uncategorized

‘menyamar’ dan ‘menipu’

Sebuah organisasi mahasiswa, pada suatu hari mengundang saya untuk mengundang saya dalam sebuah diskusi. Sebenarnya sih, sebuah training. Kebetulan, saya pernah aktif di organisasi tersebut. Dan untuk alasan yang tidak saya ketahui sepenuhnya, saya didaulat untuk mengisi sebuah sesi dalam training tersebut. Sesinya bertajuk “Peran Strategis Lembaga dalam dakwah siyasi di UGM”. Terdengar berat. Tapi panitia mengemas bentuknya dalam sebuah diskusi panel. Menghadirkan beberapa orang yang pernah aktif dalam ‘dakwah siyasi’ di UGM. Kebetulan juga, saya salah satu diantaranya.

Yang membuat saya sedikit minder, ternyata peserta training kali ini banyak. Jauh melebihi ekspektasi saya. Dan celakanya lagi, saya disandingkan dengan tokoh dengan kaliber jauh di atas saya. Mantan ketua BEM. Sekarang ketua KAMMI komisariat UGM. Bahkan dilihat sekilas pun, style saya kalah kelas. Dibandingkan kawan saya yang datang dengan kemeja dan celana kain yang disetrika rapi, saya datang dengan celana jins dan kaos. Itupun warnanya sudah luntur dan terlihat agak kusam. Sialnya, catatan materi yang akan saya sampaikan terselip entah dimana dan sepertinya menolak saya temukan. Maka saya pun membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat saya diundang sebagai salah satu pembicara dalam diskusi ini?”

Saya katakan, yang membuat saya hadir dalam diskusi tersebut sepertinya bukan pengalaman, ataupun kapasitas saya dalam dunia ‘dakwah siyasi’. Secara historis, saya tidak dibesarkan dalam ranah ‘dakwah siyasi’. Sebaliknya, saya besar dan tumbuh dalam nuansa ‘daawy’ yang cukup kental. Pernah aktif sebagai anggota SKI di SMA, maka pada awal kuliah, saya pun dikenal sebagai anak rohis. Meskipun secara administratif pernah tercatat sebagai staf BEM dan kader KAMMI, saya lebih banyak menghabiskan waktu aktif di SKI dan cenderung menganggap aktivitas organisasi di tempat lain sekedar sambilan atau iseng-iseng menghabiskan waktu.

Lucunya, apa yang membuat saya aktif di dunia ‘dakwah siyasi’ UGM justru sering saya sebut sebagai ‘kecelakaan sejarah’. Ketika amanah di SKI baru saja selesai, sebuah partai mahasiswa di UGM (sebut saja partai bulet) baru saja menang pemira, dan menyisakan sebuah kursi kosong di DPM. Kebetulan, salah seorang kakak angkatan adalah pengurus di partai tersebut. Saya pun ditunjuk untuk mengisi kursi kosong tersebut. Lalu, karena saya sedang tidak ada amanah, dan dijanjikan mendapat bimbingan selama di DPM, saya menerima tawaran tersebut.

Yang tidak saya ketahui, ternyata kondisi perpolitikan mahasiswa pada waktu itu  sedang panas-panasnya. Partai bulet selama bertahun tahun menguasai suara mayoritas di DPM, dan hampir selalu menang dalam pemilihan presiden BEM. Hal ini menimbulkan sentimen ketidaksukaan di beberapa partai mahasiswa lain. Pada akhirnya, partai partai ini kemudian membentuk sebuah aliansi untuk ‘menggulingkan’ partai bulet. Konflik demi konflik pun muncul. Perdebatan dan adu argumentasi pun menjadi sebuah rutinitas, menjadikan saya sebagai salah satu ‘aktor’ yang harus bertahan di dalamnya.

Pada awalnya, jujur saya katakan bahwa saya merasa tidak nyaman dengan situasi yang saya hadapi. Ada jurang besar yang harus saya hadapi ketika saya menjadi anggota DPM. Pertama, saya harus membiasakan diri dengan kultur yang sangat jauh berbeda dengan yang sebelumnya saya hadapi. Nuansa SKI yang sedemikian ‘tenang’, harus diganti dengan nuansa DPM yang sedemikian ricuh. Penuh dengan tak hanya debat dan adu argumentasi, tapi juga caci dan luapan kemarahan yang seakan menjadi rutinitas pertemuan setiap hari.

Kedua, saya harus mengejar kapasitas keilmuan dan skill yang besar. Seorang legislator dituntut untuk menguasai pengetahuan pengetahuan dasar dan skill untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Saya yang besar dan tumbuh di SKI hampir tidak tahu menahu banyak tentang perpolitikan kampus. Hanya selintas kabar. Jangankan pengetahuan dasar dan skill yang melangit itu, istilah istilah yang sering dipakai pun saya tak banyak tahu.

