uncategorized

baca saja…OK

Sungguh, aku juga tak begitu mengerti mengapa kisah ini harus dituliskan. Hal-hal semacam ini pada dasarnya sudah sering terjadi dan aku tidak pernah merasa bahwa ia dan semisalnya harus dituliskan. Diguratkan dengan pena dan dibaca olehmu. Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan sejak pertama kali aku melihat tulisan kasar gadis kecil itu, aku tahu bahwa aku harus menuliskannya dan membiarkan dunia tahu akan kisahnya.

Aku tidak begitu tahu darimana harus memulainya. Jadi aku akan mulai dari perasaan aneh yang tiba-tiba muncul sore ini. Perasaan aneh. Maksudku, benar-benar perasaan yang aneh. Aku tidak pernah mampu menjelaskannya dengan baik. Meskipun hal ini bukan kali pertama terjadi, bukan yang kedua, juga bukan yang ketiga. Aku hanya bisa mengatakan bahwa hal semacam ini sudah sering terjadi padaku. Seperti halnya peristiwa-peristiwa sebelumnya, tiba-tiba saja terlintas untuk pergi ke suatu tempat. Meskipun aku tidak begitu terpikirkan alasan untuk melakukan itu. Dengan ringan saja aku pergi ke asrama yang lama. Sedikit bertegur sapa dengan kawan yang dijumpa, lalu entah dengan alasan apa terduduk begitu saja di depan TV. Diam dan menunggu.

Peristiwa-peristiwa setelahnya, tidak terlalu menarik, atau terlalu penting untuk diceritakan. Singkat cerita, aku menemukan diri terdampar di sebuah toko buku. Dengan hanya mengikuti intuisi yang semakin kuat, menuju ke sebuah rak dengan buku bertumpuk-tumpuk yang tertata tak begitu rapi. Tapi aku tidak menemukan apa yang intuisiku inginkan diantara tumpukan buku-buku itu. Ia ingin mengatakan kepadaku tentang sesuatu hal berkenaan dengan buku-buku, tapi sama sekali tidak berkeinginan untuk mengambil salah satu dari sekian buku yang ditumpuk berderet. “Baiklah..”, kataku dalam hati. Aku tidak ingin kunjunganku sia-sia. Maka ambil salah satu buku secara acak, membayarnya, lalu bergegas pulang. Tepat seperti apa yang diinginkan oleh intuisiku.

Kali ini, ia membawaku melewati jalan yang jarang aku lewati. Mempertemukanku dengan seorang gadis kecil. Ia gadis kecil biasa. Sungguh, hanya gadis kecil biasa. Seperti halnya anak-anak lain yang sering kau temui di perempatan-perempatan lampu merah, atau terminal-terminal, dan stasiun yang sering kau kunjungi. Ia hanya gadis kecil biasa yang memakai kaos putih agak lusuh, dengan ukuran yang aku pikir terlalu besar untuk akan seukurannya. Bersandal jepit, dan berambut sebahu yang ia biarkan tergerai tanpa diikat.

Dan ia berdiri disana, di bawah lampu merah. Ditemani anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya. Aku melihat mereka cukup akrab, membuatku berpikir bahwa anak laki-laki itu mungkin saja kawannya sepermainan, atau kawannya satu sekolah. Penampilan mereka biasa-biasa saja, atau bahkan terkesan lusuh untukmu. Aku lebih suka menyebut penampilan yang seperti itu ‘sederhana’. Aku tidak tahu pilihan kata yang lebih tepat dari itu. Mereka tidak tampak seperti halnya anak-anak jalanan lain yang tampak compang-camping begitu parahnya. Atau, mereka juga sama sekali tidak aku lihat berpenampilan necis seperti halnya anak-anak SD seumuran mereka. Jadi, aku pikir kata sederhana akan sangat tepat untuk melukiskan mereka dalam segala hal. Dalam penampilan, atau juga dalam keseharian, gaya hidup, atau bahkan senyuman mereka.

Mungkin terkesan sebagai sebuah kebetulan. Aku diharuskan berhenti di lampu merah gadis kecil itu. Dia menghampiri kami, pengguna jalan di sore itu, dan tampak antusias memberikan sesuatu kepada mereka. Termasuk aku. Gadis kecil itu memberiku sebuah amplop kecil yang mulanya hanya aku kira sobekan kertas kecil. Di atasnya bertulis, “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Aku terdiam. Waktu membeku. Sebuah godam seberat satu ton serasa baru dipukulkan tepat ke kepalaku. Dan jitu menampar semua bilik kesadaran hingga ia terbangun sempurna.

Aku memandang gadis kecil itu. Tapi ia tak membalas, alih-alih pergi dan menyerahkan benda yang sama kepada pengguna jalan yang lain. Aku berpikir tentang keseharian gadis kecil itu. Rumah kecilnya, Ayah, Ibu, dan adik-adiknya yang mungkin masih kecil. Mereka mungkin saat ini sedang di tempat lain. Bertarung dengan dunia dengan cara mereka sendiri-sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa dunia kejam atau berlaku tidak adil kepada mereka. Mereka mungkin memiliki semangat hidup, bertarung, dan belajar yang lebih dari orang lain. Bahkan lebih dari apa yang aku miliki. Tapi aku sadar bahwa setiap orang memiliki porsi yang berbeda satu sama lain. Dan aku, kebetulan, mendapat porsi untuk menempati kursi kehormatan sebagai mahasiswa. Di sebuah universitas ternama pula. Tanpa berpikir panjang, baru saja membeli sebuah buku yang tidak bisa dikatakan murah. Sedangkan gadis kecil itu, mendapat porsi….menduduki bangku kursi SD yang mungkin hampir rubuh. Bertarung untuk…membeli sebuah buku tulis!

Jika kau ingin tahu, di satu bagian masa yang lain, aku mengalami yang tidak jauh berbeda dengan mereka. Saat ini aku memiliki bagian yang lebih. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya jika aku memberikan sebagian porsiku kepada mereka kali ini. Aku mengisi amplop itu, lalu memanggil gadis kecil itu untuk mengembalikannya. Untuk terakhir kali, aku membaca tulisan itu. Masih sama. “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Gadis kecil itu menerima amplop kecil itu, dan membalasku dengan senyuman.

Mataku terasa hangat. Tapi aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk tidak menangis di depan manusia lagi. Tapi, seperti kau tahu…sangat sulit untuk membendung ia tidak mengalir di sepanjang sisa sore itu. seperti halnya ketika tulisan ini diguratkan.

17 Dzulhijah 1430

Iklan

4 tanggapan untuk “baca saja…OK”

  1. entahlah….kau mirip dengan sosok seseorang yang banyak memberi inspirasi tukku…tapi cuma satu yang mirip…dia sering mengajariku intuisi dan kedua adalah air mata atau mata iar ya

  2. kak asih gak lagi ngigau kan…aku jadi bingung baca komennya. opo gara-gara aku nolak minum obat dari dokter dan menggantinya dengan kopi njuk dadi gak konek?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s