uncategorized

N-O-B-E-L

Aku terus-menerus memandangi wadah sampel yang ada di depanku. Berganti ke layar monitor, ke mesin kromatograf di depannya, lalu kembali memandangiku wadah sampel yang ada. Masih kosong. Monitor belum menunjukkan satu pun puncak yang menunjukkan keberadaan satu pun senyawa yang telah lolos melewati kolom kromatografi. Baiklah, mungkin aku harus bersabar. Sampel itu diinjeksikan tidak lebih dari satu menit yang lalu, dan mungkin memerlukan waktu sedikit lagi sebelum ia terpisah menjadi beberapa bagian di dalam kolom kromatografi cair bertekanan tinggi.

Aku berganti memandang arlojiku. Sudah pukul 1 malam. Mataku sudah begitu berat, ingin terkatup. Sedangkan tubuh-jika ia bisa teriak-mungkin sudah sudah meronta-ronta sejak kemarin dan menciptakan keributan yang luar biasa di lab kecil ini. Aku benar-benar butuh istirahat.

“Jangan sampai kalah, kau bodoh!”, pikiranku tiba-tiba berteriak. Ia berontak. “Ingat ini baik-baik anak muda. Nobel-Nobel-Nobel. Sebut tiga kata itu keras-keras dan semua kelelahanmu akan sirna!”.

Aku mengikutinya tanpa merasa harus berpikir panjang. Mengucapkan kata itu tiga kali, meskipun tidak terlalu keras. Aku takut penjaga akan terkejut dan mengira ada orang gila berkeliaran di lab selarut ini. Dan ia memang benar. Semua kelelahan hilang segera setelah aku menyebut kata itu. Nobel-Nobel-Nobel. Penelitian ini akan melambungkan namaku sebagai peneliti muda jenius. Membuatku sangat terkenal, dan akan mengantarkanku meraih nobel dan ratusan penghargaan internasional di bidang kesehatan, kimia, dan perdamaian internasional sekaligus!

Bayangkan saja, peneliti semuda aku. Belum genap berusia 25 tahun. Jika penelitian ini berhasil, akan menjadi orang pertama yang bisa menemukan obat, sekaligus vaksin untuk HIV[1] dan ebola virus[2] strain PX-453. Kekayaan, popularitas, nama, dan ratusan penghargaan akan mengalir deras. Dan semuanya untukku. Hanya untukku. Aku.

Maka aku kembali terus-menerus memandangi wadah sampel yang ada di depanku. Berganti ke layar monitor, ke mesin kromatograf di depannya, lalu kembali memandangiku wadah sampel yang ada. Sebuah puncak muncul di layar. Diikuti dengan bunyi “piip” yang tidak terlalu keras dan tetesan pertama yang jatuh di dasar wadah sampel.

“YATTAAA…AA!!!”, aku memekik!

Kucing yang sedari tadi ikut menemaniku bekerja serta-merta terbangun. Membuatnya terlompat dengan gaya fantastis sambil balas berseru padaku, “MIAUU..UW!!”.

“Pssst…jangan keras-keras, pus!”, kataku pelan, mengingatkan.

“Kau tidak ingin membuat pak satpam terbangun dan membuat kita gagal meraih nobel kan?”. Kucing itu tidak menjawab. Ah tentu saja. Bagaimanapun juga, dia hanya seekor kucing. Berkeliaran di lab dengan instrumentasi secanggih selama seharian tidak akan mengubahnya menjadi kucing jenius yang bisa mengerti ucapan manusia. Dengan seluruh daya pikir yang dimilikinya, kucing itu justru menatapku dengan tajam. Mengibaskan ekornya, lalu berlalu keluar meninggalkanku. Mungkin ia mencari tempat lain. Yang lebih tenang, lebih damai, tanpa harus terganggu oleh keberadaanku.

