05
Feb
10

secarik kisah gembala muda

Awan-awan besar sedang tak ingin menari ketika pagi telah dimulai. Ia biarkan awan-awan kecil menghiasi lantai dansa, langit yang biru, dan hendak membiarkan mereka menari sepuasnya. Seperti pada musim panas sebelumnya, mentari yang sedang bersemangat telah bersiap untuk memainkan melodi dengan tempo yang lebih cepat dari biasanya. Pada puncak hari ini, awan-awan kecil akan bergerak cepat, dan hampir tidak menyisakan bayang untuk makhluk-makhluk kecil dibawahnya. Tapi angin sedang malas bermain tampaknya. Serulingnya hampir tak menghasilkan melodi. Hanya sesekali terdengar menghasilkan suara mendesau yang lamat-lamat.

Nun jauh di bawah, gembala kecil berdiri di depan ternak-ternaknya. Memandang mereka satu persatu dengan lekat untuk memastikan tak ada dari mereka yang berulah atau kabur dari kandang. Entah mengapa, tiga domba ini sedikit merepotkan dari domba yang lain. Mereka pandai bicara dan berdiplomasi. Sungguh akan sangat menjengkelkan bagi gembala kecil jika mereka mulai beretorika dan mulai mengoceh, karena mereka tidak akan berhenti sepanjang hari.

Kawanan domba itu mulai tampak tidak sabar.

“Gembala kecil, kami lapar”, kata domba yang termuda. “Dan haus. Tunaikan kewajibanmu, dan beri kami makan.”

“Baiklah, tapi aku ingin kalian berjanji satu hal padaku. Aku akan memenuhi kewajiban-kewajibanku atasmu. Memberi kalian makanan, minuman, dan perlindungan dari serigala. Tapi kau juga harus memenuhi hak-hakku yang ada padamu.”, jawab gembala kecil.

Kawanan domba itu mengangguk setuju. Gembala kecil dengan segera membuka pintu kandang dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput di pinggiran desa. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau seluas mata memandang telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Rumput-rumput di padang ini kecil-kecil dan kurus-kurus. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab domba yang tertua.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil tongkatnya dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput yang lebih subur, jauh dari desa. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau bergizi tinggi telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Rumput-rumput di padang ini tidak enak. Serat-seratnya kasar dan membuat mulut kami sakit mengunyahnya. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab domba yang paling gemuk.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil tongkatnya dan menggiring kawanan dombanya menuju padang rumput lain. Padang rumput dengan rumput-rumput kesukaan para domba. Kucing kecil yang biasa menemaninya menggembala domba mengikuti dari belakang.

“Baiklah, para domba. Padang hijau terlezat untuk para domba telah menunggu di depan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Padang rumput ini berbahaya karena dekat dengan hutan. Kami tidak ingin jadi santapan serigala ketika kami sedang asyik makan. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab para domba.

“Baiklah….”

Maka gembala kecil dengan segera mengambil sabit dan mulai bekerja dengan tangkas. Potongan-potongan rumput terkumpul dengan cepat. Gembala kecil dengan gesit mengikat rumput-rumput  itu dan memikulnya ke depan domba-dombanya.

“Baiklah, para domba. Rumput segar telah terhidang untuk para domba yang telah kelaparan. Silahkan menikmati makanan kalian.”, kata gembala kecil.

“Tidak, gembala kecil. Kau telah membawa kami berjalan sangat jauh hari ini. Tapi kaki-kaki kami telah menjadi lelah karenanya. Kami layak untuk mendapat yang jauh lebih baik ini. Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan beri kami makan.”, jawab para domba.

“Baiklah….apa yang kau inginkan?”, tanya gembala kecil.

“Aku ingin kau menyuapi kami”, jawab para domba.

“Sepertinya aku punya ide yang lebih baik….Seharian ini aku telah membawa kalian berkeliling dari padang satu ke padang lainnya. Sedangkan hari ini sangat terik, dan aku sangat kelelahan setelah mengumpulkan rumput untuk kalian. Dan kalian tahu, aku lapar. Tapi aku pikir satu saja kambing guling yang dimasak dengan baik akan lebih dari cukup untuk memuaskan perutku. Sekarang, Tunaikan kewajibanmu dengan baik, dan buat aku kenyang.”

