uncategorized

dialog kecil….

Bocah-bocah kecil terduduk lugu diantara teman-teman sebayanya yang lain. Duduk berjajar, berderet lurus. Rapi. Dengan sangat antusias mencoba menyimak apa yang akan disampaikan ustadz baru muncul di depan pintu kelas. Menatap lurus. Tajam dan lekat. Selayaknya yang kau lihat pada kucing yang hendak menerkam mangsanya.

Perlahan dari pintu ruang kelas, sang ustadz memasuki ruangan penuh simpatik. Melambaikan tangan diselingi senyuman yang ramah. Perlahan ia meletakkan buku bergambar yang sedari tadi di bawanya di atas meja. Menatap lekat bocah-bocah mungil di depannya satu persatu. Dengan satu tarikan nafas, ia memfokuskan fikir dan dayanya pada satu titik. Mengumpulkan semua energinya pada forum yang ada di depannya. Lalu, dengan suara yang mantap, ia membuka forum dengan sapa salam khasnya, “Assalaaaa…aamualaikum wa rahmatullaaaaa…aaaahi wa barakaaaaaa….aaaatuh.”

“Wa alaikum salaaa…aaam wa rahmatullaaaa…hi wa barakaaaa…aaaatuh.”, jawab anak-anak. Riuh serempak.

“Apa kabar hari ini?”

“Baik ustaaaaa…aaadz”

“Baik adik-adik, hari ini kakak akan bercerita. Hayooo, siapa yang mau dengar cerita dari kakak?”

“Saayaaaaaaa…..aaaaa!!!!”, jawab mereka riuh serempak. “Saya Ustadz!”, si Budi jahil berdiri mengacungkan tangan. Si Joko tengil tidak mau kalah. Berdiri melompat-lompat sambil berteriak riuh, “saya! Saya! Saya!”. Disusul dengan teriakan trio centil, Aini-Rani-Wati, “Saya juga ustaaaa…aaadz!!!”. Dan disambung bersusul dengan teriakan dan celoteh yang lain, “SAAYAAA…AAA!!!!”

Sang ustadz tersenyum licik, pancingannya berhasil. “Baiklah….kakak akan bercerita. Tapi semuanya harus mendengarkan dengan baik nggih…hayo, duduknya diatur yang rapi. Siap?”.

“iya ustaaaaa….aaaadz!!!!”

Pasukan bocah mungil segera riuh mengatur diri masing-masing. Berderet rapi, menempati bangku masing-masing. Dan dengan segera, kelas kembali senyap seperti sedia kala. Bocah-bocah kembali duduk tenang. Menatap antusias, dan tak sabar menunggu ustadz di depannya memulai cerita.

“Hari ini, hari yang spesial. Karena hari ini kakak akan bercerita tentang nikmat surga. Siapa dari kalian yang ingin masuk surga? Angkat tangan!!”

“SAAYAAAA…AAAAA”, kelas kembali riuh. Bocah-bocah kecil seketika berlompatan dan berteriak riuh. Budi Jahil segera naik ke kursi. Joko tengil yang tak mau kalah melambaikan kedua tangannya sambil berteriak tak kalah riuh. Tapi dari ujung kelas, tiba-tiba terdengar suara lain…

“Surga ustadz?”, tanya kuro, bocah paling mungil di kelas. “Sepertinya gak menarik…”

“Eh? Kamu gak mau masuk surga ya kuro?”, tanya Rani.

“Emang di surga ada apa aja? lagian disana mau ngapain?”, balas Kuro.

“Eh kamu tuh…surga itu keren tau. Iya gak ustadz?”, sambung Wati tidak mau kalah.

“Iya, surga itu keren lho”, jawab sang Ustadz pasti.

“Iyakah? Emang ada apa aja disana?”

“Banyak….di surga nanti, Allah akan mengabulkan semua permintaan kita. Semuanya. Apapun yang kita minta minta.”, jawab sang ustadz.

“Iya kuro, Allah akan memberi kita banyak makanan disana. Ada banyak permen, gulali, eskrim, coklat. Pokoknya banyak”, sambung Budi Jahil.

