general

aozora…

Ketika itu, matahari baru saja hendak menyapa pagi dengan sinarnya. Semburat putihnya bahkan belum sempurna di ujung ufuk timur. Ujung lentik rerumputan masih basah oleh embun dan sisa tetesan hujan tadi malam. Suasana masih begitu sepi. Tidak ada suara kokok lantang ayam, celoteh burung-burung kecil di sela ranting cemara, atau bahkan sekedar suara gerisik serangga.

Ketika itu, masih di fajar yang sama, riak-riak angin kecil terkadang bermain jenaka memainkan ujung dedaunan dan ranting-ranting mungil. Suaranya sedikit bergemerisik, mungkin ia mencoba sedikit meramaikan fajar yang yang ia pikir tadinya terlalu sunyi. Ya, fajar itu memang sangat sunyi. Teramat sunyi malah. Langit yang hitam sedikit menyombongkan dirinya karena kali ini wajahnya bersih tanpa awan. Saking bersihnya, kau mungkin bisa dengan cepat mengenali tiga bintang berderet Alnilak, Alnilam dan mintaka sebagai rasi orion. Rigel yang kebiruan dan betelgeuse yang kemerahan juga akan bisa kau amati dengan bebas.

Di pagi yang sama, seekor kucing kecil, berbulu keabuan melompat dari sebuah kardus. Sebentar ia mengeliat meluruskan badan. Sejenak sekilas. Tampak seekor tikus coklat tampak berlari-lari kecil tidak jauh dari ia berdiri. Tapi aku tak tahu. Kucing itu tampak acuh melihat tikus-tikus yang sebenarnya tampak sangat gemuk bagiku. (kalau aku seekor kucing, aku pasti mengejarnya). Ia berjalan, perlahan terhuyung. Mungkin lapar. Kucing kecil itu memandangi gadis mungil yang sedang duduk berdoa di atas sajadahnya.

Si mungil tertawa memandangi kucing kecil. Wajahnya tampak bersih karena basuhan air wudhu yang ia ambil sejak jam tiga tadi. Ia tersenyum nakal memandang kucing mungil di hadapannya. Matanya kecoklatannya bergerak-gerak lincah. Tangannya memainkan bola-bola kecil dari karet dan melajukannya dengan cepat. Melemparkannya ke sudut ruangan dan membiarkannya memantul. Kucing kecil dengan cepat mencoba mengejar dan menerkam satu per satu bola itu. Ia melompat, berguling lalu berlari menyergap. Aku tak tahu apa yang lagi-lagi kucing itu pikirkan. Seenaknya saja melesatkan dirinya ke udara tanpa berpikir hendak kemana ia mendarat. Ah, hanya membuat kamar itu semakin berantakan pikirku.

“Aisyah…kamu dimana”

“Uwaa…umi datang. Cepat sembunyi pus. Syuh syuh, lari-lari-lari. Keburu umi datang nih. Ah gawat. Sembunyi. Cepetan. Ntar kamu diusir.”

Kumohon, jangan memandangku seperti itu.

Kau tahu? Sungguh, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan kucing itu mendengar perintah gadis kecil. Yang aku tahu, ia hanya terduduk dan mendongakkan kepala sambil memandangi tingkah gadis kecil yang semakin panik. Apakah ia berpikir? Kurasa tidak, dan tentu saja tidak. Toh ia hanya seekor kucing. Maka, dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

“Ugh…dasar kucing. Jangan meow-meow terus. Umi sebentar lagi masuk kamar.”

“Aisyah! Kamu ngobrol sama siapa siapa sayang?”

“Ah, enggak kok umi. Sebentar lagi.” Kucing itu berganti menggelengkan kepalanya ke kanan dan kembali berkata, “Meow…?”

“Ugh…kuciiiiing. Kesabaranku sudah habis.” Tangan gadis kecil itu dengan cepat menyabet selimut di atas kasur dan dengan sigap melemparkannya menutupi tubuh kucing. Tepat ketika pintu kamarnya terbuka. Kree….eek. Engsel pintu terdengar berderit karena sudah lama tidak dilumasi. Terdengar menyeramkan? Tidak juga. Rumah kecil itu memang sudah cukup tua. Tapi tentu saja bukan tipe rumah tua berhantu seperti yang engkau pikirkan.