^_^

Aku pikir kalian sudah tahu apa yang terjadi setelahnya.

Pada sore hari, gembala kecil dan kucingnya yang merasa sangat kenyang kembali ke kandang dengan dua ekor domba. Mereka menjadi sangat penurut sejak saat itu. Dan kau tidak akan pernah menemukan domba yang rewel lagi di peternakan manapun yang kau kunjungi hari ini.

27
Jan
10

re-framing

Baiklah…istilah ini memang diambil dari peristilahan psikologi. You may call it ‘the fuzzy one’. Tapi bukan berarti ‘yang nulis ini’ yang paling tahu segalanya tentang satu hal itu. Bukan juga ingin mengatakan ‘yang nulis ini’ punya definisi yang paling tepat untuk mendeskripsikan tentang satu hal itu. Lha wong, tulisan ini sendiri bertajuk re-framing, yang dengan sendirinya merujuk pada rekonstruksi definisi. Ingat, bukan destruksi lho. Tapi sekali lagi, rekonstruksi.

Yang namanya rekonstruksi, bisa saja melibatkan destruksi sebagai bagiannya. Ya, mirip-mirip orang bangun rumah lah. Kalau rumah sudah bobrok, bener-bener rusak, ‘njuk piye?’ satu-satunya pilihan adalah menghancurkan rumah itu. Sampai remuk ke pondasinya kalau perlu. Tapi lagi-lagi, ini tentang ‘mbangun omah’, mendirikan tatanan, membangun sistem. Apapun yang anda lakukan, mau jungkir balik, jumpalitan, atau melompat-lompat mirip kucing, semua itu harus diakhiri dengan sesuatu yang ‘membangun’. Bener ta?

Demikian halnya dengan hal-hal lain yang berawalan dengan prefix (re-). Entah apa itu reformasi, rekonsiliasi, rekonsolidasi, atau kembali ke judul, reframing itu sendiri. Bukan berarti yang nulis sok bijak atau gak tahu medan. ‘yang nulis ini’ juga mahasiswa kok. Juga masih muda. Sama-sama aktif di ‘dakwah’, ‘organisasi’, ‘pergerakan’, ‘lembaga’ atau apalah sebutannya. Intinya, ‘yang nulis ini’ tidak jauh beda dengan anda dan rekan-rekan kebanyakan. Sama-sama sudah merasakan serunya ‘menghancurkan’. Demo, aksi, lunjak-lunjak sambil teriak yel-yel. Juga sama-sama sudah merasakan sensasi euforia ketika ‘merubuhkan’ sistem lama. Entah itu sistem organisasi, ‘ya mbuh lah’ pokoknya apapun yang sampeyan sudah kerjakan. Tapi ‘yang nulis ini’ alhamdulillah, selalu diingatkan untuk menyelesaikan tahap akhirnya. Apa itu? ya kata setelah kata re itu tadi.

Kali ini misalnya, re-framing. Maka apapun yang ‘yang nulis ini’ lakukan, semuanya harus berakhir dengan kelahiran ‘frame’ baru. Frame disini maksudnya persepsi. Singkatnya, cara sampeyan melihat dunia lah. Bisa juga diartikan sudut pandang. Intinya, bagaimana cara anda menganalisis, mengintrepetasi, sekaligus menarik kesimpulan dari apa yang dilihat tadi.  Dalam hal ini semacam ini, ‘yang nulis ini’ tidak pernah merasa harus membatasi diri dengan identitas yang disandang. Status di KTP kalau diperiksa, ‘dipentelengi’ sampai berjam-jampun agama yang tertulis ya masih Islam. Kalau ditanya, ya masih shalat, masih rajin tilawah, masih suka ikut kajian-kajian. Tapi ‘yang nulis ini’ tidak merasa untuk tidak membaca injil, bible, atau semacamnya. Kadang kalau suntuk malah suka nonton ceramah bapak pendeta di TV.