“Makanan? Hmm…ndak terlalu tertarik. Tubuhku kan kecil. Paling juga nggak bisa makan banyak-banyak. Aku juga nggak rakus kayak kamu. Lagian, banyak makan coklat sama permen gak baik untuk gigi lho. Bisa kena kencing manis juga. Emang kamu nggak dengerin kata bu dokter yang kemarin kesini po? Lagian juga, yang masak di surga nanti kan bukan ibuku. Paling juga masakan disana gak bakal selezat masakan ibuku kok.”

“Ndak cuma makanan, kuro”, jawab Rani. “Disana nanti kita juga dapat pakaian bagus, perhiasan banyak, gaun yang cantik. Pokoknya semua yang bikin aku tambah cantik wis.”

“lha aku kan cowok…paling juga seringnya pake baju sama celana aja.”

“Disana juga banyak mainan kuro. Mobil-mobilan, robot, pesawat, pokoknya apapun yang kamu minta. Yoyo, tamiya, apapun pokoknya pasti  dikasih sama Allah”, serang Joko tengil tidak mau kalah.

“Kamu ini terlalu kekanakkan…dewasa dikit kenapa sih? Kata kiai Rahmat pas di masjid kemarin, ntar di surga itu kita semua udah jadi dewasa semua. Udah jadi anak besar. Mosok anak besar main mainan kayak gitu? Ndak ‘cool’ tau?”

Si Ustadz mulai penasaran.

“Nggak cuma itu, surga itu tempat yang paling indah yang pernah diciptakan Allah. Ada bukit, ada lembah, ada sungai-sungai dibawahnya. Ada istana-istana megah juga. Kamu nggak pengen lihat tempat indah kayak gitu?”, jelas ustadz mencoba meyakinkan.

“Tiap kali liburan pasti diajak bapak sama ibu kemana….gitu? klo gak ke pantai, ke gunung. Atau ke rumah kakek. Paling juga sama aja. Udah bosen lihat yang gituan. Lagian aku memang gak terlalu tertarik sama yang kayak gituan kok.”

“Disana banyak tempat-tempat menarik, kuro. Yang sama sekali tidak pernah dilihat manusia. Ada sungai susu, juga ada sungai khamar, buah-buahan yang banyak, kurma, zaitun, juga hal-hal luar biasa yang lain.”

“Disana ada sungai khamar?”

“Iya, khamar terbaik dari yang pernah ada.”

“Bukannya minum Khamar itu dilarang sama Rasulullah ya ustadz?”

“Kalau udah di surga, kita boleh makan minum apa aja kok…”

“Ndak mau ah…kata ibu, minum khamar bisa merusak otak sama ginjal. Tidak baik untuk kesehatan. Aku juga masih anak-anak, kata bapak, masa depanku masih panjang. Jangan dirusak dengan hal-hal yang sia-sia.”

Si ustadz mulai bingung. “Tapi di surga ada yang spesial lho…kamu belum tau po?”

“Apa ustadz?”

“Allah menyediakan kita bidadari-bidadari cantik di surga nanti. Mereka ini, punya mata yang indah. Kulitnya seputih pualam. Pipinya kemerah-merahan. Pokoknya cantik. Jauh lebih cantik dari wanita manapun yang pernah kamu lihat di dunia”

“Satu?”

“Enggak…ada banyak. Dalam satu riwayat, kita dikasih 40 bidadari sama Allah?”

“Iyakah?”

“iya. Beneran”, jawab si ustadz yakin. Dan mantap

“Iii…iiih, ustadz ni ternyata punya potensi jadi mata keranjang juga. Udah, makanya buruan nikah ustadz. Umur juga udah ndak muda lagi gitu lho. Kata kiai Rahmat, biar pikiran kita ndak macam-macam gitu. Juga biar hidup bisa barokah”

Anak-anak lain mulai menatap sinis ustadz di depan mereka. Perlahan, bergerak menjauh….meninggalkan si ustadz berdiri tertegun. Kaku.

^_^ b

EPILOG

“Klo dipikir lagi ternyata surga emang gak terlalu menarik ya….”

“Iya juga. Nggak terlalu menarik”

“Udah…kita tinggal main aja yuk.”

“Kuro mau ikut main?”

“Enggak ah…aku mau cari sesuatu”

“Apa?”

“Bukan apa, tapi siapa”

“Emang siapa yang kamu cari?”

“Allah….”

“Gak usah repot kuro, ntar di surga kamu juga bisa lihat kok…”

“Iyakah?”

