general

epistema 1

Tiba-tiba saja, naluri epistema itu muncul. Mengambil alih pikiran dan memaksa nalar untuk merevolusi makna dan definisi. Tiba-tiba saja, logika mempertanyakan semua definisi dan memaksa akal memuntahkan semua paradigma. “muntahkan saja semuanya” ia berkata kepadaku. “dunia yang kau kenal tak lain hanya manifestasi kebohongan-kebohongan aksioma manusia.”

Tiba tiba saja, ia bertanya tentang leksikal, bagaimana runtutan huruf-huruf yang berbaris memanjang itu tiba-tiba menjadi sebuah kata yang berbunyi dan memiliki makna. Ia memaksaku nalarku berpikir gramatik, runtutan kata yang kacau itu dilemparkan padaku dan aku disuruhnya merangkainya menjadi barisan kalimat-kalimat. “apa itu hakekat?” ia bertanya kepadaku. Aku diam berpikir. “apa itu makna?” ia bertanya lagi. Mungki karena nalarku yang tidak mampu berjalan, atau entah karena aksioma massa telah menipuku. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Akhirnya, ia bertanya lagi padaku, “apa itu kebenaran?”. Jawabku, “entahlah”.

Tiba-tiba saja, lintasan-lintasan masa itu muncul dari benakku. Aku melihat masa berlari. Ia melintas cepat, tapi aku masih bisa melihat wujudnya yang seperti kabut. Di sela-sela kabut itu, aku melihat kawanan pengembara asing. “dari mana kau”, aku bertanya kepada salah seorang diantaranya. “aku tidak tahu. Waktu tiba-tiba telah menyeretku ke tempat ini”. “siapa namamu?” aku bertanya lagi. “mereka memanggilku kehidupan. Apakah kau melihat kawanku yang lain?”. “tidak” jawabku. “aku belum melihat pengembara-pengembara asing seperti kalian sebelum ini”.

Tiba-tiba saja, aku enggan bercakap lagi dengan pengembara-pengembara asing ini. Tapi naluri epistema itu kembali muncul dan mengambil alih fungsi motorik otakku. “jika kau memang kehidupan, ceritakan padaku apa itu harapan” pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar. “harapan hanya ilusi”, jawabnya. “mengapa kau berkata demikian?” aku bertanya menyelidik. “bukankah mimpi itu ada karena harapan?”. “harapan hanya ilusi. Ia tidak pernah nyata. Ia muncul karena manusia butuh pembenaran atas kegagalan dan realita”. Aku bertanya lagi padanya, “lalu, apa yang telah membuat manusia bertahan dari menghadapi dunia yang seperti ini”. “percaya” jawabnya. “percaya atas apa?” protesku.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba saja, pengembara-pengembara asing itu pergi dan meninggalkan pertanyaan besar bagiku. “kau sendiri yang harus mencari jawabannya”, teriak salah satu mereka dari kejauhan. Aku berbalik, seraya merenungkan dialog antara aku dan pengembara-pengembara asing tadi. Aku bertanya pada nalarku, “sudah puaskah kau?”. Tapi ia tidak menjawab. Lalu, aku bertanya kepada kawan disampingku, “katakan padaku, apakah kau berpikiran sama seperti pengembara-pengembara asing itu?”. Ia juga tidak segera menjawab. “apa yang kau pikirkan kawan, jawaban apa yang kau harapkan dariku?”. “Tidak ada”, jawabku. “aku tidak pernah berharap akan mendapatkan jawaban apapun. Tapi aku percaya bahwa engkau akan menjawab setiap pertanyaan apapun yang aku ajukan”. “demikian pula aku” tambah kawanku. “aku selalu ingin bisa menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan padaku. Tapi aku tidak pernah berharap untuk itu. Menaruh harapan dan mimpi akan terasa sangat menyakitkan ketika realita datang dan menghempaskannya begitu saja. Yang bisa aku lakukan hanyalah percaya, bahwa setiap jawaban yang aku berikan akan memuaskan rasa ingin tahumu dan membuatmu lebih bijak melihat kehidupan”.

“mungkin kau benar”, kataku. Mimpi, harapan, atau entah apapun namanya adalah entitas imajiner yang hanya ada dalam benak nalar manusia. Bisa saja, ia hanyalah angan sebagai wujud manifestasi ketidakpuasan alam bawah sadar manusia akan realita. “bisa saja”, kataku. “dunia tak butuh mimpi” kawanku menimpali. “Kurasa kau benar” jawabku. Mimpi tetaplah sebuah mimpi, dan harapan bisa jadi hanya wujud pelampiasan atas kepahitan masa lalu. Setiap orang bisa saja punya mimpi, tapi hanya orang-orang yang percaya dengan harapan dan mimpi-mimpinya, yang bisa merubah realitas

—)!(—

Iklan

3 tanggapan untuk “epistema 1”

  1. assalamualaikumwrwb…
    umi hurairoh datang menjenguk anaknya..he..makin lincah nian tingkahnya..
    .kttmu dlm dunia maya yg tanpa batas berdialek

    ……………………..tiny but very dangerous………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s