Sudahlah, mari kita lupakan insiden kecil itu. Toh itu tidak terlalu penting untuk dibicarakan. Setiap tetesan yang keluar dari kolom kromatografi ini akan membuatku semakin dekat dengannya. Kau tahu maksudku kan? Memangnya apa lagi selain itu. Nobel kawan, eja kata itu baik-baik. N-O-B-E-L, NOBEL. Sekarang, masukkan kata itu dalam laci memori terkuatmu. Ingat ia baik-baik, karena tidak akan perlu waktu begitu lama hingga namaku akan disandingkan dengannya. Lalu, semua ini akan terbayar. Semua kerja keras, usaha, dan keringat yang mengalir akan dibayar lunas bahkan tetes demi tetesnya.

Tidak akan ada lagi cemoohan, yang menyebutku sebagai kimiawan gila. Semua ejekan dan hinaan akan terbungkam. Terkatup rapat, serapat-rapatnya. Tidak akan ada lagi cercaan yang mengatakan aku sebagai kimiawan aneh yang melakukan eksperimen-eksperimen tidak masuk akal di lab kecil yang sumpek. Akan aku buat mereka menyadari kesombongan mereka, ilmuwan-ilmuwan tua tak tahu diri yang menganggap diri mereka tahu segala sesuatu. Hasil penelitianku akan menghantam retak, hingga hancur semua ego yang bertunas di kepala-kepala mereka. Lihat saja nanti, kimiawan yang kalian sebut gila ini akan meruntuhkan imperium dan merobohkan singasana kebesaran kalian.

Deposuit potentes de sede et exaltavat humiles[3]

Kau harus tahu, kawan. Menjadi seorang peneliti tidak seagung yang kau bayangkan. Peneliti-peneliti muda dengan idealisme, mimpi, dan cita-cita luhur mereka tidak selalu ditempatkan sesuai dengan haknya. Ditekan, dianggap bodoh. Mungkin kau tidak akan berpikir bahwa budaya primordial dan feodal di dunia kami terlalu kental bahkan untuk dapat kau bayangkan. Baiklah, mungkin kau benar. Aku mengaku. Memang ada beberapa ilmuwan senior yang mampu melihat bakat juniornya dan berbesar hati untuk memuji kelebihan mereka. Tapi jumlah mereka tidak banyak. Terlalu sedikit bahkan untuk mengubah arus kultur yang begitu kuat.

Tapi aku akan mengubah semua itu. Tak lama lagi. Satu-satunya hal yang harus aku lakukan setelah ini hanyalah melakukan serangkaian uji aktivitas terhadap serum yang aku temukan. Hasil analisis FT-IR[4] yang aku lakukan sudah menunjukkan keberadaan senyawa yang aku inginkan dalam sampel. Hanya saja, aku belum tahu seberapa banyak isomer produk yang bercampur di dalamnya. Tapi aku tahu bahwa masing-masing dari isomer-isomer itu akan terpisahkan oleh HPLC[5] dengan kolom spesifik. Sisanya, aku hanya perlu mengecek dengan menggunakan polarografi dan melihat spektra XRD[6] untuk menentukan fraksi manakah yang mengandung sampel yang aku inginkan.

Uji aktivitas terhadap serum, seperti biasanya, hanya akan menjadi langkah prosedural normatif yang harus dipenuhi semua bahan obat. Simulasi komputer toh sudah menunjukkan bahwa hanya ada satu isomer yang memiliki aktivitas biologis cukup tinggi untuk mematikan kerja virus. Aku hanya perlu menunggu laboratorium yang aku minta melakukan analisis mengeluarkan hasil analisis yang aku inginkan, lalu menulis laporan-laporan dan publikasi ilmiahnya untuk segera diterbitkan.

