uncategorized

case-001

Ah, apakah menulis sulit?

Hanya menuliskan beberapa kata, memberinya makna leksikal. Lalu merangkainya membentuk baris-baris kalimat, memberinya makna gramatikal. Hanya menaruh kepada kata-kata itu sebuah makna. Memberinya arti, entah itu kisah, narasi, prosa, eksposisi, atau lantunan syair dan puisi-puisi. Itulah menulis. Ambil saja secarik kertas, lalu biarkan jemari-jemari mungil itu menari-menari mengikuti fluks gelombang otak yang meledak-ledak. Ciptakanlah keajaiban dengan tulisan.

Dalam narasi ini –meskipun entah apakah tulisan ini memang layak disebut narasi- menulis toh adalah sebuah keajaiban. “keajaiban yang hanya bisa ditemukan pada orang-orang yang bermetamorfosa”, kata si penulis. Faktanya, orang yang menciptakan tulisan ini toh menguasai ketrampilan membuat tulisan hanya dalam satu malam. Malam yang ajaib. Entah. Malam itu ia tiba-tiba saja mampu bermain dengan ribuan kata-kata yang menari di benaknya dan menciptakan tulisan pertamanya. Sebuah prosa, yang hanya berkisah pendek tentang seekor kucing dalam imajinasinya. Bukan tulisan yang luar biasa memang, toh hanya ia yang mampu menangkap metafora-metafora yang ia rajutkan dalam simbol-simbol tulisan pertamanya. Egois. Biarlah. Ia memang tidak memberikan petunjuk sedikitpun untuk orang lain memahami elan tersembunyi dari kumpulan metafor itu. Tapi baginya, tulisan itu adalah sebuah keajaiban.

Baiklah, ia memang pernah memiliki guru-guru bahasa yang ‘menurutnya’ luar biasa. Dalam satu bagian penggalan narasinya tentang masa lalu. Dan memang pada kenyataanya demikian. Guru-guru bahasa itu adalah karakter yang telah membentuk kepribadiaannya sehingga anda menemukannya seperti sekarang ini. Seorang ‘guru’ yang menyadarkan dirinya dari ketololannya tidak bisa menulis huruf ‘f’, seorang ‘bapak’ yang mengajarinya tentang narasi sebuah masa, seorang ‘ibu’ multi talenta yang menguasai langgam-langgam jawa nan susah dibaca, sekaligus ‘kawan’ untuk bercanda, dan sekaligus ‘teman’ debat yang kadang menjengkelkan. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Ajaib. Tapi toh mereka belum mampu membuat si penulis mampu bermain dengan rangkaian kata-kata dalam otaknya, menulis!

Baiklah, kadang-kadang penulis juga hilang sebagian kesadarannya dan tiba-tiba menuliskan ‘sesuatu’ yang menarik. Ia duduk di depan mesin ketik tua, dan tiba-tiba jari-jarinya menari-nari dengan cepatnya diatas tuts-tuts yang sudah berkarat. Ia tiba-tiba menulis! Sebuah puisi aneh dengan permainan rima, bertajuk si Joni. Entah, ia juga tidak tahu. Tulisan itu seketika sudah ada di depannya ketika ia tersadar. Diketik rapi, dengan spasi 1,5 diatas kertas bekas bungkus kacang yang entah ia temukan dari mana. Kesurupankah? Ia tidak yakin. Ia tahu reputasinya selama ini mungkin cukup buruk untuk membuat jin kelas teri terjengkang terbirit ketika melihat tubuh kurusnya melintasi kuburan. Dan tulisan itu? Pada akhirnya toh hilang. Tidak ada yang tahu. Nasibnya entah berakhir di tumpukan sampah, hilang dan menyatu dengan bumi, atau kembali menjalani takdir sebagai bungkus kacang.

Lalu apa yang membuatnya menjadi penulis?

