasa yang hanya mengenal hitam putih. Mengacuhkan semua macam dan bentuk ke’samar’an, dan ker’rancu’an yang ada di bumi. Memindahkan semua hal, hanya pada salah satu dari dua dimensi ke’sederhana’an, benar dan salah, lalu membuang sisanya.

Bahasa logika adalah bahasa pengetahuan. Bahasa yang sama, yang digunakan ratusan tokoh. Ribuan pemikir lainnya dalam menghasilkan karya-karya besar yang mengubah dunia. Dalam perspektif lainnya, kita menamakannya bahasa kebenaran. Dan Dalam perspektif agama, bahasa logika adalah bahasa ketauhidan. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan menafikan segala sesuatu selainnya.

Tapi sebagaimana bahasa logika bisa memanifestasikan dirinya dalam berbagai nama, bahasa logika dengan semua hal yang menjadikannya ‘sederhana’ adalah kerumitan itu sendiri. Tidak pernah mudah menjadikan sesuatu yang tertulis dalam ‘bahasa logika’ dijelaskan kembali dalam ‘bahasa bumi’ yang mengenal ‘samar’ dan ‘rancu’. Maka kita menemukan betapa keadilan dan kebenaran tidak pernah semudah yang terlihat untuk ditegakkan. Demikian pula akidah ketuhanan, hampir tidak pernah ditemukan dalam bentuk sempurnanya di bumi.

Menjadikannya sebuah kenyataan pahit, hampir semua hal yang tertulis dalam bahasa logika sebagai sebuah entitas yang paling murni, mengalami transformasi sedemikian jauh ketika ia dituliskan kembali dalam ‘bahasa bumi’. Maka kita dapati pemikiran-pemikiran kawan kita Plato dikenal menjadi sebuah pemikiran yang sangat kompleks dan rumit. Demikian pula kita akan mendapat sifat Tuhan yang Maha Kasih kadang termanifestasi dalam tindakan tindakan keji. Serangkaian penyiksaan, pemerkosaan, genosida, dan parade pembunuhan yang tak mengenal manusiawi. Semua hal tersebut terjadi ketika entitas ‘bahasa logika’ bertransformasi dengan cara yang tidak semestinya.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan betapa tingginya urgensitas menerjemahkan semua hal yang tertulis dalam bahasa logika ke dalam bahasa bumi dengan cara yang tepat. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki kemampuan ini. Sebagaimana hanya beberapa orang yang mampu menangkap ke’sederhana’an pikir Plato, maka hanya segelintir pula orang-orang yang mampu menerjemahkan ajaran-ajaran Tuhan dengan semestinya.

Sampai disini, kita mungkin akan berpikir tentang kompleksitas. Kerumitan dalam menerjemahkan semua hal yang tertulis dalam ‘bahasa logika’.

Meskipun demikian, dengan semua ‘keadilan’ yang ada pada Tuhan, dibalik tingginya urgensitasnya, Ia menjadikan kemampuan menerjemahkan ‘bahasa logika’ sebagai sebuah hal yang sederhana. Kuncinya, adalah mengembalikan ‘bahasa logika’ kepada bahasa yang paling sederhana, tentang akidah ketuhanan. Setiap orang yang memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ‘bahasa logika’ ke dalam ‘bahasa bumi’ adalah orang-orang yang memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Tuhan. Maka jangan heran banyak Ilmuwan pada masa kini dan dahulu yang sekaligus menjadi sosok yang sangat religius. Hadist yang berbunyi, “man yuridullahu khairan, yufaqqihhu fiddin”, sepertinya sangat tepat untuk menjelaskan fenomena ini.

Saya ingin menjelaskan bagaimana otoritas Tuhan atas hidayah sangat berperan dalam hal ini. Akhir-akhir ini saya sering berpikir tentang buku-buku yang saya baca, diskusi-diskusi yang saya ikuti, dan bagaimana pikiran saya terbentuk olehnya. Saya banyak membaca buku yang banyak kawan saya menyebutnya ‘buku ekstrem’. Ajaran-ajaran ‘kiri’ yang banyak dijauhi orang. Juga pemikiran-pemikiran ‘radikal’ dan ‘revolusioner’ yang membuat banyak orang bergidik hanya karena namanya. Ajaibnya, saya tak lantas menjadi Marx yang ‘membunuh’ Tuhan dalam hatinya. Ilmu-ilmu filsafat dan tasawuf yang saya pelajari juga tak lantas membuat saya berteriak ‘tuhan telah mati’, atau malah berpikir tentang ‘menyatu’ dengan Tuhan.

Singkat kata, semua yang saya pelajari lebih dari sekedar cukup untuk membuat saya menjadi sosok yang mengerikan. Bisa saja saya menjadi seorang psikopat yang membunuh banyak orang. Menjadi tokoh dibalik genosida. Atau bahkan menghabisi semua manusia dengan dalil agama. Tapi disinilah otoritas Tuhan atas hidayah bekerja dan membuat saya menjadi sosok yang kawan-kawan saat ini kenal.

Hal yang sama terjadi pada semua orang. Tokoh tokoh, para pemikir luar biasa yang kita kenal kini, dulu, atau juga yang dunia akan kenal nantinya. Kita. Dibalik semua kerumitan yang tertampak padaNya, entitas Tuhan adalah keberadaan paling murni dan paling sederhana. Jika kita ingin mendapatkan otoritas untuk menerjemahkan ke’sederhana’anNya dalam bahasa bumi, maka pertanyaan yang harus kita jawab pada setiap diri kita adalah….sudah pantaskah kita melakukannya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s