Si gadis kecil segera berdiri di depan pintu. Ia mencoba bersikap senormal mungkin. Ia mencoba melepaskan senyum polos khas anak-anak. Tapi kali ini senyumnya lebih tampak seperti senyum nyengir yang konyol bagiku. Ia mengaitkan jari-jarinya di belakang punggungnya dan menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan kanan berulang kali.

“Hai Umi. Apa kabar dengan pagi ini?” seorang wanita muda berjilbab biru muda muncul dari dari balik pintu. Gadis kecil masih mencoba bersikap sewajar mungkin.

“Insya Allah…masih dipenuhi dengan cinta. Apa kabar dengan pagi ini ukhti?”

“Kekeuh dengan semangat dan senyuman”

“Eleuh, ukhti mungil yang satu ini. Makin aneh-aneh aja jawabnya”

“Kan umi yang ngajarin”

“Aduh, apaan nih…Katanya ingin jadi mujahid mungil. Tapi kok kamarnya berantakan sih. Tuh, selimutnya malah keteteran di lantai. Kasurnya belum juga dirapiin. Masak kamar akhwat bisa berantakan kayak gini?”

“Umm…” sambil mengerutkan dahi. Tampak berpikir sangat keras.

“Itu…ah, iya. Habis simulasi perang umi.” Jawabnya, sambil memperagakan adegan pertempuran seru. Ia mengambil sebatang kayu. Ya, benar-benar sebatang kayu. Bundar, berwarna kecoklatan, dan panjangnya lima puluh centi-an. (Kumohon, jangan tanyakan padaku bagaimana kayu itu bisa berada di kamar itu. Aku hanya tahu benda itu ada disana ketika itu.) dan dengan segera gadis itu memainkannya seakan sebuah senapan perang. Memegangnya erat, dan seolah-olah sedang melontarkan rentetan peluru-peluru. Dor…dor….dor…

“Perang?”

“Iya, perang.” Jawabnya. “Perang untuk membebaskan saudara-saudara kita di Palestina.”

“Eleuh…semangat sekali. Udahan dulu simulasi perangnya. Sudah hampir subuh. Mujahid kecil umi hari ini masuk sekolah pertama kan?”

“Iya tau. Ini juga mau dirapiin. Udah, umi keluar dulu. Biar Aisyah yang rapiin”

Tangan gadis kecil bekerja dengan cepat segera setelah pintu tertutup kembali. Satu per satu bola-bola berceceran itu dipungutnya dan dimasukkan dalam laci. Ia buka tirai yang menutupi jendelanya dan sempatkan sejenak menyapa pecahan-pecahan asteroida yang membara ketika memasuki atmosfer bumi. Indah bukan? Tentu saja indah. Tidak setiap saat kau bisa membuka tirai jendelamu dan mendapati meteorite yang berpijar ketika menuruni atmosfer di depanmu. Gadis kecil bekerja semakin cepat. Ia mengangkat selimut yang tergeletak di atas lantai dan mendapati makhluk kecil berbulu keabuan tadi sudah raib entah kemana.

“Uwaaaa….aaaa! kucingnya ilang…!!!!” ia panik.

^_^

Gadis kecil itu masih tampak sangat penasaran. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana kucing mungil itu tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Sepiring nasi yang ada di depannya belum satupun ia sentuh sejak ia berpindah ke depannya. Ia mendekapkan kedua tangannya dan membiarkan keningnya berkerut. Ia tampak berpikir sangat keras.

“Aisyah, kok makanannya belum dimakan?” sebuah suara menegurnya.

“Lagi mikirin apa sih? Serius amat.”

“Ah nggak kok mi, cuma mikirin sesuatu aja”

“Ya udah. Makanannya cepat dihabisin. Ntar kamu telat lho. Ngakunya pejuang cilik, mana ada pejuang cilik yang telat di hari pertama masuk sekolah.”

“Iya umi sayang. Sebentar lagi ni nasi juga habis.”

