uncategorized

mari menulis kembali

Fyuh…blognya sudah lama sekali kosong. Pun saya bahkan tak lagi ingat tulisan terakhir yang terakhir diunggah ke web ini. Tapi saya sedang mencoba menjadikan menulis sebagai bagian hidup. Bukan sebagai pelarian. Bukan hanya sebagai sarana berkeluh, bekesah. Berbagi hikmah ketika ia ada, berbagi ceria, atau sedih ketika ia datang. Tapi saya ingin menjadikannya bagian dari kehidupan. Sesuatu yang tidak selepas hadir ketika hidup ada-bagian pelengkap yang bisa dibuang sewaktu waktu-tapi sesuatu yang menyertai, bahkan, membawa kehidupan untuk serta bersamanya. Untuk itulah saya kembali menulis.

Ketika tulisan ini dituliskan, beberapa draft sebenarnya sudah dibuat. Menunggu untuk diselesaikan. Puluhan ide bahkan sudah berkerumun riuh memutari otak dan meminta untuk segera ditumpahkan. Dituliskan. Tapi anehnya, untuk sekian lama, tak satupun dari draft itu, calon-calon kisah itu yang terselesaikan.

Saya pikir, mungkin karena menulis bagi saya adalah sesuatu yang unik.

Sesuatu yang sangat berbeda. Tidak seperti dunia musik, yang tak menunggu setahun hingga saya mencipta lagu pertama. Disusul kedua ketiga dan seterusnya. Sastra, puisi. Juga tak memerlukan waktu lama hingga orang-orang berkata kepada saya, “kamu pandai berolah kata”. Saya katakan, menulis adalah sesuatu yang berbeda. Sangat jauh berbeda.

Tulisan pertama saya–yang saya maksud disini tentu saja bukan laporan, tugas, karangan-karangan konyol ketika pelajaran bahasa indonesia. Maksud saya, tulisan pertama, yang hadir sebagai buah pikir murni. Yang benar-benar hadir sebagai karya. Bukan beban, apalagi tugas–tercipta dengan proses yang tidak lazim. Aneh bahkan. Lahirnya tulisan itu mengharuskan diri saya menjadi orang lain. Ketika ide itu datang, saya duduk di depan komputer. Membayangkan diri saya adalah sosok lain. Membayangkan bagaimana ia akan bergerak. Berpikir. Bereaksi terhadap ide tersebut. Membayangkan detail kecil, bagaimana ia bangun, berpindah dari kamarnya ke serambi depan. Mengambil segelas air, sambil terus berpikir tentang “ide” itu.

Membayangkan bagaimana ia akhirnya mendapatkan pencerahan. Membayangkan bagaimana ia akhirnya menghidupkan komputer, lalu mengetikkan kata demi kata. Kalimat demi kalimat yang merekonstruksi ide sederhana itu dalam sebuah tulisan utuh. Membayangkan ia (sosok lain itu) memandang tulisan itu di layar monitor untuk terakhir kalinya, menarik nafas dalam dalam lalu berseru dalam hati, “selesai”. Lalu, ketika  saya kembali pada kesadaran diri saya. Sebuah tulisan telah tercetak rapi di layar monitor. Sebuah tulisan. Tepat seperti yang “sosok itu” telah ia tuliskan dalam imaji saya sejenak lalu.

Setelah itu, saya menemukan lebih mudah. Jauh lebih mudah untuk menulis dengan mengulangi proses yang serupa. Memikirkan sebuah ide, lalu membiarkan sosok lain. Seseorang nun jauh disana yang memiliki kemampuan jauh dari saya dalam dunia kepenulisan untuk menuliskannya dalam imaji saya. Sisanya, saya hanya perlu menuliskan ulang. Mengetikkan kembali kata demi kata yang dituliskannya melalui tuts keyboard di depan saya.

“Sosok” lain yang saya maksudkan disini adalah sosok nyata. Katakan saja seorang teman. Maka jika Anda bertanya, “bagaimana saya belajar menulis?”, maka jika saat itu saya hendak menjawab dengan jujur–sepenuhnya mengungkapkan apa yang terjadi–saya  akan menjawab, “saya mencurinya dari seorang teman”.

Pun pada prosesnya, tidak semua tulisan yang saya buat ditulis oleh “sosok” yang sama. Saya tak terlalu mengenalnya. Dan mulai kesukaran untuk membayangkan bagaimana ia akan bereaksi pada “ide ide” yang spesifik. Maka saya mulai belajar untuk menggunakan “sosok sosok” lain yang saya jadikan “budak” untuk menghasilkan tulisan tulisan. Kali ini bukan lagi sosok nyata. Hanya sosok sosok imajinar yang hadir di imaji saya.

