uncategorized

tentang plato

Plato. Siapa sih yang tidak kenal Plato? Seorang pemikir, ilmuwan, filsuf, dan dalam beberapa perspektif, seorang rohaniawan. Dari buku yang kita baca, atau setidaknya, dari cerita orang, kita akan tahu bahwa plato berasal dari yunani. Maka ketika kita mengimajikan plato, yang terbayang adalah sosok laki-laki yang gagah, kekar berotot, dan tampan. Dan sebagai seorang pemikir, filsuf yang terkenal, kita mungkin membayangkan sosoknya pandai berpidato, dan menawan ketika harus berbicara di depan banyak orang.

Tapi yang tidak banyak orang ketahui adalah, bahwa plato, pada kenyataannya sangat jauh dari sosok yang seperti itu. Sejarah mencatatnya sebagai laki-laki yang pendek, gemuk, dengan wajah yang terdengar ironis jika dikatakan tampan. Dikatakan pula, suaranya sengau, melengking tinggi, dan sama sekali tidak menarik untuk lama lama didengarkan. Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang aneh, dan ia sangat dibenci kaum sophis yang menjadi golongan elit pada masa itu.

Pada masa itu, masyarakat yunani bisa dibagi dalam dua kelompok. Satu kelompok, golongan konservatif yang mengenal banyak tuhan. Satu lagi, golongan radikal yang memilih tidak percaya tuhan sama sekali. Golongan pertama diwakili oleh masyarakat kebanyakan, aristokrat, dan tentu saja, para pemuka agama. Golongan kedua, diwakili oleh oleh kaum sophis. Para pemikir, para filsuf, orang-orang dengan kemampuan berbicara, diplomasi, logika, dan dialektika diatas rata-rata.

Celakanya, orang-orang yang terakhir ini, lebih banyak menggunakan kemampuan berlogika dan berdialektika mereka untuk menyesatkan banyak orang. Slogan mereka, “kebenaran hari ini bukanlah kebenaran di hari esok”. Dengan kemampuan mereka berdebat dan membangun argumen, mereka mempengaruhi banyak orang untuk meninggalkan tuhan dan untuk berbuat hal-hal yang merugikan banyak orang. Dari merekalah kita mengenal materialisme yang mengarah pada menafikan keberadaan tuhan, dan hedonisme yang mengajarkan hidup hanya untuk bersenang-senang.

Dari sekian banyak orang yang melawan pemikiran kaum sophis, plato adalah salah satu diantaranya. Metode yang ia gunakan bisa dikatakan sangat unik. Ia tidak melawan dengan khotbah ataupun adu debat panjang lebar. Mungkin, karena memang ia sadar ia bukan tandingan kaum sophis dalam dua hal itu. Maka, ia melawan kaum sophis dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Setelah mendapatkan jawaban, maka ia akan mengajukan pertanyaan lagi. Demikian, ia terus-menerus mengulangnya hingga lawan bicara bingung dan orang-orang di sekitar tersadar mereka sedang ‘disesatkan’ oleh kaum sophis.
Metodenya sederhana, Tapi terbukti sangat efektif. Ia pun terkenal dan mempunyai beberapa murid yang belajar langsung darinya. Dan tentu saja, dengan cepat pula ia dibenci kaum sophis dan perlahan-lahan dianggap sebagai musuh yang harus segera disingkirkan.

Selanjutnya, plato mendapat pengaruh yang cukup kuat di masyarakat. Setelah satu per satu tokoh sophis tumbang di hadapan plato, ia mulai mendapat banyak murid dan pengikut. Celakanya, plato adalah orang yang ‘nyeleneh’ dalam beragama. Di tengah masyarakat yunani yang mengenal zeus, hades, dan ratusan dewa lain sebagai tuhannya, plato hanya mengakui keberadaan satu tuhan dan tidak mau mengakui tuhan-tuhan lainnya. Orang-orang sophis memanfaatkan hal ini. Menghasut pemerintah yang berkuasa, mengatakan pada mereka bahwa suatu saat plato dan para pengikutnya akan menumbangkan mereka dari tahta kekuasaan mereka.

Singkat cerita, pemerintah terhasut. Plato ditangkap. Dilempar ke penjara. Ia mati. Diracun.

=====

Ketika membaca cerita ini, dari sebuah buku yang ditulis bung Hatta, beberapa persepsi saya tentang diri plato banyak berubah. Sampai pada suatu titik, saya menganggapnya orang suci. Atau setidaknya, orang yang diberi hidayah hingga menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Anda boleh mendebatnya. Sungguh. Toh itupun hanya pendapat saya. Sesuatu yang terlintas di pikiran setelah membaca kisahnya. Dan sungguh, tidak ada bukti otentik yang menyatakan bahwa ia adalah wali Tuhan. Apalagi seorang nabi. Jika memang tidak sepakat, anda bisa mendatangi saya, dan mari kita berdiskusi tentang itu.

Sayangnya, tulisan ini tidak sedang membahas kebenaran apakah plato itu nabi atau bukan. Saya hanya sekedar ingin bercerita tentang seseorang bernama plato yang pernah hidup di masa lalu. Kebetulan, saya memiliki cara berpikir kurang lebih sama. Kritis. Anda boleh menambahkan kata ‘sangat’ jika perlu. Kami berdua memiliki cara berpikir yang membuat kami dikenal tak segan untuk mempertanyakan semua hal.

