uncategorized

9-8-2009

Tekad!!! (diakhiri dengan tiga tanda seru)

#Memoar untuk sebuah pekik merdeka#

Menatap parang yang tergenggam

Bambu runcing yang terhunus

Senapan yang terkokang

Selongsong-selongsong peluru yang berserakan di parit perlindungan

Suara-suara tembakan dan teriakan perang!

Oh, demi tiap-tiap kata merdeka

yang diteriakkan hingga memekak

Darahku menggelegak, batinku berteriak hingga serak

Demi bunda bumi…mata ini takkan jenak terlelap

Hingga bumi negeri ini tlah berdiri tegak

Aku tlah menjual jiwa ini, hingga…

Tak akan ada ragu ketika tangan berparang menebas

Bambu-bambu runcing dihunjam dan dihantam

Dan senapan-senapan terkokang melepaskan peluru-pelurunya

Memburu nyawa pendosa di medan perang

Aku!

Aku! Sekali lagi!

Aku katakan padamu, kawan, saudaraku

Aku! Aku akan merahkan bumi dengan darah!

Dan pekik kan membahana  untuk kemenangan negeri dan bangsaku!

Hah? Tidak lagi!!! Kataku!

#memoar untuk mereka…bukan kau#

Asap kehitaman membumbung

Tinggi…kataku. selayaknya yang kau lihat

Medan perang tlah ramai dengan jiwa yang berjibaku

Meriam-meriam tlah terisi peluru-peluru baja

Tidakkah kau sadar? Kita sedang berperang!

Pedang…

Tombak yang terhunus!

Asap mesiu membumbung

Lagi, tinggi

Kau….

Dimana?

Musik? Suara-suara

#memoar untuk kesunyian#

Hahahaha…

Tertawa!

Merayakan bait kegembiraan

Hihihihihi…

Menangis!

Mengaduh dalam duka

Hmmmm…

Berguman!

Penasaran dan berpikir

Pssssttt…

Diam kataku!

Panglimaku sedang menyusun rencana perang

Mbeeeek…

Kambing terkutuk!

Diam kau, kataku

Kukuruyuuuuk…

Ah, sudah pagi!

Pertempuran baru akan dimulai

Dung dung dung…

Genderang!

Tiga pendosa telah tewas dihunjam keris

Hahahaha…

Tertawa!

Kali ini untuk menyambut sang Mati

Jleger…

Petir!

Hujan datang diwaktu yang salah

Peduli apa dengan hujan?

Perang baru dimulai!

Terima kasih sudah mau membantu

#memoar  untuk sebuah pencarian#

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Kau mau bantu? Baiklah

Kita mulai dengan mencari mereka

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Dimana? Aku bertanya padamu

Kau tidak tahu? Baiklah. Kita cari lagi lebih teliti

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Aku ingin menangis? Mungkin

Bumi yang luas serasa sesak untuk jiwaku

Dimana?

Ah, mungkin mereka tidak memang tidak pernah ada

Siapa? Oh maksudku….mereka

Ksatria-ksatria negeri yang berkuda perang

Ah iya….Aku ingat

#memoar untuk sebuah jatidiri#

Kau pernah berkata padaku

Bahwa kau adalah anak negerimu

Yang lahir, tumbuh, berkembang

Besar dan dewasa di tanah surga katulistiwa

Iya kan?

Kau juga pernah berkata padaku

Kau terlahir di negeri yang diberkati

Yang subur, kaya, makmur sentosa

Disucikan oleh darah-darah pejuang suci

Iya kan?

Ah, pastilah kau anak yang diberkati

Karena darah pejuang suci diwariskan kepadamu

Mengalir di setiap urat dan pembuluh yang berdetak

Berdetak hingga darahmu menggelegak

Pikirku, pastilah kau anak yang terpilih dari urat generasi

Mereka yang memilih terasing demi kebenaran

Keadilan, dan rela mati untuk membelanya

Tentu saja, itulah kau…

Hah?

Bukan katamu?

Lalu…

Pada siapa lagi bunda pertiwi harus mempercayakan dirinya?

Pena kematian

#memoar untuk penaku#

Hahahaha….

Aku tertawa, menertawakan kau

Kau telah salah sangka kawan

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Hahahaha….

Aku tertawa, lagi

Tidakkah kau lihat apa yang digenggam di tangaku?

Bukan pena kawan, ini pedang! Yang terhunus!

Tak kah kau lihat pedang ini tajam?

Ia terasah halus seakan ia adalah permata

Permata kematian! Bukan untukmu

Tapi untuk mereka, para pendosa

Lewat penaku, aku bertutur

Bercerita dan berkisah, mendendangkan dongeng

Kata dan bait yang tercipta dari ujung penaku

Teriakan mendentum untuk kematian yang mendengus kelam

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Katakan….aku adalah penulis kematian untuk mereka

Penaku abadi dalam makna

AARGHH….!!!!

#Memoar untuk teriakan#

Memekik!

Merdeka! Merdeka! Merdeka atau MATI!

Berteriak!

Maju! Lawan! Hancurkan Tirani!

Berdemo!

Pasang spanduk! Arak poster! Usung rontek!

Melantangkan suara!

Berteriak! Meracau dengan TOA! Bernyanyi-nyanyi kacau

Berkeringat!

Berpeluh! Berdempetan! Kakiku terinjak!

Marah!

Mendorong! Berjelalan! Nafasku sesak!

Anarki!

Melempari! Menghancurkan! Ditembaki polisi

Kecewa….

Masih untung kau tak mati…kau hendak gila…salahkan kedunguanmu atas itu…

ANAGRAM, A-N-A-G-R-A-M!

#memoar untuk kata yang sering aku dengar dari mereka#

MATI

M-A-T-I

KE-MATI-AN

DI-MATI-KAN

MATIKAN!!!

SAKIT

S-A-K-I-T

KE-SAKIT-AN

DI-SAKIT-KAN

SAKITKAN!!!

HINA

H-I-N-A

KE-HINA-AN

DI-HINA-KAN

HINAKAN!!!

BUNUH

B-U-N-U-H

PEM-BUNUH-AN

DI-BUNUH-I

BUNUH!!!

Baiklah…cukup

Aku sudah tahu kesenangan yang mereka rasakan

Perutku mual!!! (dengan tiga tanda seru!!!)

Iklan

2 tanggapan untuk “9-8-2009”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s