“Jadi, kau masih disini ternyata”, sebuah suara yang aku kenal menyapaku dari belakang. Aku menoleh, dan menemukan sosok kawan lamaku. Ahmad Nur Al-Huda. Aku belum melihatnya lagi sejak terlibat dalam penelitian ini. Kurang lebih 4 bulan yang lalu, tapi penampilannya saat ini telah membuatku hampir tidak mengenalinya lagi.

“Kau masih saja belum berubah. Dasar gila. Sampai kapan kau akan memaksa tubuhmu bekerja seperti itu?”

“Tunggu sebentar, kawan”. Aku berbalik, kembali menghadapi HPLC karena harus mengganti wadah sampel dengan yang baru. Fraksi yang kedua akan keluar tak lama lagi. Wadah harus diganti agar tidak bercampur satu sama lain.

“Kau mau minum apa? Kopi? Atau segelas susu hangat?”, tanyaku basa basi.

“Seperti biasa. Tanpa gula.”, jawabnya ringkas. “Tidak usah repot-repot, aku hanya terpikir untuk mampir sebentar karena ada yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tentang dia.”

“Dia?”, aku mencoba menangkap apa yang dia maksud.

“Istrimu, siapa lagi…kami bertemu sore ini. Dan dia bercerita banyak tentang apa yang kau lakukan akhir-akhir ini. Penelitianmu, proyek besar ini, ambisimu, dan semua hal lain tentangmu. Dia bercerita dengan penuh semangat ketika aku memintanya bercerita tentang apa yang kau lakukan saat ini. Dan entah mengapa, aku merasa dia begitu mengkhawatirkanmu. Sedangkan kau…kau bahkan tak menyapanya lagi selama sebulan terakhir ini. Kau telah membawa semua kegilaan yang kau temui di lab ini dan membuatnya begitu khawatir dengan dirimu. Sekarang, katakan padaku. Apakah kau benar-benar yakin dengan apa yang sedang kau lakukan?”

“Itu urusan pribadiku. Kau…”

“Bukan itu maksudku.” Ia memotong kata-kataku sebelum aku menyelesaikannya. “Aku hanya ingin kau mengintospeksi diri dan sadar bahwa dia mencintaimu. Itu saja. Tapi yang lebih penting dari itu, aku dengar kau bekerja sama dengan militer dalam penelitian ini. Apa kau sudah paham dengan resiko yang kau hadapi?

“Maksudmu?” aku balik bertanya. Aku tidak tahu apa saja yang telah ia dengar dari istriku. Tapi aku ingin berhati-hati karena data penelitian ini bisa sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

“Aku pikir kau pasti lebih tahu apa yang aku maksud. Aku tidak akan ambil pusing dengan apapun yang kau inginkan dari penelitian ini. Uang, ketenaran, atau nobel sekalipun. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Aku juga tahu kau sangat ambisius. Aku bisa mengenalinya terutama ketika kau berbicara tentang meruntuhkan apa yang kau sebut sebagai imperium kesombongan. Aku pikir tidak ada yang salah dengan itu, dan kau sendiri tahu aku juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi kali ini aku ingin kau sadar bahwa kau sedang mempertaruhkan nyawa ribuan manusia dengan bekerja sama dengan militer dalam penelitian ini.”

“Hmm…baiklah”, aku mencoba mengatur ritme kata-kataku “Istriku mungkin sudah bercerita banyak tentang penelitian ini. Lalu, apa yang kau inginkan?”

“Hentikan penelitian ini. sekarang juga”, jawabnya cepat.

“APA KAU GILA!!!”, sanggahku tak kalah cepat. Aku tidak pernah terpikir untuk mendapat jawaban semacam itu. Sedangkan, kelelahan mentalku membuatku kehilangan kendali atas diri dan meletup seketika itu juga. “Penelitian ini mempertaruhkan namaku!  Seluruh reputasiku, dan seluruh masa depanku di dunia ilmu pengetahuan sedang dipertaruhkan saat ini. Kau pikir apa yang akan dikatakan oleh ilmuwan-ilmuwan tua itu kepadaku nantinya? Mereka akan menyebutku dengan sebutan-sebutan aneh sepanjang karir dan hidupku. Sebuah tindakan paling bodoh untuk saat ini, adalah bahkan berpikir untuk berhenti dari penelitian ini. Kau sendiri cukup tahu bahwa berhenti dari penelitian ini membuatku menanggung resiko tidak bisa melakukan penelitian seumur hidup. Ini tentang hidupku, kawan!”