Kalau dibanding-bandingkan, ‘yang nulis ini’ justru merasa kajian bapak pendeta lebih mantab (pake “b” saking mantabnya) dari kajian bapak ustadz. Tinggal memprogram otak dan ‘ngganti’ kata ‘yesus’ dengan kata Tuhan ‘Allah SWT’ maka yang kita terima dari kajian bapak pendeta adalah 100% motivasi, saran dan nasehat yang menyejukkan hati. Ada cerita-cerita lucunya pula.

Tapi jangan diartikan berlebihan nggih…

Tidak pernah terbesit sekalipun dalam pikiran ‘yang nulis ini’ untuk mengajak sampeyan untuk meninggalkan kajian-kajian keislaman. Apalagi sampai dikatakan memprovokasi memboikot liqa’ pekanan. Bukan itu. Itu tadi cuma sekedar contoh praktis penggunaan re-framing yang sering dilakukan ‘yang nulis ini’.

Sekedar cerita aja, kemarin, tepatnya beberapa bulan yang lalu ding, ‘yang nulis ini’ dimandati oleh dokter untuk konsultasi ke psikolog. Pasalnya, ‘yang nulis ini’ tiba-tiba hilang ingatan setelah mengalami pusing-pusing seharian. ‘yang nulis ini’ tentu saja bingung dan panik. Ingatan dan daya pikir adalah satu-satunya ‘yang nulis ini’ miliki untuk bertahan hidup. Maka ‘yang nulis ini’ pun tidak punya pilihan lain selain berkonsultasi ke psikolog. Sama bapak psikolognya, disuruh cerita-cerita tentang keseharian. Awalnya, dikira stress ‘njuk’ berpengaruh pada ingatan. Tapi di akhir bapaknya malah ketawa-ketawa. “njuk piye?”, bapaknya bilang. “kamu itu tipe orang yang hampir ndak mungkin stress”. ‘yang nulis ini’ tentu saja bingung mendengar jawaban bapaknya. Mungkin juga sama seperti sampeyan saat ini. “apa bener to pak?”, ‘yang nulis ini’ juga tanya seperti itu. Terus bapaknya bilang, “kamu juga tipe poker face, gak ada yang bisa bener-bener tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi mental kamu mirip angin sekaligus batu. Di satu sisi, kamu gak akan terpengaruh dengan apapun yang terjadi di sekitar kamu. Tapi di sisi lain, kamu bisa memanipulasi kondisi mental kamu sesuai apa yang kamu inginkan”.

Sama seperti sampeyan, ‘yang nulis ini’ juga bingung mendengar penjelasan bapak psikolog. Tapi setelah dipikir-pikir, bapak itu bener juga. Kembali lagi, kuncinya adalah re-framing yang secara tidak sadar sering dilakukan ‘yang nulis ini’.  Saking seringnya, mungkin itu pula yang menjadikan ‘yang nulis ini’ benar-benar menjadi ‘makhluk’ yang hampir tidak dapat dipahami oleh siapapun. Lha wong, dua orang yang membersamai ‘yang nulis ini’ selama hampir 22 tahun saja selalu bingung dengan polah ‘yang nulis ini’, ‘njuk piye’ dengan yang baru mengenal ‘yang nulis ini’?.

Tapi sudahlah, ‘yang nulis ini’ juga tidak pernah protes dengan itu. Yang penting kan ada komunikasi, dan semuanya pasti dijamin lancar.

Kembali ke bapak psikolog yang tadi, setelah berkonsultasi, ‘yang nulis ini’ menjadi semacam tercerahkan. Dengan ilmu yang didapat dari bapak tadi, ‘yang nulis ini’ punya frame baru untuk melihat diri sendiri. Nah, baru sadar. Disitulah kunci re-framing. Setiap manusia memiliki kemampuan me’re-framing’ apapun sebanyak apapun yang ia ketahui. Lho, bukan berarti ‘yang nulis ini’ ingin membuat  hidup anda ribet dengan kebanyakan re-framing. Yakin saja wis, ‘yang nulis ini’ tidak pernah bermaksud seperti itu. ‘yang nulis ini’ justru ingin membuat hidup anda lebih bahagia.