“iya….beneran”

“Klo gitu aku ikutan mau masuk ke surga wis…tapi cuma untuk ketemu Allah. Bukan untuk nyari yang gitu-gituan tadi. Aku kan anak yang baik^^”

^_^ b

Iklan

17 tanggapan untuk “dialog kecil….”

  1. hwaaa…aku dituduh jadi pembunuh.
    ending cerita aslinya memang mirip seperti itu kok. ustadznya nyerah dengan argumen si kecil.
    cuman bedanya, si kecil bis itu dijewer. disetrap.

    pertanyaan semacam ini kan seharusnya sederhana. salah sendiri ustadznya gak bisa jawab :p

  2. wah, lama gak baca… sy tertarik ma cerita yang ini. bagus, banyak pesan tersirat..^^
    Ustznya, njawani tenan ya..
    kuro-ny (*bukan kurotsugi) terlihat bukan seumuran anak2… *mikir bingung

  3. weh…baru sadar nek bapak ustadznya njawani.
    masukan yang menarik. lain kali dicoba bikin ustadznya batak wis.
    tapi sepertinya klo dibuat label juga menarik. biar labelnya ada banyak. untuk sementara ini label yang muncul di tulisan sebelumnya cuma kucing soale…

    @kak zaza: emang kuro dalam cerita tampak seperti apa? setting waktu dan tempat untuk cerita ini gak aku ubah dari kejadian aslinya kok…

  4. wah, tanpa seizin saya, kenapa saya di panggil “zaza”???

    kuronya, kayak orang udah gede, hehe, wah,nek gede, jadinya gmna ya???
    hmm,nek gak di ubah, pertanyaan sy, berarti ank2 kcl skrang itu, emang udah punya pemikiran dewasa ya??? bgus2, kemajuan, dari zaman kecil sy. 🙂

  5. @Afra
    Kuro-nya itu “mengadopsi” tokoh Conan, Mbak.

    sedangkan Ustadz-nya jelmaan Kogorou Mori…

    konklusi: penulis cerita diatas ngefan ama karya2 Aoyama(Gosho) 😛 ^_^

  6. waaaw…kak wings sekarang ikutan manggil adik kelas dengan sebutan ‘kakak’.
    juga mulai ikutan jadi tantei dengan deduksi-deduksinya. jadi terpikir…bikin klub meow no tantei sekalian yuk^^

    @kak wings: mentang-mentang di dunia maya pake nick aoyama…konklusinya dibuat seperti itu.
    @kak zaza:two thumbs up…d^^b amiiiiiiin. metamorphosis tahap tiga jangan sampai gagal kali ini

  7. @kurogatsu
    Bung, setahu saya, panggilan ”Mbak” itu bisa kita gunakan ketika kita berjumpa dg saudari yang belum kita ketahui pasti statusnya; lebih tua kah? atau lebih muda?? atau setara?!?

    Nah, dalam kasus diatas, sejujurnya saya belum tahu persis siapakah beliau yang memakai nickname Afra itu *malah saya kira Afra sahabat blogger dari UI, eh ternyata Dek Hesti…*

    Lagi pula, saya bukan “follower”, ya.. Buktinya sampai sekarang saya belum punya akun twitter *ha?!*

    Selanjutnya, soal konklusi. Hehe…, itu ’kan sudah terbukti, Bung. *Sudahlah akui saja… 😛

  8. oya, back to case number one: cerita “dialog kecil” yang saya nisbatkan lebih tepat kalo diberi judul “Pembunuhan karakter seorang ustadz” itu.

    yah… turut mendoakan… semoga Kuro-nya sukses, makin shaleh dan makin bertaqwa kepada-Nya, aamiin 3X…

  9. Wah,sy ketahuan ma mbak risma…
    Yah,mbak,kok conan?
    Lain’a dong, detektif Q,aj., kalo conan,kasian si kuro-nya,ntar gak gedhe2… Hi3 peace..^^

    @mas kurotsugi: 4 thumbs aj,ben okeh… ^^V

  10. kak wings…judul yang kau berikan kejam nian. (menggambarkan karakter yang ngasih judul kali yak?)

    kembali lagi ke topik. kita bikin klub meow no tantei yuk…mirip kayak shonen no tantei punya conan :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s