“Tapi kau akan menyelamatkan ribuan nyawa manusia dari bahaya senjata kimia terdahsyat yang pernah diciptakan manusia. Kau lebih tahu tentang resiko penggunaan hasil penelitianmu untuk menciptakan senjata pemusnah massal. Kau akan menjadi penyelamat bagi umat manusia.”, ia mencoba menenangkanku.

“KAU PIKIR AKU SEDANG APA? SAAT INI AKU SEDANG MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA!!!”, kali ini amarahku memuncak. Ritme napas menjadi menjadi begitu cepat seolah ia sedang beradu dengan waktu. Urat nadi leherku menegang, sedangkan dua baris gerahamku saling beradu menimbulkan bunyi gemeretak yang menakutkan.

Aku tidak begitu tahu. Entah karena teriakanku, entah karena pandangan mataku begitu menusuk, atau mungkin juga karena wajahku menjadi tampak menakutkan ketika aku marah. Atau malah karena ketiga-tiganya. Tapi pastinya, apapun yang telah aku lakukan, telah membuat kawan lamaku berbalik dan pergi.

Kini aku kembali kepada rutinitasku. Terus-menerus memandangi wadah sampel yang ada di depanku. Berganti ke layar monitor, ke mesin kromatograf di depannya, lalu kembali memandangiku wadah sampel yang ada. Aku hampir saja melupakan bahwa wadah sampel sudah harus diganti karena fraksi yang ketiga akan keluar sebentar lagi.

Tetesan pertama fraksi ketiga jatuh menyentuh dasar.

Aku harap tetes-demi-tetesnya akan membuat temanku sadar nantinya. Baiklah, lupakanlah semua nama baik, ketenaran, dan penghargaan yang akan aku dapat nantinya. Lupakan juga tentang alasan apapun yang aku sampaikan tentang nama baik dan masa depanku di bidang ini. Aku tidak benar-benar bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Aku hanya ingin menggunakan semua itu sebagai  motivasi tambahan agar aku semakin bersemangat menyelesaikan penelitian ini.

Bukankah aku sudah katakan padamu bahwa dunia peneliti bisa sangat kejam. Keadaan menuntutku memeiliki semua motivasi yang aku bisa ambil untuk menjaga stamina dan membuatku tegar. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan terlalu mempedulikan apa, bagaimana, atau seberapa naif motivasi yang aku pilih. Toh, dibalik semua motivasi-motivasi tambahan itu, aku punya motivasi sejati yang mendorongku melakukan semua ini.

Dibalik semua hal yang aku sebutkan tadi, aku benar-benar ingin menyelamatkan umat manusia. Sungguh. Kau boleh saja menyebutku naif, atau menyebutku bodoh, tapi satu hal itulah yang benar-benar mendorongku melakukan semua ini. Membuatku berani untuk melawan arus, meskipun dengan itu aku harus mempertaruhkan masa depanku di dunia penelitian untuk selama-lamanya. Aku bahkan mengambil resiko dengan bekerja sama dengan militer. Sedangkan aku tahu resiko besar yang aku hadapi. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kondisi keuangan pribadiku sedang kacau, proposal penelitianku ditolak karena dianggap tidak mungkin untuk dilakukan. Argumen-argumen yang aku sampaikan malah membuatku mendapat cercaan-cercaan yang mungkin cukup untuk membuatmu merasa perlu untuk mengakhiri hidup. Di saat itulah aku memutuskan untuk bekerja sama dengan militer. Saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan penelitian ini. Entah dengan pilihan cara, metode atau langkah apapun yang aku gunakan. Penelitian ini harus selesai. Titik.