Tangan kecil itu kembali beraksi. Kali ini mereka dengan sigap memasukkan sendok-demi-sendok butir-butir nasi itu ke dalam mulut gadis cilik. Satu persatu, sedikit demi sedikit dengan segera piring penuh nasi itu tandas. Hmm…masakan umi memang paling enak, pikir gadis itu. Meskipun menu yang dihidangkan sebenarnya sangat sederhana, tetapi selalu terasa spesial jika umi yang memasaknya. Top abis wis. Buktinya, tujuh tahun sejak ia lahir tidak sekalipun terlintas rasa bosan melahap semua masakan yang telah dibuat umi. Jangankan tersisa, sebutir nasi pun tidak akan tertinggal jika umi yang memasaknya.

Sambil menikmati makanan yang terhidang di depannya, imaji gadis kecil meninggalkan dirinya. Andai mereka juga bisa menikmati makanan seperti ini pikirnya. Matanya menatap poster besar yang sengaja ia tempel di ruang makan kemarin sore. Gambar seorang anak memegang bendera palestina dan mengacungkannya tinggi udara terlihat sangat gagah di poster itu. Apakah mereka juga masih bisa makan seperti aku? Gadis kecil berumur tujuh tahun itu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah mereka masih memiliki rumah seperti aku? Apakah mereka masih bisa bersekolah sepertiku? Ah, imajinya membawanya melintasi benua. Mengantarnya pada sepotong lembah subur diantara Eufrat dan Tigris, bumi palestina. Ah tidak, aku tidak mau melihat lebih jauh lagi. Gadis kecil itu berkata pada hatinya.

“Umi, apakah saudaraku-saudaraku di palestina bisa menikmati makanan seperti ini?” wanita muda berjilbab biru itu terdiam mendengar pertanyaan dari gadis mungil di depannya. Pertanyaan ini sulit juga untuk dijawab, pikirnya.

“Mengapa kau bertanya tentang itu sayang?” tanyanya.

“Aku hanya ingin tahu. Itu saja” jawab gadis kecil itu.

“Kau tahu, perjuangan mereka tidak akan berhenti hanya sampai disini sayang”

“Sampai kapan umi?”

“Sampai bumi al-Quds merdeka sepenuhnya dari tangan-tangan penjajah. Hingga saat itu, perjuangan tidak akan pernah berhenti”

“Haruskah lebih banyak darah yang harus tertumpah lagi? Aisyah hanya tidak ingin menyaksikan lebih banyak teman-teman aisyah menjadi korban.”

“Apakah aisyah bisa melakukan sesuatu untuk mereka?” gadis itu kembali bertanya.

“Tentu saja bisa sayang” suara yang terdengar berat menjawab dari kejauhan. Dari seorang pria paruh baya yang tengah berjalan menuju ruang makan. Kali ini ia memakai kaos hijau dengan sebuah kaligrafi besar di atasnya ditambah beberapa ornamen gambar dan bendera palestina. Dipadu dengan celana denim coklat, ditambah jaket army yang sudah mulai luntur warnanya. Plus tidak lupa peci warna biru yang selalu dikenakannya.

“Uwaa…dasar abi. Gak sopan. Tiba-tiba nimbrung obrolan orang lain”

“Kan abi baru selesai mandi. Pertanyaan kamu yang tadi itu aneh.”

“Aneh? Apanya yang aneh bi?”

“Pertanyaan seperti itu sepertinya terlalu cepat untuk keluar dari anak seumuran kamu.”

“Ugh…dasar abi. Aisyah kan gak mau sama dengan anak-anak lain”

“Pengen beda maksudnya?”

“Iya dong…Aisyah tidak akan sama dengan anak-anak yang lain. Mulai saat ini, namaku bukan Aisyah. Panggil aku putri Aozora.” Gadis itu berkata dengan penuh rasa bangga.

“Lho kenapa namanya diganti? Nama Aisyah kan udah bagus. Itu kan nama Ummul Mukminin” Umi menimpali.

“Ah umi nih. Nama aozora kan lebih keren”

“Keren apanya?” abi ikut menimpali.

“Aozora itu artinya langit biru bi. Dengan tangan kecil ini, akan aisyah kembalikan langit biru pada anak-anak palestina. Huh, lihat saja nanti. Penjajah zionis akan aisyah buat kalang kabut dengan jurus-jurus rahasia putri aozora.”

“Duh ni anak. Makin lama makin enggak-enggak. Udah, itu minumannya cepet dihabisin. Ntar kamu telat lho?”

