uncategorized

rahib tua

seorang rahib tua. renta. terlihat cukup layuh namun masih lebih dari sekedar kuat untuk sekedar berdiri dan berlari. mengalahkanmu bahkan jika ia benar benar ingin. dulunya, ia adalah anak yang baik. lebih dari sekedar jujur dan taat. perjalanan pertama dan pertemuan pertemuannya dengan rahib di gereja dekat rumahnya membuatnya menemukan sosok yang sangat dicintainya. dia dan kau…aku juga. menyebutnya, Tuhan.

maka cinta pertamanya itu membuatnya mengambil sebuah keputusan besar. ia akan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. maka pada suatu hari yang cerah, dengan udara yang sejuk dan awan awan tipis mengarak matahari, ia pergi ke sebuah gunung untuk menyendiri bersama Tuhan. “aku tidak ingin kebersamaanku dengan Tuhan diganggu”, katanya. maka ia pun memilih puncak yang tertinggi. puncak terjauh yang tidak akan mungkin didekati manusia.

hari dan hari beriring berlalu. dan kesendiriannya membuat kecintaannya pada Tuhan semakin besar. ia menyaksikan tangan tangan Tuhannya bekerja pada alam. keteraturan yang diciptakanNya, keharmonisan dan keseimbangan sempurna yang tidak mungkin bisa ditandingi sebuah makhluk pun. ia menemukan bahwa Tuhan mencintai keteraturan, keadilan dan keseimbangan, maka ia pun mencintainya. menjadikannya membenci semua bentuk kekejaman dan kezaliman.

hari dan hari beriring berlalu. dan kecintaannya pada Tuhannya membuat ia ingin menyaksikan lebih banyak lagi bukti bukti tangan Tuhan bekerja. dan untuk setiap waktu yang berlalu, gunung kecil tempatnya berdiam tak lagi menyediakan banyak hal untuk disaksikannya. maka pada suatu hari yang cerah, dengan udara yang sejuk dan awan awan tipis mengarak matahari, ia mengambil keputusan besar kedua dalam hidupnya. ia akan turun gunung, dan kembali ke kota.

dan ialah rahib tua yang kusebutkan di awal cerita. dan untuk setiap waktu yang berlalu, kota tempat ia dibesarkan telah sebegitu jauh berubah. kota kecil itu telah menjadi sebuah kota besar. keputusan sang raja untuk mengubah ibukota kerajaan telah membuat kota kecilnya menjadi kota transit yang paling strategis. kota kecilnya telah bermetamorfosis menjadi kota metropolitan raksasa!

tapi ia tidak menemukan tangan Tuhannya disana.

bahkan, sosok pertama yang ditemuinya adalah orang tua renta. buta. dengan pakaian compang camping yang semakin membuatnya tampak nista. lelaki buta itu berjalan lemah. dipandu sebuah tongkat kecil, berjalan dari ujung pasar ke ujung lainnya di barat. “belas kasihanilah aku.”, kata si lelaki buta menghiba sambil menengadahkan tangan. rahib tua itu berkata dalam hati. “apa ini?!!. bagaimana mungkin bisa terjadi ketidak adilan seperti ini? mereka berpakaian sangat mewah. dengan perut gendut menonjol. tapi mereka membiarkan lelaki buta ini lapar dan tidak menghiraukannya sedikitpun. apakah kau membiarkan ketidakadilan ini terjadi hai Tuhan?”. ia marah. lalu berlalu pergi.

kali ini ia menuju desa kecil tak jauh dari kotanya. berharap menemukan kedamaian dan penyejuk dari kemarahannya yang meluap luap. tapi ada yang ditemukannya begitu jauh dengan apa yang diharapkannya. desa hijau di masa kecilnya kini kumuh. kusam. tak lagi ada hamparan padi yang menghijau. sejauh mata memandang, adalah rumah rumah berdebu yang kini tampak begitu usang. anak anak kecil gemuk menggemaskan di masa mudanya, berubah menjadi anak anak kurus. dengan perut menggembung dan tungkai yang lemah bergetar menahan lapar. ia pun berteriak, “APA INI!!!? kota sebelah begitu makmur. tapi desa kecil ini begitu miskin dan mengenaskan. bagaimana kau membiarkan ini terjadi Tuhan?”. kemarahannya memuncak.

si rahib tua tampak benar-benar marah. ia marah pada Tuhan. ia marah pada ketidakadilan. ia marah pada kemiskinan. dan ia begitu marah, pada Tuhan yang nampak tak melakukan apapun untuk menolong korban-korban ketidak adilan itu.