Sebuah keajaiban. Sama seperti keajaiban lain yang membuatnya tiba bisa membaca al-Quran dengan fasih ketika pertama menginjakkan kaki di bumi jogja, juga tidak jauh berbeda dengan keajaiban yang membuatnya tiba-tiba memahami arti dari ayat-ayat al-Quran yang ia baca. Sebuah keajaiban, seperti halnya keajaiban yang mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa di sekelilingnya. Tapi ia tidak sedang berbicara tentang keajaiban yang datang tiba-tiba begitu saja. whuz…selayaknya angin yang mengalir, lalu tiba-tiba hidupnya berubah drastis. Tidak, ia tidak berbicara tentang keajaiban yang seperti itu. Entah bagaimana bentuk keajaiban itu, semua keajaiban-keajaiban itu hadir sebagai konsekuen dari pilihan-pilihan yang telah ia ambil, dan tentu saja, ada resiko besar dari keajaiban-keajaiban itu. Katakanlah, kawan kita yang satu ini adalah pengecualian. Beberapa keajaiban yang diberikan kepadanya datang dengan tiba-tiba. Tapi toh tidak semua keajaiban itu datang seperti itu. Adakalanya, sama seperti ia ketika menemukan keajaiban dari makna metamorphosa, ia butuh waktu berbulan-bulan. Bukan waktu yang singkat tentu saja. Atau, ketika ia menemukan 3 orang luar biasa yang merubah total hidupnya, ia butuh waktu 7 tahun untuk menarik analogi dari 3 orang itu!

Baiklah, katakan saja si penulis menguasai kemampuan memanipulasi kata-kata dalam satu malam. Sebuah keajaiban seketika? Barangkali bukan. Seperti yang telah diceritakan dalam narasi sebelumnya, si penulis juga beberapa kali sempat berlatih menulis. Kadang, ia mengalami kejadian-kejadian ‘aneh’ seperti yang sudah dikisahkan, tapi tak jarang pula kertas tak berdosa ukuran A4s di depannya menjadi korban. Diremas, dicabik, diremuk, terserpih menjadi lembar-lembar kecil sobekan kertas putih, lantaran penulis frustasi dan gemas akan ketololannya pada dirinya sendiri. Ia tidak menghasilkan tulisan apapun! Atau, anda mungkin menemukannya ringan bermain dengan diksi atau rima. Tapi toh itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar, dengan berjam-jam bermain plesetan, lalu tertawa terbahak karena saking lucunya.

Ia memilih menjadi penulis karena ia ingin menciptakan keajaiban.

Bayangkan saja, kata-kata itu mungkin bisa teronggok begitu saja dalam otak. Meracuni neuron sebagi hafalan tanpa makna. Tapi menulis telah menciptakan keajaiban dengan memberikan makna pada setiap huruf, morfem yang digoreskan. Pada setiap kata, fonem yang dituliskan. Dan pada setiap kalimat, bait dan syair yang dibacakan pada akhirnya. Ia memberinya ruh, semangat jika tulisan itu berapi-api. Melodi, ketika tulisan itu ditulis dengan bait-bait ritmis. Dan symphoni, ketika tulisan itu rancak bermain nada, rima, dan rentak ritmis yang menyihir. Menulis telah menciptakan keajaiban bagi kata-kata. Ia memberikan kepadanya makna.

Ah, apakah menulis itu sulit?

Menulis adalah keajaiban. Ciptakan saja keajaiban dengan penamu sendiri.

Iklan

6 tanggapan untuk “case-001”

  1. ketika kata tak percaya lagi ama huruf…yah…bgmn mungkin ada keajaiban menulis
    dunia kata adalah misteri hidup yg mampu ungkapkan berjuta juta makna….selamat anda telah menjadi penulis

  2. bukane mirip. selain judul, semuanya persis malah. kan yang nulis sama. pengene sih cuma ditampilin disini. tapi tak pikir ulang, knapa gak direpost sekalian aja.

    ^_^ V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s