uncategorized

re-framing

Baiklah…istilah ini memang diambil dari peristilahan psikologi. You may call it ‘the fuzzy one’. Tapi bukan berarti ‘yang nulis ini’ yang paling tahu segalanya tentang satu hal itu. Bukan juga ingin mengatakan ‘yang nulis ini’ punya definisi yang paling tepat untuk mendeskripsikan tentang satu hal itu. Lha wong, tulisan ini sendiri bertajuk re-framing, yang dengan sendirinya merujuk pada rekonstruksi definisi. Ingat, bukan destruksi lho. Tapi sekali lagi, rekonstruksi.

Yang namanya rekonstruksi, bisa saja melibatkan destruksi sebagai bagiannya. Ya, mirip-mirip orang bangun rumah lah. Kalau rumah sudah bobrok, bener-bener rusak, ‘njuk piye?’ satu-satunya pilihan adalah menghancurkan rumah itu. Sampai remuk ke pondasinya kalau perlu. Tapi lagi-lagi, ini tentang ‘mbangun omah’, mendirikan tatanan, membangun sistem. Apapun yang anda lakukan, mau jungkir balik, jumpalitan, atau melompat-lompat mirip kucing, semua itu harus diakhiri dengan sesuatu yang ‘membangun’. Bener ta?

Demikian halnya dengan hal-hal lain yang berawalan dengan prefix (re-). Entah apa itu reformasi, rekonsiliasi, rekonsolidasi, atau kembali ke judul, reframing itu sendiri. Bukan berarti yang nulis sok bijak atau gak tahu medan. ‘yang nulis ini’ juga mahasiswa kok. Juga masih muda. Sama-sama aktif di ‘dakwah’, ‘organisasi’, ‘pergerakan’, ‘lembaga’ atau apalah sebutannya. Intinya, ‘yang nulis ini’ tidak jauh beda dengan anda dan rekan-rekan kebanyakan. Sama-sama sudah merasakan serunya ‘menghancurkan’. Demo, aksi, lunjak-lunjak sambil teriak yel-yel. Juga sama-sama sudah merasakan sensasi euforia ketika ‘merubuhkan’ sistem lama. Entah itu sistem organisasi, ‘ya mbuh lah’ pokoknya apapun yang sampeyan sudah kerjakan. Tapi ‘yang nulis ini’ alhamdulillah, selalu diingatkan untuk menyelesaikan tahap akhirnya. Apa itu? ya kata setelah kata re itu tadi.

Kali ini misalnya, re-framing. Maka apapun yang ‘yang nulis ini’ lakukan, semuanya harus berakhir dengan kelahiran ‘frame’ baru. Frame disini maksudnya persepsi. Singkatnya, cara sampeyan melihat dunia lah. Bisa juga diartikan sudut pandang. Intinya, bagaimana cara anda menganalisis, mengintrepetasi, sekaligus menarik kesimpulan dari apa yang dilihat tadi.  Dalam hal ini semacam ini, ‘yang nulis ini’ tidak pernah merasa harus membatasi diri dengan identitas yang disandang. Status di KTP kalau diperiksa, ‘dipentelengi’ sampai berjam-jampun agama yang tertulis ya masih Islam. Kalau ditanya, ya masih shalat, masih rajin tilawah, masih suka ikut kajian-kajian. Tapi ‘yang nulis ini’ tidak merasa untuk tidak membaca injil, bible, atau semacamnya. Kadang kalau suntuk malah suka nonton ceramah bapak pendeta di TV.

Kalau dibanding-bandingkan, ‘yang nulis ini’ justru merasa kajian bapak pendeta lebih mantab (pake “b” saking mantabnya) dari kajian bapak ustadz. Tinggal memprogram otak dan ‘ngganti’ kata ‘yesus’ dengan kata Tuhan ‘Allah SWT’ maka yang kita terima dari kajian bapak pendeta adalah 100% motivasi, saran dan nasehat yang menyejukkan hati. Ada cerita-cerita lucunya pula.

Tapi jangan diartikan berlebihan nggih…

Tidak pernah terbesit sekalipun dalam pikiran ‘yang nulis ini’ untuk mengajak sampeyan untuk meninggalkan kajian-kajian keislaman. Apalagi sampai dikatakan memprovokasi memboikot liqa’ pekanan. Bukan itu. Itu tadi cuma sekedar contoh praktis penggunaan re-framing yang sering dilakukan ‘yang nulis ini’.