langkahnya yang tak tentu membuatnya sampai di ibukota kerajaan. mempertemukannya sebuah arak arakan besar. puluhan prajurit garang berbaris rapi. mengawal raja agung di atas kereta kencana yang berdiri pongah melambai pada rakyatnya. “inikah raja itu?”, katanya dalam hati. ia adalah sumber ketidak adilan di negeri ini, pikirnya. Hey, bukankah Tuhan Maha Kuasa? mengapa tidak ia bunuh saja raja pongah ini? toh Ia mampu menciptakan badai yang meremukkan bukit. mengapa tidak Ia kirim saja satu guntur. satu saja. lemparkan guntur itu tepat di ubun ubun raja pongah itu. ia pasti mati seketika. atau jika perlu, kirim saja malaikat malaikatnya. satu tebasan. satu saja. maka semua pasukan raja lalim ini akan terpenggal musnah. maka bebaslah negeri ini.

Si Rahib tua terus berguman dalam hati. berdebat dengan salah satu sisi dirinya sendiri. Ia tak menemukan jawaban atas kebungkaman Tuhan, yang seolah membiarkan ketidakadilan merajai seluruh negeri. Ia marah. Kebenciannya pada semua bentuk kekejaman dan kezaliman menyerobot sebagian akal sehatnya. maka dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, ia merebut pedang salah satu pengawal raja. melompat. menerobos pasukan pengawal dengan buas. membanting tubuh ringkih sang raja ke tanah. lalu memenggalnya dengan puas.

“Hari ini sebuah ketidakadilan telah mati!! ia pergi membersamai Tuhan. Pada bangkai ketidakadilan di ujung kakiku ini, Tuhan membisu dan membiarkan ketidakadilan merajai seluruh negeri. Maka aku datang. Menggantikan kebisuan Tuhan dan membebaskan kalian dari belenggu ketidakadilan”, si rahib tua berseru lantang.

sontak, rakyat pun bersorak. huru hara besar tercipta di seluruh negeri. pengikut dan barisan pengawal raja tak ingin kekuasaannya hilang, maka mereka pun mengangkat diri sebagai raja. rakyat yang tak ingin kembali dirajai oleh ketidakadilan, mengangkat rahib tua sebagai raja dan pemimpin mereka melawan sisa sisa ketidakadilan yang merajai negeri. sebuah pertempuran besar pecah. menyisakan tubuh tubuh yang terbelah bersimbah darah rubuh satu demi satu. maka pada suatu hari yang cerah, dengan udara yang sejuk dan awan awan tipis mengarak matahari, sang rahib tua mengangkat panji kemenangan ke angkasa. menciptakan segemuruh gegap dan gempita di seluruh negeri.

syahdan, si rahib tua memimpin negeri dengan adil. rakyat pun menjelma adil dan sejahtera. kehidupannya bertahun tahun menyendiri membuatnya cepat bosan dengan segala hiruk pikuk dan hingar bingar pemerintahan. maka pada suatu senja yang mendung, ia pergi seorang diri ke pinggir hutan. ditemuinya sesosok gembala menggiring kambing kambingnya dengan sejumput bunga di tangannya. ia pun bertanya, “Mau kemana kau anak muda?”. si gembala kecil pun menjawab, “ke gereja, tuan.” tanpa menyadari lelaki renta di depannya adalah si rahib tua yang kini menjadi rajanya. “lalu untuk apa bunga itu?”. “untuk menghias gereja. agar setiap orang yang kesana lebih nyaman untuk bercengkrama dengan Tuhan”. “Bukankah Tuhan telah meninggalkan kalian, sehingga ketidakadilan pernah merajai seluruh negeri?”, tanya si rahib tua dengan sinis. “Tidak tuan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Ia bahkan mengutus salah satu hamba yang paling dicintainya. seorang rahib. untuk memenggal raja lalim dan membebaskan kami dari ketidak adilan.”, jawab si gembala kecil ringan sambil berlalu pergi.