Ini bukan tentang ego kawan, bukan. Bukan tentang itu. Ini tentang nasib 7 milyar manusia di bumi yang berada dalam ancama pandemi virus di masa depan. Bumi telah mencapai tahap krisis yang membuat virus-virus dengan cepat bermutasi menjadi varian baru yang lebih mematikan. Kau mungkin telah mengenal varian virus H5N1[7] dan H1N1[8] yang baru-baru ini membuat heboh. Tapi varian-varian virus baru telah diramalkan akan segera muncul, dan tidak ada yang bisa memprediksi seberapa besar tingkat letalitas yang akan diakibatkannya.

Hasil penelitianku akan mengatasi semua permasalahan itu. Serum baru yang aku sintesis memiliki kemampuan untuk mematikan aktivitas biologis virus menyerang manusia. Aku tidak mengatakan serum ini benar-benar ampuh. Aku bahkan belum melakukan uji toksisitas sampel, Sehingga aku belum benar-benar tahu tingkat keamanan penggunaan serum ini. Tapi pengujian awal telah memperlihatkan bahwa dua virus yang paling mematikan saat ini, virus ebola  strain PX-453 dan HIV telah kehilangan aktivitasnya biologisnya dengan serum ini. Sebuah capaian yang belum pernah dicapai peneliti manapun sebelumnya!

Aku akan jujur padamu dengan mengakui bahwa data penelitian ini akan sangat berbahaya jika jatuh ke pihak militer. Salah satu langkah dari sintesis yang aku lakukan menghasilkan produk intermediate yang sangat toksik. Membuatku terpaksa menanganinya ekstra hati-hati. Aku harus menghadapi resiko bahwa suatu saat militer akan menggunakan senyawa itu sebagai senjata kimia  karena yarat-syarat mayoritas telah dipenuhi senyawa itu untuk digunakan sebagai senjata kimia. Atau yang lebih buruk lagi, militer menggunakan data penelitian itu untuk mengembangkan varian baru virus untuk senjata biologis. Korban yang tidak bisa diperkirakan jumlahnya akan berjatuhan. Bumi akan dilanda pandemi terburuk yang pernah dialami manusia.

Kawanku mungkin saja benar. Mungkin aku telah mengambil langkah yang salah karena telah bekerja sama dengan pihak militer. Tapi mungkin saja aku telah mengambil langkah yang paling tepat. Manusia tidak harus menunggu aku menjadi tua, memasuki sistem perlahan-lahan dan menunggu penelitian ini berjalan. Manusia butuh hasil penelitianku sekarang, saat ini juga. Dan dengan segenap daya yang ada padaku, aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk melakukannya.

Tolong, katakan padaku. Apakah aku salah?

Solus populli, suprema lex


[1] Human Imuno-deficiency Virus.

[2] Virus yang sangat mematikan dan sangat mudah menular. Orang yang terinfeksi akan menderita pendarahan hebat dan meninggal dalam beberapa hari setelah ia terinfeksi.

[3] Lukas (1:52)

[4] Fourier Transform Infra Red, metode pengembangan dari spektofotometri IR. Digunakan untuk analisis gugus fungsi pada sampel.

[5] High Pressure Liquid Chromatografi, metode kromatografi cair bertekanan tinggi. Digunakan untuk memisahkan sebuah senyawa dari senyawa-senyawa lain yang menyertainya dalam sampel.

[6] X-Ray Difraktometri. Digunakan untuk menganalisis struktur kristal atau monomer dari beberapa isomer senyawa kimia.

[7] Nama ilmiah untuk virus flu burung

[8] Nama ilmiah untuk virus flu babi

 

Iklan

2 tanggapan untuk “N-O-B-E-L”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s