Yang membuat posisi saya semakin tidak nyaman, sebagai pendatang baru di ranah perpolitikan kampus, saya justru dituntut memiliki performasi yang lebih tinggi dari orang orang yang sudah terlebih dahulu terjun di ranah ini. Belakangan, saya baru bahwa salah satu alasan partai harus repot repot ‘mengimpor’ saya dari ranah ‘daawy’ adalah karena pada tahun itu saya terpilih sebagai kader terbaik partai. Dan karenanya, beberapa senior menaruh harapan yang cukup besar pada saya.

Pada akhirnya, meskipun bisa beradaptasi dengan cepat pada suasana yang jauh berbeda, saya tidak mampu mengejar ketertinggalan kapasitas yang (menurut saya) sudah terlambat untuk dikejar. Untungnya, saya terbiasa ‘menyamar’ dan ‘menipu’ untuk menghadapi situasi situasi sulit semacam ini. Sebagai anggota DPM misalnya, karena saya berasal dari partai incumbent yang hegemonik, saya berada dalam posisi dimana saya harus berhadapan dengan banyak lawan lawan politik yang membenci partai saya. Akan tetapi, dengan ‘menyamar’, saya bisa menyembunyikan jatidiri saya dan bisa berbaur dengan nyaman. Dengan cara ini, setidaknya saya bisa menghindar dari sasaran pelampiasan kebencian dari lawan lawan politik. Selain itu, saya bisa dengan mudah mempengaruhi massa yang lebih besar dan memenangkan debat dengan mudah.

Kemudian, dengan sedikit ‘menipu’, saya menciptakan sebuah ilusi dimana saya adalah orang dengan kapasitas tinggi yang sulit dikalahkan. Sederhana saja, satu kali saja, pada awal forum, gunakan kata kata bermajaz tingkat tinggi nan elegan. Lawan bicara akan mengira kita pintar luar biasa dan membuatnya segan untuk mendebat. Trik menyenangkan bukan? Ajak satu dua kawan untuk berkoordinasi. Dengan ditambah ‘trik trik kecil’ manipulasi forum, masalah ‘tipu menipu’ ini akan menjadikan tim anda sukar dikalahkan dalam banyak debat sengit dan menghindarkan anda dari adu argumentasi yang panjang.

Meskipun sederhana, dua trik ini seringkali menyelamatkan diri saya dari posisi posisi yang sulit. Terdengar sangat licik memang, tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Pada dasarnya dua trik diatas bertujuan untuk menciptakan penerimaan yang lebih besar atas ide ide dan gagasan yang kita miliki. Dan dalam konteks tertentu bisa juga diartikan ‘pemaksaan tersembunyi’ atas ide dan gagasan. Meskipun demikian, kunci keberhasilan dari terlaksananya ide dan gagasan kita juga terletak pada kualitas ide dan gagasan itu sendiri. Sebuah produk makanan misalnya, jika makanan itu adalah ide dan gagasan, maka kemasannya adalah trik ‘menyamar’ dan ‘menipu’. Strategi yang diterapkan tidak jauh berbeda dengan strategi pemasaran yang berlaku pada umumnya. Seberapa besar penerimaan massa atas produk kita ditentukan oleh seberapa baik kualitas ‘makanan’ dan seberapa cantik ‘bungkus’ yang kita gunakan.

Saya harus katakan bahwa baik buruknya trik ini tergantung dari tujuan trik ini digunakan. Dengan melakukan beberapa modifikasi sederhana, trik yang sama saya gunakan untuk mengagitasi staf-staf saya di SKI dan membuat mereka lebih semangat dan produktif. Juga membuat mereka menjadi tim departemen yang paling kompak di SKI. Trik yang sama juga membuat diri saya dikenal ‘ramah’ dan mudah bergaul, menyembunyikan sisi diri saya yang eksplosif dan radikal. Sesekali, digunakan untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai. Akan tetapi, trik yang sama juga saya gunakan untuk membunuh karakter orang, memenangkan debat, dan memanipulasi forum rapat DPM agar menguntungkan kepentingan partai.

Lebih jauh lagi…agak sedikit jahat, trik yang sama saya gunakan untuk ‘menghancurkan’ sebuah kongres mahasiswa menjadi ajang tawuran massa. Caranya mudah kok, pertama, tunjuk satu atau dua orang dalam forum. Setelah itu, bagi tugas. Satu orang sebagai ‘biang kacau’, tugasnya membuat forum menjadi ricuh dan mengeluarkan pernyataan yang konfrontatif. Satu orang lagi ‘biang damai’, tugasnya mendamaikan forum. Yang terakhir, bertugas sebagai ‘biang petunjuk’ tugasnya menyampaikan resolusi dan usulan yang menceerahkan pada forum.