Harus diakui bahwa cara berpikir seperti itu sering menempatkan kami dalam posisi yang tidak menyenangkan. Lihat saja, plato dibunuh. Dan saya sering dicap ‘pembunuh’ dalam sesi debat dan diskusi. Meskipun demikian, bagi orang-orang seperti kami rasa kepuasan dari sebuah ‘ketahuan’ yang diperoleh dari jawaban sebuah pertanyaan selalu terasa lebih manis dibanding semua resiko yang harus kami terima. Dalam banyak kasus, kadang pertanyaan yang diajukan dinilai banyak orang tidak relevan. Pertama, karena membicarakan hal hal yang menjadi kewenangan Tuhan sehingga tidak pantas untuk dipertanyakan. Kedua, hal yang ditanyakan bersifat aksiomatik atau sebuah konvensi umum. Meskipun demikian, dengan ‘bertanya’, kami akan mendapat banyak ‘ketahuan’ baru. Banyak hal baru dan menarik yang bisa kami dapatkan dari setiap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.

Saya harus tekankan bahwa urgensi berpikir kritis tidak hanya tentang rasa puas dari memperoleh sebuah ‘ketahuan’. Metode ‘bertanya’ yang dilakukan plato untuk melawan kaum sophis mengilustrasikan urgensi kedua dari ketiga urgensi berpikir kritis. Dalam kasus plato, berpikir kritis ia gunakan untuk menguji kevalidan dari sebuah kebenaran. Kebenaran dalam cara pandang ‘berpikir kritis’ tidak akan tergoyahkan dengan semua argumen yang dilempar dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Untuk itulah, untuk membuktikan ‘kesesatan pikir’ kaum sophis, ia mengajukan pertanyaan pertanyaan kepada mereka. Hal ini semata-mata untuk menunjukkan kepada orang-orang di sekitar bahwa apa yang kaum sophis pada hakikatnya adalah kebohongan yang dilebih-lebihkan dan dihias dengan seni dialektika.

Dengan menggunakan premis yang sama, saya memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan kembali semua hal yang diklaim sebagai ‘kebenaran’. Kecenderungan ini akan bertambah besar jika ‘kebenaran’ yang diklaim itu mengusik ‘kebenaran’ atas ‘ketahuan’ yang kami miliki. Pada banyak situasi, orang-orang yang berpikir kritis semacam ini akan dinilai sebagai sosok yang ‘ngeyelan’ dan tidak mau kalah. Tapi dibalik stigma negatif itu, yang kami inginkan hanyalah sebuah ‘ketahuan’ dengan validitas yang tinggi. Jika memang terbukti salah, kami tidak akan segan untuk membuang ‘ketahuan’ yang kami miliki dan menggantinya dengan yang baru.

Selanjutnya, urgensi ketiga dari berpikir kritis adalah untuk mengajar dan menyadarkan orang. Plato hampir tidak pernah memberikan ceramah kepada murid dan para pengikutnya. Untuk mengajarkan apa yang ia ketahui, ia akan mengajukan pertanyaan pertanyaan dan membiarkan murid-muridnya mencari jawabannya sendiri. Sejarah mencatat bahwa plato sangat konsisten dengan metode mengajarnya. Meskipun demikian, metode belajar ini tak lepas dari banyak kritik. Hal ini terutama terkait dengan perbedaan kemampuan kognitif pada setiap orang. Intinya, tidak setiap orang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan plato. Kalaupun mampu, jawaban yang diperoleh belum tentu tepat seperti yang diinginkan. Dalam banyak kasus, transfer pengetahuan dari guru ke murid gagal terjadi karena murid tidak mampu menjawab pertanyaan dengan tepat.

Beberapa pengikut plato menyempurnakan metode mengajar plato. Aristoteles, salah satunya, menambahkan dengan memberi ceramah-ceramah klasikal kepada muridnya. Hal ini akan menyelesaikan permasalahan dari cara mengajar plato seperti yang telah dijelaskan di atas. Meskipun demikian, salah satu yang sangat saya sukai adalah kepraktisannya. Mengajukan pertanyaan tentu saja lebih mudah dan cepat jika dibandingkan harus menjelaskan panjang lebar. Dalam banyak kasus yang saya temukan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya pada dasarnya sudah diketahui oleh sang penanya. Hanya saja, kadang sang penanya ragu dengan jawabannya atau malas untuk menggali. Maka, saya seringkali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung. Melainkan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang secara otomatis menjawab pertanyaan si penanya itu sendiri. Bagi saya, cara ini lebih praktis. Bagaimana menurut anda?

Iklan

4 tanggapan untuk “tentang plato”

  1. klo untuk presentasi…metode yang digunakan mungkin agak sedikit berbeda. lebih sederhana. kamu pernah baca buku buku “kiri” gak ta? pernah denger tentang “kesadaran palsu”?

  2. pertama..penggunaan metodenya kan udah jelas. Dan presentasi g tercantum d dalamnya. Justru berlakunya klo jadi penonton. Opo trik yg kamu maksud kbalik sama tulisan sebelumnya?yg ttg menipu n menyamar?klo yg itu bisa u presentasi…

    Kedua…berarti kamu blm baca ttg ‘false consciousness’. Padahal seru klo paham (haha)

    ketiga…skripsinya belum jadi inih (cry) >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s