general

dialogia

Suatu pagi, seorang anak terbangun dan menemukan dirinya tengah menatap dunia. Dengan penuh ketidak percayaan ia berkata, “inikah dunia?”. Ia menemukan tak satupun jawaban terdengar menjawab pertanyaanya. Kecuali oleh orang asing yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Orang asing itu pun menjawab, “ya inilah dunia”. Anak itu tertegun sejenak.

“ah, mungkin aku salah lihat” ia mencoba berargumen.

“inilah dunia!” orang asing itu mengulangi perkataanya.

“tapi ia tidak seperti yang diceritakan padaku. Seharusnya ia tak seperti ini. Dimana harmoni? Dimana aku bisa menemukan keterpaduan? Yang aku lihat disini adalah kekacauan” anak itu menukas.

Lelaki itu tertawa…keras sekali.

“dunia yang diceritakan kepadamu tak pernah ada”

“lalu mengapa ia dikisahkan”

“karena ia bagian dari mimpi”

“sok tahu, siapa kau? Bagaimana kau tahu tentang itu?”

“aku masa. Aku hidup dan menyaksikan segalanya”

“omong kosong”

“aku telah melihat banyak hal. Dan aku katakan padamu, inilah dunia”

“lalu mengapa ia begitu berbeda dengan yang diceritakan padaku?”

“karena ia bagian dari pilihan. Manusia telah memilih dunia yang seperti ini.”

“apa yang bisa aku lakukan disini. Yang aku lihat hanya sekumpulan manusia berkerumun dan mendengungkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku bahkan ragu apakah mereka manusia seperti yang dikisahkan kepadaku”

“kau benar. Itulah manusia”

“aku juga manusia. Tak lama lagi aku juga akan dewasa selayaknya manusia. Mengapa aku tidak seperti mereka?”

“karena kau tidak memilih untuk seperti itu?”

“mengapa aku tidak memilih seperti itu? Mengapa aku harus menjadi sosok yang terasing di tengah bangsaku sendiri. Apa yang telah membuat sosokku harus begitu spesial. Aku tidak melihat sosokku jauh berbeda dengan manusia-manusia itu.”

“pertanyaan bodoh. Karena kau memiliki cinta. Lalu dengan cinta itu, kau mencari satu demi satu kepingan-kepingan kebenaran. Merangkainya dan menyatukannya untuk menggantikan aksioma-aksioma yang membelenggu pikirmu. Kau lepas semua yang kau miliki dan menggunakan semuanya untuk menemukan sosok yang kau cintai.”

“yang aku cintai?”

“kau yang lebih tahu. Karena kau yang telah memilih untuk mencintainya lebih dari apapun.”

“hmm..ph”, anak itu menghela nafas. “aku heran. Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang dunia hai orang asing. Bagaimana pula kau tahu tentang diriku. Aku tidak pernah merasa bertemu denganmu sebelum ini.”

“sudah aku katakan, aku adalah masa. Sisi lain dari dunia yang selalu luput dari kebanyakan mata-mata manusia. Aku hadir bersamaan dengan dunia ketika ia muncul dari ketiadaan. Aku menyaksikannya tumbuh, aku melihat satu demi satu fase-fase zaman berlalu dan berganti. Aku menyaksikan ketika makhluk-makhluk pertama tercipta, tumbuh, berkembang dan memenuhi bumi dengan jenisnya. Aku memperhatikan setiap inci demi inci polah manusia yang terus membawa bumi pada kehancurannya. Aku juga menyaksikan kau. Bagaimana kau lahir dari sosok yang kau namai ibu. Bagaimana juga kau bertingkah dan berlaku jumpalitan di atas bumi. Aku menyaksikanmu terkapar tak berdaya ketika kau diperdaya sebuah ilusi yang manusia-manusia itu nyata-nyatakan sebagai dunia. Aku juga menyaksikanmu terbangun, tiba-tiba terasing dengan semua hal sebelumnya sudah begitu akrab bagimu. Aku menyaksikan semuanya.”

“dunia terasa begitu indah sebelum ini. Mengapa ia tak seperti yang pernah aku kenal. Setiap inci, setiap jengkal terasa begitu asing. Rasa muak dan ketidakpuasan tiba-tiba melingkupi semua inderaku. Seakan aku bukan lagi bagian dari dunia ini. Apakah aku bukan manusia?”

“kau tidak berbeda dengan mereka. Kau tidak lain hanya manusia biasa. Sama saja seperti mereka. Tetapi kau telah memilih untuk lepas dari ilusi yang manusia-manusia lain ciptakan dan memilih menggunakan nuranimu untuk melihat dunia seutuhnya”

“tapi apa yang aku lihat sekarang. Hanya kekacauan. Dimana harmoni? Dimana keterpaduan? Yang aku lihat hanya hati-hati yang ketulusannya telah digantikan oleh keserakahan dan jiwa-jiwa yang tak mampu lagi menampung luapan-luapan amarah. Apakah mereka masih menyebut dirinya manusia? Mereka tak lebih dari monster di mataku.”

“apakah kau tidak puas dengan keadaan dunia yang seperti ini?”

“tentu saja ya”

“mengapa kau tidak mengubahnya sesuai mimpimu? Toh kau sudah melihat semuanya dalam mimpimu. Aku tidak perlu lagi mengajarimu tentang dunia yang seharusnya.”

“mengapa dunia begitu lain dengan yang dikisahkan kepadaku”

“karena ia bagian dari manusia. Ia bagian dari dirimu, dan kau yang menentukan seperti apa rupa dunia”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s