Ya sudahlah, ‘ben ora ndang ribet’, mari kita sudahi saja obrolan ini dengan tips dari ‘yang nulis ini’ agar sampeyan selalu bahagia. Caranya gampang kok, ciptakan kacamata kebahagiaan, lalu mari kita lihat segala sesuatu dari kacamata itu. Ini analoginya sama saja dengan kacamata kesedihan. Kalau orang sudah terbiasa melihat dari frame kacamata kesedihan, setiap apa yang ia lihat akan ia artikan sebagai kesedihan. Lihat orang mati, sedih. Lihat orang kecelakaan, sedih. Itu masih wajar. Tapi nantinya, kalau sudah terbiasa, lihat orang sukses, juga sedih. Lihat orang ketawa, sedih. Lihat kucing pake kostum ninja jingkrak-jingkrak juga sedih. Lho, terus kapan bahagiane kalau gitu?

Beda kalau pake kacamata kebahagiaan. Kalau dipikir-pikir juga, toh sebenarnya apa yang kita alami dalam keseharian tidak jauh berbeda satu sama lain. Tapi bagaimana persepsi kita terhadap peristiwa itulah yang menentukan apa yang kita rasakan. Maka jangan sampai heran kalau sampeyan menemukan orang yang bisa tersenyum di segala kondisi dan segala waktu. ‘Lha wong’, dia sudah pake kacamata kebahagiaan kemana-mana. Atau mungkin juga bahkan sudah mendobelnya dengan kacamata optimis, kacamata keceriaan, kacamata berpikir positif, atau ‘kacamata’ bagus lainnya. Istilah kerennya, sudah memakai kacamata multi-frame kebaikan. Maka jangan berpikir dia akan putus asa, sedih, ‘njuk’ ngambek. Sedangkan, apa yang dilihatnya justru hal-hal positif yang membuat dia semakin tersenyum lebar.

Seperti kata pepatah, “setiap kucing pasti punya masalah, tapi kucing pintar selalu menghadapinya dengan senyuman.”. Intinya, ya re-reframing itu tadi.

Satu hal yang oleh ‘yang nulis ini’ sangat yakini, kebenaran sejati dibuktikan dari sifat uletnya. Mau dijemur, dibanting, ‘diundet-undet’ seperti apapun, kebenaran sejati akan selalu bernilai benar. Kalau pengen contoh, ya tentang Tuhan itu. Tidak ada yang bisa menyangkal tentang keberadaan entitas tunggal yang mengatur dan menciptakan semesta. Bahkan oleh yang paling atheis sekalipun. Lho, ya bener ta? Bukankah yang Nietze tulis itu bahwa ‘tuhan dia’ telah mati. Setidaknya dia pernah meyakini bahwa ‘tuhan dia’ pernah ada dan hidup. Dalam bukunya itu sendiri, dia bahkan tidak mengatakan bahwa wujud Tuhan benar-benar mati. Ujung-ujungnya dia membuat analogi pembuat arloji. Kalau untuk yang menganut deisme, ya bisa saja mereka mengatakan tidak percaya Tuhan. Tapi mereka toh tidak bisa menyangkal keberadaan entitas ‘tak bernama’ yang punya kuasa atas semesta. Hanya saja, mereka menolak menyebutnya dengan sebutan ‘tuhan’. Tapi klo ‘yang nulis ini’ bilang, mereka cuma rada keblinger dikit, Dzat yang Maha Kuasa, Tunggal, dan Maha Perkasa dalam kamus leksikal dalam bahasa manapun juga didefinisikan sebagai Tuhan. ‘njuk ngopo’ harus repot-repot menciptakan istilah baru untuk satu hal yang sebenarnya sama.

Maka, mengingat sifat kebenaran yang super ulet itu, untuk menguji apakah kebenaran yang ‘yang nulis ini’ terima benar-benar benar. Maka ‘yang nulis ini’ rajin-rajin menguji setiap ‘kebenaran’ yang diterima. Dengan re-framing tentu saja. Kalau sampeyan komentarnya, “dasar ‘yang nulis ini’ kurang kerjaan”, maka ‘yang nulis ini’ bukannya jawab, malah nyengir. “njuk kowe ngopo ngurus?”. Ini toh tentang kehidupan pribadi ‘yang nulis ini’. Entah dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan, misi hidup ‘yang nulis ini’ cuma ada satu. Menemukan kebenaran sejati. Bukan jadi orang kaya, bukan jadi orang sukses, tapi ya itu tadi yang jadi misi hidup ‘yang nulis ini’.