“Ugh…dasar abi. Gak apresiatif sama anaknya sendiri nih”

“Emang kamu tahu arti apresiatif”

“Umm…apa ya?” ia kembali berpikir sangat keras. “Pokoknya ya itu deh…”

^_^

“Aaaah….Pagi yang menakjubkan. Hari ini aku belajar banyak hal.”, kata Aisyah dalam hati. “Banyak hal yang harus disyukuri.”, tambahnya. Langit masih biru, padang hijau masih luas terhampar, dan rahmat Allah masih mengalir tanpa batas. Ia menghitungnya satu per satu. Ia masih bisa sekolah, punya abi dan umi, punya banyak teman (ia menambahkan-yang kadang galak dan nyebelin juga sih), punya banyak makanan, dan tidak lupa, waktu yang banyak untuk ia bermain, melompat, berlari, atau bahkan bergulingan sekalipun. Ah (ia menambahkan), juga seekor kucing lucu yang dengan sukses ia selundupkan ke kamarnya sore kemarin. Hi hi hi…

“Allah itu Maha Baik ya…”, gumannya dalam hati. Ia ingin meneruskan menghitung rahmat Allah satu per satu. Tapi nikmat terakhir yang ia hitung membuatnya teringat dengan sesuatu. Si kucing! Ia panik. “Ah, bisa gawat kalau ketahuan umi.”, pikirnya dalam hati. Ia tahu umi tidak begitu suka dengan kucing, dan dengan alasan apapun (meskipun kelihatan dipaksakan banget) selalu menolak kehadiran kucing di rumah.

“Kucing kan lucu, umi”, protesnya pada suatu kali.

“Iya tahu. Tapi tetep aja kamu nggak boleh miara kucing, ai”

“Loh kenapa….?”

“Karena kucing diawali dengan huruf K. Karenanya, bisa menularkan virus toksoplasma” (kelihatan gak nyambung banget kan). Dalam kesempatan lain, umi menjawab “Karena kucing salah satu keluarga vertebrata. Dalam ilmu biologi, nama latinnya felis domestica. Secara alami, dia bermusuhan dengan canis familiaris. Ntar kalau ada canis familiaris lewat di depan rumah gimana? Mereka pasti berantem tuh. Ntar bunga hibiscus rosasinensis yang baru umi tanam kemarin mati keinjek-injek….”, jawab umi panjang lebar.

Uwaaaa…..aduh umi, ai gak paham.

Sudahlah, tidak ada gunanya membantah umi. sebelum umi mengeluarkan jurus-jurusnya yang lebih mematikan, kita ambil aja intinya. Umi tidak suka kucing. Titik. Gak pake koma. Ditulis diatas kertas folio margin 3, 3, 3, 3 pakai huruf Times New Roman spasi dua.

Malang benar nasibmu, kucing.

Tiba-tiba saja ia disana. Aku hanya bisa terdiam. Kaku. Seperti halnya aisyah yang hanya terpaku. Melongo memandangi makhluk keabuan muncul dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Kucing kecil itu dengan raut muka penuh dengan rasa penasaran berdiri di celah pintu yang terbuka. Toh ia hanya seekor kucing. Aku tidak tahu apa yang makhluk kecil itu pikirkan. Aku bahkan ragu apakah ia bisa berpikir. Maka, sekali lagi dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

Gawat!

Bisa ketahuan!

Maka sebuah tindakan penyelamatan kembali diambil. Tangan aisyah kecil sekali lagi bergerak dengan kecepatan luar biasa tinggi. Kali ini untuk menyambar tas dan sepatu yang sedari tadi sudah disiapkannya. Dengan tak kalah cepat mengenakannya, lalu berlari ke jalan. Kabur!

“Aisyah berangkat dulu umi! Assalamualaikum!”

Sejenak hening. Lalu. Sebuah teriakan bergema di udara, “Aiiiiii! Ini kucing siyaaapaaaaaa?!!!” Gadis kecil itu nyengir.

“Ah sudahlah. Ngejelasinnya nanti aja sepulang sekolah”, batinnya dalam hati. “Sekarang, Aisyah…eh nggak ding…putri aozora harus fokus sekolah.”

“fokus…fokus.. fokus…!”