Sekedar cerita aja, kemarin, tepatnya beberapa bulan yang lalu ding, ‘yang nulis ini’ dimandati oleh dokter untuk konsultasi ke psikolog. Pasalnya, ‘yang nulis ini’ tiba-tiba hilang ingatan setelah mengalami pusing-pusing seharian. ‘yang nulis ini’ tentu saja bingung dan panik. Ingatan dan daya pikir adalah satu-satunya ‘yang nulis ini’ miliki untuk bertahan hidup. Maka ‘yang nulis ini’ pun tidak punya pilihan lain selain berkonsultasi ke psikolog. Sama bapak psikolognya, disuruh cerita-cerita tentang keseharian. Awalnya, dikira stress ‘njuk’ berpengaruh pada ingatan. Tapi di akhir bapaknya malah ketawa-ketawa. “njuk piye?”, bapaknya bilang. “kamu itu tipe orang yang hampir ndak mungkin stress”. ‘yang nulis ini’ tentu saja bingung mendengar jawaban bapaknya. Mungkin juga sama seperti sampeyan saat ini. “apa bener to pak?”, ‘yang nulis ini’ juga tanya seperti itu. Terus bapaknya bilang, “kamu juga tipe poker face, gak ada yang bisa bener-bener tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi mental kamu mirip angin sekaligus batu. Di satu sisi, kamu gak akan terpengaruh dengan apapun yang terjadi di sekitar kamu. Tapi di sisi lain, kamu bisa memanipulasi kondisi mental kamu sesuai apa yang kamu inginkan”.

Sama seperti sampeyan, ‘yang nulis ini’ juga bingung mendengar penjelasan bapak psikolog. Tapi setelah dipikir-pikir, bapak itu bener juga. Kembali lagi, kuncinya adalah re-framing yang secara tidak sadar sering dilakukan ‘yang nulis ini’.  Saking seringnya, mungkin itu pula yang menjadikan ‘yang nulis ini’ benar-benar menjadi ‘makhluk’ yang hampir tidak dapat dipahami oleh siapapun. Lha wong, dua orang yang membersamai ‘yang nulis ini’ selama hampir 22 tahun saja selalu bingung dengan polah ‘yang nulis ini’, ‘njuk piye’ dengan yang baru mengenal ‘yang nulis ini’?.

Tapi sudahlah, ‘yang nulis ini’ juga tidak pernah protes dengan itu. Yang penting kan ada komunikasi, dan semuanya pasti dijamin lancar.

Kembali ke bapak psikolog yang tadi, setelah berkonsultasi, ‘yang nulis ini’ menjadi semacam tercerahkan. Dengan ilmu yang didapat dari bapak tadi, ‘yang nulis ini’ punya frame baru untuk melihat diri sendiri. Nah, baru sadar. Disitulah kunci re-framing. Setiap manusia memiliki kemampuan me’re-framing’ apapun sebanyak apapun yang ia ketahui. Lho, bukan berarti ‘yang nulis ini’ ingin membuat  hidup anda ribet dengan kebanyakan re-framing. Yakin saja wis, ‘yang nulis ini’ tidak pernah bermaksud seperti itu. ‘yang nulis ini’ justru ingin membuat hidup anda lebih bahagia.

Ya sudahlah, ‘ben ora ndang ribet’, mari kita sudahi saja obrolan ini dengan tips dari ‘yang nulis ini’ agar sampeyan selalu bahagia. Caranya gampang kok, ciptakan kacamata kebahagiaan, lalu mari kita lihat segala sesuatu dari kacamata itu. Ini analoginya sama saja dengan kacamata kesedihan. Kalau orang sudah terbiasa melihat dari frame kacamata kesedihan, setiap apa yang ia lihat akan ia artikan sebagai kesedihan. Lihat orang mati, sedih. Lihat orang kecelakaan, sedih. Itu masih wajar. Tapi nantinya, kalau sudah terbiasa, lihat orang sukses, juga sedih. Lihat orang ketawa, sedih. Lihat kucing pake kostum ninja jingkrak-jingkrak juga sedih. Lho, terus kapan bahagiane kalau gitu?