Terlepas dari apapun ‘yang nulis ini’ telah torehkan, ‘yang nulis ini’ selalu mengaku sebagai hedonis sejati. Hidup itu harus dan pasti bahagia, katanya. Kalau ditanya tentang dalilnya, oh jangan kuatir, ‘yang nulis ini’ punya penyakit kambuhan suka berkelit dan cari alasan. Untuk satu ini, ‘yang nulis ini’ juga sudah menyiapkan dalil aqli wa dalil qath’i. Ada dasarnya kok. “Innallaha jamil wa yuhibbul jamal”, terjemahan benernya, ‘Allah itu indah dan mencintai keindahan’. Tapi kadang diplesetke juga ‘cah slengean’ semacam ‘yang nulis ini’ jadi, ‘Allah itu tampan dan mencintai orang tampan’. Hehehe

…no offense nggih. Cuma becanda kok.

Penjelasannya, kalau Allah itu Maha Indah, ‘njuk ngopo’ kita harus repot-repot melihat dari kacamata keburukan. Lha, bener ta? Maka jangan heran kalau ‘yang nulis ini’ punya kata-kata khas di ujung sms, petuah, atau obrolan.

“tetep senyum n semangat nggih^^”

04
Jan
10

secangkir kopi di ujung senja

ketika memang beban itu terlalu berat, letakkan saja sejenak. melihat sejenak sayap-sayap perak yang mengayun di langit bersama bintang-bintang dan gugus itu akan meringankan bebanmu. ketika kaki telah letih menapak, istirahatkan saja ia sejenak. dengarkan saja dan hibur dirimu dengan bisik-bisik dan desau angin yang mengalunkan harmony samar dari samudra nun jauh disana. ketika pikir tlah jenuh dan tubuh telah dikuasai penat, rebahkan saja ia sejenak. ketika kau sambut pagi, buka saja jendela kusam itu dan sibakkan tirai yang mulai lusuh itu. katakan pada sayap emas matahari di ufuk timur jauh sana, “lihat saja, aku kan bersinar melebihi terangmu hari ini”. ketika kau merasa lelah, hirup saja udara segar di pagi hari dan katakan pada dunia, “tunggu saja, dan suatu hari angin itu akan membadai menderu”.

04
Jan
10

akulah sang raja hutan…

pada suatu pagi di belantara afrika, seekor singa berdiri di depan cermin dan berkata kepada dirinya, “aku seekor kucing berbulu keemasan yang gagah”. pada pagi yang sama, terdorong oleh rasa lapar yang mulai menusuk-nusuk ia keluar dari sarangnya menuju padang savana. ia melihat segerombolan gazelle yang berkerumun bersama kawanannya. ia mengandaikan seandainya saja ia mampu menerkam salah satu gazelle muda di antara kawanan itu dan memakannya. namun segera ia menepis bayangan di pikirannya dan berkata, “apalah dayaku menerkam gazelle. aku hanyalah seekor kucing yang kebetulan berbulu keemasan dan tampak gagah.”

maka ia meneruskan perjalanannya. ketika hari menjelang siang dan matahari bersinar begitu teriknya, singa itu semakin tersiksa oleh rasa lapar dan haus yang mencekik. singa itu berdiri di atas batuan dan melepaskan pandangnya ke seluruh arah. ia melihat sekumpulan cheetah menikmati buruannya di bawah pohon tidak jauh dari tempat ia berada. sungguh, ia begitu ingin menikmati makanan itu. tapi ia berkata pada dirinya, “apalah dayaku, aku hanya kucing yang malang. tidak akan mungkin aku berlari secepat cheetah mengejar mangsanya”. maka ia kemudian beranjak pergi.