Selanjutnya, kita tinggal memainkan tingkat emosi orang orang yang bertugas mengambil keputusan (dalam kasus ini, pimpinan sidang) dan orang yang menjadi lawan politik kita.  Koordinasi tiga aktor ini akan menjadi faktor krusial. Jika perlu, lakukan koordinasi diam diam ketika di dalam forum. Timing permainan juga menjadi faktor penentu yang penting. Ketiga aktor harus tahu kapan dan bagaimana perannya dimainkan dengan tepat.

Ketika forum sudah tidak lagi kondusif untuk mengambil keputusan, atau keputusan yang diambil sangat krusial dan merugikan kepentingan partai, ‘biang petunjuk’ bisa segera beraksi mengeluarkan statemen akhir yang dengan tegas menolak putusan tersebut, lalu keluar dari forum. Forum akan merasa kehilangan ‘cahaya’ yang menjadi harapan terakhir forum, dan ragu dengan putusan yang akan diambil. Selanjutnya, ‘biang damai’ berganti peran menjadi ‘biang kacau’. Forum akan berpikir, “bahkan orang yang paling sabar di ruangan ini pun akan marah jika putusan dipaksakan”. Mereka akan berpikir ulang untuk menetapkan keputusan. Pada tahap ini, oknum oknum yang mengusulkan pendapat memaksakan putusan akan berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil. Pada satu sisi, mereka sangat ingin putusan diambil. Tapi pada sisi lain, mereka takut ditentang forum. Jika kemudian mereka berubah pikiran, kembalikan peran ‘biang damai’, dan tunjuk satu teman kita dalam forum menjadi ‘biang petunjuk’ yang baru.

Cara diatas biasanya berhasil. Setidaknya, itu juga yang saya pikirkan ketika kongres mahasiswa ketika itu. Akan tetapi, oknum oknum yang berkepentingan dengan putusan pada saat itu justru terus memaksakan kehendaknya. Bahkan, dengan kasar mengusir ‘biang damai’ yang sedang berganti peran. Jika hal ini juga terjadi pada kasus anda, maka pilihan yang anda ambil ada dua. Pertama, legowo dengan putusan forum dengan segala konsekuensi yang merugikan partai. Kedua, ‘menghancurkan’ forum. Dengan kondisi psikologis yang sudah sedemikian labil, sedikit provokasi akan membuat forum dengan segera menjadi ricuh. Coba saja.

Tentu saja, kedua pilihan diatas memiliki konsekuensi yang berbeda dan saya berlepas diri dari konsekuensi yang anda hadapi. Semua pilihan memiliki konsekuensi, dan saya harap anda sadar akan semua konsekuensi yang akan anda hadapi dari pilihan yang anda ambil. Penggunaan trik ‘menyamar’ dan ‘menipu’ bisa menyelamatkan anda dari situasi yang tidak menyenangkan, tapi juga bisa membawa anda pada situasi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Untuk kasus saya, setelah kongres mahasiswa dan masa jabatan saya berakhir, beberapa bulan kemudian saya ditunjuk kembali menggantikan kawan di DPM. Dengan ‘menyamar’ dan ‘menipu’, meskipun orang-orang yang saya hadapi sama dengan orang-orang yang saya hadapi pada periode sebelumnya, saya bisa berbaur dengan santai seolah olah tidak terjadi apa apa. Menyenangkan bukan?

Dalam sebuah konteks yang lebih luas, sebagaimana saya sampaikan di depan forum pada waktu itu, pada dasarnya kita adalah para ‘ninja’ yang sedang ‘menyamar’ dan ‘menipu’. Masing-masing dari kita memiliki mimpi-mimpi, cita, dan keinginan yang berbeda terkait organisasi tempat kita mengaktualisasikan diri. Setiap orang yang berada dalam sebuah organisasi yang sama, bisa jadi memiliki idealita organisasi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kemampuan ‘menyamar’ dan ‘menipu’ dalam konteks kita berorganisasi adalah gabungan dari kedewasaan, kreativitas, dan kepemimpinan dalam diri kita. Meskipun demikian, saya tidak mengatakan hal ini berlaku sebaliknya. Maksud saya, kualitas kedewasaan, kreativitas, dan kepemimpinan akan membuat anda mampu ‘menyamar’ dan ‘menipu’ dengan baik. Akan tetapi, kemampuan ‘menyamar’ dan ‘menipu’ yang linuwih tidak akan serta merta membawa anda menjadi seorang pemimpin yang baik. Ketika kepemimpinan diukur dari seberapa besar ide ide dan gagasan dari seorang pimpinan mampu diterima dan ditransformasikan dalam amalan amalan organisasi, maka kita dapat mengatakan bahwa pemimpin yang hebat ada seorang ‘penyamar’ dan ‘penipu’ yang hebat pula.

Iklan

4 tanggapan untuk “‘menyamar’ dan ‘menipu’”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s