Beda kalau pake kacamata kebahagiaan. Kalau dipikir-pikir juga, toh sebenarnya apa yang kita alami dalam keseharian tidak jauh berbeda satu sama lain. Tapi bagaimana persepsi kita terhadap peristiwa itulah yang menentukan apa yang kita rasakan. Maka jangan sampai heran kalau sampeyan menemukan orang yang bisa tersenyum di segala kondisi dan segala waktu. ‘Lha wong’, dia sudah pake kacamata kebahagiaan kemana-mana. Atau mungkin juga bahkan sudah mendobelnya dengan kacamata optimis, kacamata keceriaan, kacamata berpikir positif, atau ‘kacamata’ bagus lainnya. Istilah kerennya, sudah memakai kacamata multi-frame kebaikan. Maka jangan berpikir dia akan putus asa, sedih, ‘njuk’ ngambek. Sedangkan, apa yang dilihatnya justru hal-hal positif yang membuat dia semakin tersenyum lebar.

Seperti kata pepatah, “setiap kucing pasti punya masalah, tapi kucing pintar selalu menghadapinya dengan senyuman.”. Intinya, ya re-reframing itu tadi.

Satu hal yang oleh ‘yang nulis ini’ sangat yakini, kebenaran sejati dibuktikan dari sifat uletnya. Mau dijemur, dibanting, ‘diundet-undet’ seperti apapun, kebenaran sejati akan selalu bernilai benar. Kalau pengen contoh, ya tentang Tuhan itu. Tidak ada yang bisa menyangkal tentang keberadaan entitas tunggal yang mengatur dan menciptakan semesta. Bahkan oleh yang paling atheis sekalipun. Lho, ya bener ta? Bukankah yang Nietze tulis itu bahwa ‘tuhan dia’ telah mati. Setidaknya dia pernah meyakini bahwa ‘tuhan dia’ pernah ada dan hidup. Dalam bukunya itu sendiri, dia bahkan tidak mengatakan bahwa wujud Tuhan benar-benar mati. Ujung-ujungnya dia membuat analogi pembuat arloji. Kalau untuk yang menganut deisme, ya bisa saja mereka mengatakan tidak percaya Tuhan. Tapi mereka toh tidak bisa menyangkal keberadaan entitas ‘tak bernama’ yang punya kuasa atas semesta. Hanya saja, mereka menolak menyebutnya dengan sebutan ‘tuhan’. Tapi klo ‘yang nulis ini’ bilang, mereka cuma rada keblinger dikit, Dzat yang Maha Kuasa, Tunggal, dan Maha Perkasa dalam kamus leksikal dalam bahasa manapun juga didefinisikan sebagai Tuhan. ‘njuk ngopo’ harus repot-repot menciptakan istilah baru untuk satu hal yang sebenarnya sama.

Maka, mengingat sifat kebenaran yang super ulet itu, untuk menguji apakah kebenaran yang ‘yang nulis ini’ terima benar-benar benar. Maka ‘yang nulis ini’ rajin-rajin menguji setiap ‘kebenaran’ yang diterima. Dengan re-framing tentu saja. Kalau sampeyan komentarnya, “dasar ‘yang nulis ini’ kurang kerjaan”, maka ‘yang nulis ini’ bukannya jawab, malah nyengir. “njuk kowe ngopo ngurus?”. Ini toh tentang kehidupan pribadi ‘yang nulis ini’. Entah dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan, misi hidup ‘yang nulis ini’ cuma ada satu. Menemukan kebenaran sejati. Bukan jadi orang kaya, bukan jadi orang sukses, tapi ya itu tadi yang jadi misi hidup ‘yang nulis ini’.

Terlepas dari apapun ‘yang nulis ini’ telah torehkan, ‘yang nulis ini’ selalu mengaku sebagai hedonis sejati. Hidup itu harus dan pasti bahagia, katanya. Kalau ditanya tentang dalilnya, oh jangan kuatir, ‘yang nulis ini’ punya penyakit kambuhan suka berkelit dan cari alasan. Untuk satu ini, ‘yang nulis ini’ juga sudah menyiapkan dalil aqli wa dalil qath’i. Ada dasarnya kok. “Innallaha jamil wa yuhibbul jamal”, terjemahan benernya, ‘Allah itu indah dan mencintai keindahan’. Tapi kadang diplesetke juga ‘cah slengean’ semacam ‘yang nulis ini’ jadi, ‘Allah itu tampan dan mencintai orang tampan’. Hehehe

…no offense nggih. Cuma becanda kok.

Penjelasannya, kalau Allah itu Maha Indah, ‘njuk ngopo’ kita harus repot-repot melihat dari kacamata keburukan. Lha, bener ta? Maka jangan heran kalau ‘yang nulis ini’ punya kata-kata khas di ujung sms, petuah, atau obrolan.

“tetep senyum n semangat nggih^^”

Iklan

4 tanggapan untuk “re-framing”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s