ketika hari beranjak petang, rasa lapar yang mendera dirinya memaksanya untuk berburu. untung baginya, seekor gazelle muda yang sedang terluka, tak mampu berlari cukup cepat sehingga hidupnya berakhir bersamaan ayunan cakar sang singa. dengan rakusnya, singa itu menggigit dan mencabik mangsanya. menyanyat, mencakar, dan menelan potong demi potong daging segar di depannya. tiba-tiba ia berhenti. pandangannya tertuju pada seekor kucing hutan yang berdiri di depannya. sang singa bertanya,”siapa kau?”

kucing itu tak segera pula menjawab, ia menggerung keras, memperlihatkan cakar dan taring-taringnya. seketika kucing itu berteriak pada sang singa, “di mana rasa hormatmu. aku ini singa sang raja rimba!”.

mendengar jawaban sontak tersebut, sang singa begitu terkejut. tubuhnya gemetar, peluhnya deras menetes, dirinya dikuasai rasa takut luar biasa. maka, tiada pula sempat ia berpikir panjang. dengan secepat kilat ia berlari meninggalkan buruan yang didapatkannya dengan susah payah. ia begitu takut. takut berhadapan dengan raja rimba yang telah melegenda keganasannya.

06
Des
09

baca saja…OK

Sungguh, aku juga tak begitu mengerti mengapa kisah ini harus dituliskan. Hal-hal semacam ini pada dasarnya sudah sering terjadi dan aku tidak pernah merasa bahwa ia dan semisalnya harus dituliskan. Diguratkan dengan pena dan dibaca olehmu. Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan sejak pertama kali aku melihat tulisan kasar gadis kecil itu, aku tahu bahwa aku harus menuliskannya dan membiarkan dunia tahu akan kisahnya.

Aku tidak begitu tahu darimana harus memulainya. Jadi aku akan mulai dari perasaan aneh yang tiba-tiba muncul sore ini. Perasaan aneh. Maksudku, benar-benar perasaan yang aneh. Aku tidak pernah mampu menjelaskannya dengan baik. Meskipun hal ini bukan kali pertama terjadi, bukan yang kedua, juga bukan yang ketiga. Aku hanya bisa mengatakan bahwa hal semacam ini sudah sering terjadi padaku. Seperti halnya peristiwa-peristiwa sebelumnya, tiba-tiba saja terlintas untuk pergi ke suatu tempat. Meskipun aku tidak begitu terpikirkan alasan untuk melakukan itu. Dengan ringan saja aku pergi ke asrama yang lama. Sedikit bertegur sapa dengan kawan yang dijumpa, lalu entah dengan alasan apa terduduk begitu saja di depan TV. Diam dan menunggu.

Peristiwa-peristiwa setelahnya, tidak terlalu menarik, atau terlalu penting untuk diceritakan. Singkat cerita, aku menemukan diri terdampar di sebuah toko buku. Dengan hanya mengikuti intuisi yang semakin kuat, menuju ke sebuah rak dengan buku bertumpuk-tumpuk yang tertata tak begitu rapi. Tapi aku tidak menemukan apa yang intuisiku inginkan diantara tumpukan buku-buku itu. Ia ingin mengatakan kepadaku tentang sesuatu hal berkenaan dengan buku-buku, tapi sama sekali tidak berkeinginan untuk mengambil salah satu dari sekian buku yang ditumpuk berderet. “Baiklah..”, kataku dalam hati. Aku tidak ingin kunjunganku sia-sia. Maka ambil salah satu buku secara acak, membayarnya, lalu bergegas pulang. Tepat seperti apa yang diinginkan oleh intuisiku.

Kali ini, ia membawaku melewati jalan yang jarang aku lewati. Mempertemukanku dengan seorang gadis kecil. Ia gadis kecil biasa. Sungguh, hanya gadis kecil biasa. Seperti halnya anak-anak lain yang sering kau temui di perempatan-perempatan lampu merah, atau terminal-terminal, dan stasiun yang sering kau kunjungi. Ia hanya gadis kecil biasa yang memakai kaos putih agak lusuh, dengan ukuran yang aku pikir terlalu besar untuk akan seukurannya. Bersandal jepit, dan berambut sebahu yang ia biarkan tergerai tanpa diikat.