Satu ketika, saya membayangkan diri saya sebagai sosok humoris. Maka sebuah tulisan lucu pun terlahir. Membayangkan diri saya sebagai sosok yang kontemplatif, maka sebuah tulisan tentang renungan-renungan pun hadir. Saya juga belajar untuk menjadi beberapa sosok sekaligus. Membuat tulisan-tulisan yang hadir dari mereka menjadi sebuah perdebatan kontemplatif tentang ide ide yang hendak saya tuliskan.

Demikian, saya (dan sosok sosok itu) menghasilkan satu demi satu tulisan.

Pada saat ini, saya telah mampu menghadirkan tidak hanya satu, atau dua, tetapi jauh lebih banyak perspektif untuk menanggapi sebuah ide yang terlintas. Akibatnya buruk. Setiap kali sebuah ide terlintas, sosok sosok itu, “mereka” menghadirkan begitu banyak perspektif. Membuat begitu sulit untuk membuatnya tetap dalam batasan konteks tertentu. Membuat bahasannya begitu lebar dan luas sehingga sulit menerjemahkannya dalam kata-kata. Pun, bahkan, jika “ide” itu akhirnya terlahir kembali dalam sebuah tulisan, saya tidak yakin akan ada satu manusia pun bisa memahaminya dengan utuh kini.

Meskipun sejak awal saya sadar diri saya memiliki banyak dimensi jatidiri, yang membuat saya sukar dipahami dibandingkan orang lain, pengalaman menulis membuat saya mengembangkan dimensi-dimensi jatidiri itu pada sebuat tingkatan yang lain. Sebuah tingkat dimana saya memahami dalam sebuah perspektif bahwa “saya”, dengan segala dimensinya yang sukar dimengerti tak lebih dari sekedar “saya”, yang tidak akan mampu memahami kebenaran yang tersuruk dari (bahkan) hanya sebuah ide sederhana.

Menulis membuat saya mengerti. Belajar untuk mengerti orang lain. Berpikir dengan ciri pandang mereka. Berjalan sebagaimana mereka berjalan. Menunduk. Berlari. Melompat-lompat riang sebagaimana ketika mereka gembira. Demikian. Saya belajar tentang dunia, kebenaran, dari persepektif yang benar-benar baru.

Pada sebuah etape, saya menemukan bahwa emosi, perasaan manusia membuat manusia jauh dari kebenaran. Maka saya membuangnya, mengembalikannya pada Tuhan. Dan dengan cepat pengetahuan saya berkembang dengan cepat. Bertambah dengan laju yang tak terkira tapi tiba-tiba berhenti pada sebuah titik. Lalu berhenti. Tuhan tidak berbohong kepada saya ketika mengatakan bahwa kebenaran hanya bisa dimiliki oleh manusia yang utuh. Lengkap dengan segala semangat dan emosi yang meluap luap. Lengkap dengan semua kegembiraan, sedih, bahagia dan cinta. Menulis membuat saya memahami kata-kata Tuhan itu lebih baik, dalam sebuah contoh yang sangat jelas.

Tidak akan semua ide itu akan berkembang menjadi sebuah tulisan. Beberapa diantaranya terlalu sukar dimengerti. Atau berbahaya jika disebarkan ke semua orang. Maka nalar intuitif yang saya terima dari pengalaman menulis tidak akan selalu membuat tulisan saya semakin banyak. Beberapa ide mungkin akan tetap tersimpan rapi sebagai rahasia antara saya dan Tuhan.

Dan demikian, saya akan tetap menulis. Setidaknya, akan mencoba, ketika ide itu hadir sebagai ide yang mampu terekonstruksi dalam sebuah tulisan yang mampu dipahami. Dengan menulis, maka saya akan belajar tentang manusia, hati, dan segala perspektifnya. Membuat saya lebih dekat dengan apa yang saya cari. Sesuatu yang kali pertama bertemu dan menyentuh sebatas ujung jarinya, membuat saya bersumpah akan mendapatkannya.

Saya pikir Anda juga punya mimpi. Sesuatu yang ingin anda dapatkan. Yo, ganbatte. Mari bersama berjuang untuk mencapainya 😀

Catatan:

Jika Anda berkenan, anda masih dapat membaca tulisan saya yang pertama. Saya tidak berharap anda akan memahami apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan itu. Agak sulit memang. Tapi saya harap dengan membaca tulisan itu, Anda bisa memahami persepsi saya tentang “menulis”, “hidup”, dan “mencari kebenaran”.

Anda bisa membacanya di link ini:

http://kitta2006.wordpress.com/2007/07/30/kucing-kecil-gang-dan-sebuah-kota-dekat-pelabuhan/

Dan jika Anda hendak tahu, dan bertanya…saya katakan bahwa tulisan ini hadir oleh saya. Bukan sosok lain. Saya.

Iklan

4 tanggapan untuk “mari menulis kembali”

  1. orang orang disekitarku sepertinya lebih mencemaskan skripsiku daripada orang yang mengerjakan…arigatou temans. tapi jangan ditulis disini atuh :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s