uncategorized

secarik kisah gembala muda

Awan-awan besar sedang tak ingin menari ketika pagi telah dimulai. Ia biarkan awan-awan kecil menghiasi lantai dansa, langit yang biru, dan hendak membiarkan mereka menari sepuasnya. Seperti pada musim panas sebelumnya, mentari yang sedang bersemangat telah bersiap untuk memainkan melodi dengan tempo yang lebih cepat dari biasanya. Pada puncak hari ini, awan-awan kecil akan bergerak cepat, dan hampir tidak menyisakan bayang untuk makhluk-makhluk kecil dibawahnya. Tapi angin sedang malas bermain tampaknya. Serulingnya hampir tak menghasilkan melodi. Hanya sesekali terdengar menghasilkan suara mendesau yang lamat-lamat.

Nun jauh di bawah, gembala kecil berdiri di depan ternak-ternaknya. Memandang mereka satu persatu dengan lekat untuk memastikan tak ada dari mereka yang berulah atau kabur dari kandang. Entah mengapa, tiga domba ini sedikit merepotkan dari domba yang lain. Mereka pandai bicara dan berdiplomasi. Sungguh akan sangat menjengkelkan bagi gembala kecil jika mereka mulai beretorika dan mulai mengoceh, karena mereka tidak akan berhenti sepanjang hari.

Kawanan domba itu mulai tampak tidak sabar.

“Gembala kecil, kami lapar”, kata domba yang termuda. “Dan haus. Tunaikan kewajibanmu, dan beri kami makan.”

“Baiklah, tapi aku ingin kalian berjanji satu hal padaku. Aku akan memenuhi kewajiban-kewajibanku atasmu. Memberi kalian makanan, minuman, dan perlindungan dari serigala. Tapi kau juga harus memenuhi hak-hakku yang ada padamu.”, jawab gembala kecil.

Kawanan domba itu mengangguk setuju. Gembala kecil dengan segera membuka pintu kandang dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput di pinggiran desa. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau seluas mata memandang telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Rumput-rumput di padang ini kecil-kecil dan kurus-kurus. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab domba yang tertua.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil tongkatnya dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput yang lebih subur, jauh dari desa. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau bergizi tinggi telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Rumput-rumput di padang ini tidak enak. Serat-seratnya kasar dan membuat mulut kami sakit mengunyahnya. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab domba yang paling gemuk.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil tongkatnya dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput lain. Padang rumput dengan rumput-rumput kesukaan para domba. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau terlezat untuk para domba telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Padang rumput ini berbahaya karena dekat dengan hutan. Kami tidak ingin jadi santapan serigala ketika kami sedang asyik makan. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab para domba.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil sabit dan mulai bekerja dengan tangkas. Potongan-potongan rumput terkumpul dengan cepat. Gembala kecil dengan gesit mengikat rumput-rumput  itu dan memikulnya ke depan domba-dombanya.

“Baiklah, para domba. Rumput segar telah terhidang untuk para domba yang telah kelaparan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Kau telah membawa kami berjalan sangat jauh hari ini. Tapi kaki-kaki kami telah menjadi lelah karenanya. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab para domba.

“Baiklah….apa yang kau inginkan?”, tanya gembala kecil.

“Aku ingin kau menyuapi kami”, jawab para domba.

“Sepertinya aku punya ide yang lebih baik….Seharian ini aku telah membawa kalian berkeliling dari padang satu ke padang lainnya. Sedangkan hari ini sangat terik, dan aku sangat kelelahan setelah mengumpulkan rumput untuk kalian. Dan kalian tahu, aku lapar. Tapi aku pikir satu saja kambing guling yang dimasak dengan baik akan lebih dari cukup untuk memuaskan perutku. Sekarang, Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan buat aku kenyang.”

^_^

Aku pikir kalian sudah tahu apa yang terjadi setelahnya.

Pada sore hari, gembala kecil dan kucingnya yang merasa sangat kenyang kembali ke kandang dengan dua ekor domba. Mereka menjadi sangat penurut sejak saat itu. Dan kau tidak akan pernah menemukan domba yang rewel lagi di peternakan manapun yang kau kunjungi hari ini.

Iklan

5 tanggapan untuk “secarik kisah gembala muda”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s