uncategorized

ibu…

Ibu? Jika kata itu ditanyakan kepada saya, ketika saya kelas satu SD, maka saya akan berdiri tegak. Melempar pandang ke luar pintu lalu berkata, “Ibuku cantik…”, tanpa pernah melanjutkan kalimat itu karena terlanjur lari keluar kelas mengejar kucing yang kebetulan lewat di balik pintu. Bukan hanya karena kucingnya lucu,  iya sih, kucingnya imut. Kecil, tapi bulunya lebat. Tapi sosok saya, pada masa itu, dengan tubuh kurus nan kecil, mulut yang ‘cerewet’ banyak tanya, memang belum banyak mengenal sosok agung yang satu ini. Saya hanya tahu beberapa hal, seperti, beliau (ibu saya) cantik. Kadang-kadang galak. Eh nggak ding, sering tampak galak. Suka sama anak-anak. Sebenarnya murah senyum dan ramah, tapi kalau marah bisa kelihatan serem. Tapi yang paling penting, ibu pinter masak dan sering buat kue dan penganan kecil. Sebuah deskripsi yang sederhana dari sesosok anak kelas satu SD tentang ibu.

Deskripsi itu tentu saja terus berkembang. Seiring waktu. Seiring jumlah momen yang kami habiskan bersama, saya mulai mengenalnya lebih jauh dari yang sekedar tertampak. Seperti, momen ketika menemukan bahwa ia memiliki nama yang cantik. Hmm…sama sekali bukan kisah yang menyenangkan. Kita simpan saja untuk kisah selanjutnya. Ada begitu banyak kisah yang hendak diceritakan. Tapi satu hal yang benar-benar pasti tentang ibu, adalah bahwa ia seorang petarung yang hebat.

Bagaimana tidak? Tubuhnya kecilnya tak lebih dari sebagaimana tubuh manusia yang rapuh. Kurus (seperti halnya saya), sama sekali tak menunjukkan sosok yang kekar dan berotot. Sosoknya bahkan sering saya dapati begitu lemah karena anemia dan serangkaian sakit yang mendera. Tapi dengan semua keterbatasannya, Ia (ibu saya), pada masanya, adalah aktivis wanita termasyhur di seluruh penjuru desa. Satu dari barisan elit penggerak PKK yang memperjuangkan nasib kaumnya di tengah kerasnya kehidupan desa. Seorang guru muda yang dicintai muridnya. Seorang wirausahawan wanita. Seorang desainer pakaian, ahli dalam kerajinan tangan, sekaligus ahli kuliner dan chef masakan tradisional yang sudah tak diragukan lagi keahliannya. Serius.

Semua yang saya sebutkan diatas, dijalani tanpa melepas status sebagai istri, sekaligus ibu dari anak-anak (yang kebetulan juga terkenal. Tapi karena nakalnya…hehehe) yang dilahirkannya. Bukan melebih-lebihkan kok. Jika teman-teman membaca tulisan saya sebelumnya, teman-teman mungkin akan bisa membayangkan betapa menantang (baca: sungguh amat sangat sulit) mendidik anak-anak seperti saya. Itupun, tak sekedar menghasilkan makhluk luntang-luntung, sejenis dengan yang teman-teman temukan di pasar, bertato, tampang ‘gahar’, menenteng botol dan berjalan tak keruan. Tapi  menghasilkan sosok bergenus mahasiswa ugm, yang (katanya) cerdas, alim dan santun itu? wow!!!

Singkatnya, semua hal yang telah dilakukan oleh beliau (ibu saya) membentuk  sosok beliau sebagai pribadi yang luar biasa. Kehidupan keluarga kami cukup keras. Sedang tidak ingin bercerita banyak tentang ini, jadi sebut saja demikian. Dengan profesi sebagai guru SD, tentu saja dengan gaji tak seberapa yang kau tahulah, ditambah dengan beberapa kerja sambilan, ibu harus menanggung hidup empat jiwa. Dirinya, dan tiga bersaudara centil nan jahil, yang salah satunya tengah menuliskan cerita ini. Mulai dari pakaian yang kami kenakan sehari-hari, seragam, buku-buku, pena dan pensil yang kami gunakan, biaya sekolah, makan, semuanya dibiayai oleh ibu. Sendiri.

Untungnya…

Lingkungan tempat saya dilahirkan tidak lebih dari sekedar desa biasa. Tak besar. Hanya desa kecil, dengan warga-warganya yang hidup sederhana, yang kebetulan juga, cukup jauh dari kota. Tapi tak terlalu jauh hingga membuat kami tersiolasi. Katakan saja, sekedar cukup untuk membuat kami jauh dari hingar bingar kehidupan kota nan konsumtif. Efek utamanya, tentu saja biaya hidup tak terlalu tinggi. Terakhir yang saya ingat, biaya SPP untuk SMA saya pada kelas satu tak lebih dari Rp 17.500,00. Itupun, di akhir kelas tiga naik tak lebih dari Rp 21.000,00. Tentu saja, sungguh amatlah jauh dari biaya yang harus dibayarkan jika saya bersekolah di lingkungan sekelas Jogja, yang denger-denger, mencapai ratusan ribu per bulannya. Buku-bukunya?biarlah ngirit berbekal catatan saja. Tidak perlu membekali diri dengan buku-buku paket dan LKS puluhan ribu. Les? Waduh, apalagi itu? cukuplah saya berpuas diri sekali lagi dengan buku-buku catatan dan beberapa buku pegangan yang terjangkau keuangan keluarga saja.

Ah iya, bapak? hmm…katakan saja beliau berada pada chapter cerita yang berbeda. Bukan kisah yang menyenangkan, jadi sebut saja demikian. Kita simpan saja kisahnya untuk cerita yang lain.

 

+++

Teman-teman yang membaca tulisan ini mungkin mulai bertanya-tanya, untuk apa kisah ini dituliskan? Ah tidak, hanya sekedar iseng aja. Yang nulis, ceritanya, sedang cemburu dengan kisah tentang ibu dalam sebuah novel yang baru dibacanya. Judulnya tidak panjang, sampulnya hanya bertuliskan “pukat” di bagian atasnya. Tapi bener wis. Yang nulis cemburu. Yang nulis juga ingin dengan bangga mendeklarasikan bahwa yang nulis bangga memiliki sosok ibu petarung hebat. Etung-etung juga mengenang momen-momen masa. Membuat tulisan ini membuat yang nulis banyak merenungkan kembali sosok ibu.  Beberapa kisahnya disortir, tidak dituliskan, karena sedang tidak ingin menceritakan atau sedang malas saja menuliskan kisahnya. Tapi bisa juga karena yang nulis malu untuk menuliskan. Momen-momen semacam ‘membobol pintu untuk masuk rumah’, hingga ‘membongkar genting untuk tujuan serupa’ tentu saja tidak akan diceritakan detail dalam tulisan semacam ini. Apalagi, hingga membongkar skandal cinta masa kecil yang nulis.

Tapi yang terakhir boong ding, hehehe.

Ketika tulisan ini dibuat, beliau (ibu saya) sudah tidak ada di rumah. Mengenang senyum terakhirnya, waduh, yang nulis mulai berkaca-kaca. Udahan ah, KAtS nitip doanya dari teman-teman nggih :3

Iklan

6 tanggapan untuk “ibu…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s