Putri aozora harus tumbuh jadi muslimah yang pinter, cerdas, minimalnya dapat gelar master lah. Ditambah berbudi, punya akhlah mulia, sopan, (dan cantik tentunya-ia menambahkan sambil tersenyum-senyum) agar bisa menolong teman-teman di Palestine. Juga biar bisa nikah dengan ikhwan soleh yang militan. Hi hi hi

Kali ini ia membiarkan matanya memandang bebas ke langit di atasnya yang perlahan mulai terang oleh cahaya matahari. Kini, sudah tidak terlihat lagi hujan meteorit seperti yang disaksikannya seperti saat pagi tadi. Langit kini tampak biru. Dengan hiasan awan tipis yang tidak terlalu tampak oleh mata biasa.

Pagi yang indah. Beberapa burung tampak berloncatan dan berkicau sesukanya, tapi masih terdengar harmonik dan merdu. Angin berhembus pelan, mendesau. Dan titik-titik embun yang menetes perlahan dari ujung-ujung rerumputan dapat kau saksikan seperti butiran intan di tengah padang. Udara semakin terdengar riuh. Ramai oleh suara-suara.

“Satu lagi nikmat Allah di pagi ini.”, katanya dalam hati. Ia menarik nafas panjang, lalu sejenak membiarkannya memenuhi rongga parunya. “Angin, titip salam buat saudara-saudaraku di palestina ya. Katakan pada mereka, tunggu sebentar lagi. Putri aozora akan datang menyelematkan kalian. Tetep semangat dan senyum nggih…”

Iklan

12 tanggapan untuk “aozora…”

  1. rian…
    antum tidak meminta izin ke ana masang link…hehehe
    becanda ding…
    sebagai gantinya, ana ga bilang ke antum klo ana masukin nama antum ke link ana..
    heheheh…..
    HAMASAH

  2. iya, saya aktif di DPM IPB…
    tapi masih dalam tingkat fakultas..

    saya sering diskusi dengan yang lain….
    jadi,diskusi adalah makanan sehari-hari saya…hehehe

    kapanpun butuh diskusi, hubungi no mer yang tertera pada baawah layar televisi anda…
    pesan sekarang juga,
    persediaan terbatas

  3. hee…
    bgini, suatu malam (sekitar jam 21-an) di depan kamar ada 3 meong. 1 ibunya dan 2 anaknya. lucu sekali. berjalan mengendap-endap melewati saya yg lg baca2. dasar FBM (Fans Berat Meong), sy tertarik untuk megang ntu kucing, esp.anaknya. Lha, ibunya takut sama sy (sy nyeremin ya? padahal udah senyum2 tu sy..), eh anaknya ditinggal. ntu anak meong yg mo ta’ pegang malah lari juga ke atas pegangan tembok. takut juga kali sama saya. kebetulan di kamar sy di lantai 2, ada pembatas tembok utk menjaga biar ndak jatuh ke lantai 1. eh tp si anak meong ntu malah lari kesitu, trus dia hampir mo menjatuhkan diri krn ada sy yg mau mendekati dia. sy kan berniat menyelamatkan dia, biar ndak jatuh. mo ta’ pegang, eh dia malah milih menjatuhkan diri ke lantai 1. terjun bebas. untung di bawah ada jemuran. jadi tubuhnya nyangkut dulu ke jemuran sebelum akhirnya jatuh ke lantai…heehee kasian ya..tp ndak apa2 kok. dia msh bisa lari kencang. tp ibunya nyari2 dia. semalaman mengeong2, bikin sy merasa bersalah ndak bisa tidur 🙂 ibunya sy kasih nama Bobi. heee…betina tapi dikasih nama jantan. biar kuat & macho, spt laki2…hee..
    cerita yg aneh..

  4. iya ya? kan ndak sengaja…
    sekarang udah bersatu lagi kok. kemarin malam mengeong2 lagi. bikin sy ndak bisa tidur.. sepertinya si Bobi ngajarin anak2nya biar mandiri (nyari makan sendiri) 🙂
    BTW, Pak kats lg KKN ya? dmn Pak? wah, jadi teringat masa2 KKN setaun lalu..
    jangan lupa oleh2 ya Pak…

  5. :):):)
    piye kabare ?
    hehe…
    trnyata dah berubah.
    gelap!
    antum dmn KAtS, g kelihatan je.
    oke, siplah..
    metamorphosa lg..
    lebih bagus.
    n keren tulisane.
    Semangat !.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s