Kata-kata gembala kecil terus membuatnya berpikir. langkah gontai kakinya yang tak tentu mengantarnya di kaki gunung tempat ia dulu mengasingkan diri. “Hari terlanjur malam. mungkin baiknya aku beristirahat di tempat ini.”, katanya dalam hati. ia ingin sekali beristirahat. sekedar meletakkan sejenak kepalanya pada bantal jerami dan menutup mata. tapi kata-kata gembala kecil terus merasuki pikirannya. maka  pada malam itu, dengan udara yang sejuk dan awan awan tipis mengarak rembulan, sesosok malaikat turun mendatangi si rahib tua.

si rahib tua menyaksikan sosok yang datang menemuinya dipenuhi cahaya yang terlihat sangat agung. “apakah kau malaikat Tuhan?”, ia bertanya. “kau benar.”, jawab sang malaikat. “aku datang dengan sebuah surat cinta dari Tuhan dan penjelasan atas kegelisahan di pikirmu”. “bagiku Tuhan telah pergi. dan aku tidak butuh penjelasan”, kata si rahib sinis. malaikat Tuhan pun tersenyum lembut. berjongkok mendekatinya yang sedang tidur beralas jerami. “jangan membohongiku teman, hatimu berbicara lebih banyak tentang kegundahanmu daripada apa yang kau ucapkan.”

si rahib tua terdiam, maka sang malaikat Tuhan perlahan mulai menjelaskan. “Kau lebih tau bahwa Tuhan tidak pernah pergi. dan gembala kecil itu semakin membuatmu menyadarinya”, ia memulai. tangan tangan dan kuasa Tuhan bekerja dengan cara yang cantik, namun tersembunyi. Ia bekerja dengan skenario terindah dan terbaik yang dimilikinya untuk umat manusia. ia bisa saja mengirimkan guntur, sebagaimana yang kau pikirkan dulu. satu saja. maka raja lalim itu akan mati terpanggang. tapi kau juga tahu raja lalim berikutnya akan lahir dan membiarkan ketidakadilan merajai seluruh negeri. maka Tuhan menciptakan sebuah skenario indah untuk membebaskan negeri dengan kau sebagai salah satu pemerannya.

Ia membuatmu bosan dengan semua yang kau saksikan di gunung kecil ini. membuatmu berpikir untuk menyaksikan kuasa kuasa Tuhan yang lain di luar sana. Ia membuatmu marah dengan satu demi satu ketidakadilan yang kau temukan. membuatmu marah. dan menuntunmu untuk mengakhiri hidup si raja lalim. maka rakyat pun bersorak. riuh menyambut kebebasan. lalu menjadikanmu raja yang membebaskan negeri dari ketidak adilan.

Yang tidak kau sepenuhnya ketahui adalah, dengan skenarionya yang indah, kau diutus pada waktu yang benar-benar tepat. tepat pada puncak keputus asaan seluruh rakyat pada kasih Tuhan. di mata mereka, kau adalah penyelamat. jawaban atas doa doa mereka. dan sebuah bukti nyata tentang kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang Agung. kehadiranmu dinampakanNya sebagai sebuah mukjizat. membuat bahkan sosok yang atheis sekalipun berlari ke gereja dan menyambut kasih Tuhan. Tanpa kau sadari, kau membuat rakyat kembali pada kasih Tuhan.

Si rahib tua tak lantas menjawab. ia tertegun dan mulai terisak. “ternyata aku salah menilai Tuhan”, katanya pelan. “adakah pintu maafnya terbuka untukku?”. sang malaikat Tuhan menjawab, “Tuhan tahu. jauh di dalam hatimu, kau tidak pernah menghianati cintaNya. kemarahan yang kau tunjukkan untuk setiap ketidak adilan adalah bukti cintamu yang utuh pada kesempurnaanNya”.”Bangunlah”, seru malaikat Tuhan. “Hari ini aku datang padamu dengan surat cinta dan pengampunan dari Tuhan untukmu”. maka pada hari itu, sebuah malam berbintang dengan udara yang sejuk dan awan awan tipis mengarak rembulan, menerima kasih dan pengampunan Tuhan. ruhnya perlahan terangkat. meninggalkan jasad rentanya berbaring beralaskan jerami dengan sebuah senyuman. ia pergi meninggalkan bumi untuk menemui cintanya.

Iklan

4 tanggapan untuk “rahib tua”

  1. PS:
    klo ditanya…kok tokohnya rahib? bukan ulama? itu karena saya mendapatkan kisah ini memang dari tokoh gereja. maka setting ceritanya juga di gereja, karena yang namanya masjid belum ada pada zamannya.

    saya mendapatkan kisah ini ketika SMP. dan merupakan kisah yang membuat saya kembali memeluk Islam kedua kalinya. kisah aslinya harus saya akui jauh berbeda dari kisah yang dituliskan disini. sengaja diubah, tapi tetap dituliskan dengan muatan muatan yang kurang lebih sama. bagi yang pernah menemukan kisah aslinya, tolong dimaklumi saja nggih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s