Dan ia berdiri disana, di bawah lampu merah. Ditemani anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya. Aku melihat mereka cukup akrab, membuatku berpikir bahwa anak laki-laki itu mungkin saja kawannya sepermainan, atau kawannya satu sekolah. Penampilan mereka biasa-biasa saja, atau bahkan terkesan lusuh untukmu. Aku lebih suka menyebut penampilan yang seperti itu ‘sederhana’. Aku tidak tahu pilihan kata yang lebih tepat dari itu. Mereka tidak tampak seperti halnya anak-anak jalanan lain yang tampak compang-camping begitu parahnya. Atau, mereka juga sama sekali tidak aku lihat berpenampilan necis seperti halnya anak-anak SD seumuran mereka. Jadi, aku pikir kata sederhana akan sangat tepat untuk melukiskan mereka dalam segala hal. Dalam penampilan, atau juga dalam keseharian, gaya hidup, atau bahkan senyuman mereka.

Mungkin terkesan sebagai sebuah kebetulan. Aku diharuskan berhenti di lampu merah gadis kecil itu. Dia menghampiri kami, pengguna jalan di sore itu, dan tampak antusias memberikan sesuatu kepada mereka. Termasuk aku. Gadis kecil itu memberiku sebuah amplop kecil yang mulanya hanya aku kira sobekan kertas kecil. Di atasnya bertulis, “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Aku terdiam. Waktu membeku. Sebuah godam seberat satu ton serasa baru dipukulkan tepat ke kepalaku. Dan jitu menampar semua bilik kesadaran hingga ia terbangun sempurna.

Aku memandang gadis kecil itu. Tapi ia tak membalas, alih-alih pergi dan menyerahkan benda yang sama kepada pengguna jalan yang lain. Aku berpikir tentang keseharian gadis kecil itu. Rumah kecilnya, Ayah, Ibu, dan adik-adiknya yang mungkin masih kecil. Mereka mungkin saat ini sedang di tempat lain. Bertarung dengan dunia dengan cara mereka sendiri-sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa dunia kejam atau berlaku tidak adil kepada mereka. Mereka mungkin memiliki semangat hidup, bertarung, dan belajar yang lebih dari orang lain. Bahkan lebih dari apa yang aku miliki. Tapi aku sadar bahwa setiap orang memiliki porsi yang berbeda satu sama lain. Dan aku, kebetulan, mendapat porsi untuk menempati kursi kehormatan sebagai mahasiswa. Di sebuah universitas ternama pula. Tanpa berpikir panjang, baru saja membeli sebuah buku yang tidak bisa dikatakan murah. Sedangkan gadis kecil itu, mendapat porsi….menduduki bangku kursi SD yang mungkin hampir rubuh. Bertarung untuk…membeli sebuah buku tulis!

Jika kau ingin tahu, di satu bagian masa yang lain, aku mengalami yang tidak jauh berbeda dengan mereka. Saat ini aku memiliki bagian yang lebih. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya jika aku memberikan sebagian porsiku kepada mereka kali ini. Aku mengisi amplop itu, lalu memanggil gadis kecil itu untuk mengembalikannya. Untuk terakhir kali, aku membaca tulisan itu. Masih sama. “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Gadis kecil itu menerima amplop kecil itu, dan membalasku dengan senyuman.

Mataku terasa hangat. Tapi aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk tidak menangis di depan manusia lagi. Tapi, seperti kau tahu…sangat sulit untuk membendung ia tidak mengalir di sepanjang sisa sore itu. seperti halnya ketika tulisan ini diguratkan.

17 Dzulhijah 1430

08
Sep
09

9-8-2009

Tekad!!! (diakhiri dengan tiga tanda seru)

#Memoar untuk sebuah pekik merdeka#

Menatap parang yang tergenggam

Bambu runcing yang terhunus

Senapan yang terkokang

Selongsong-selongsong peluru yang berserakan di parit perlindungan

Suara-suara tembakan dan teriakan perang!

Oh, demi tiap-tiap kata merdeka

yang diteriakkan hingga memekak

Darahku menggelegak, batinku berteriak hingga serak

Demi bunda bumi…mata ini takkan jenak terlelap

Hingga bumi negeri ini tlah berdiri tegak

Aku tlah menjual jiwa ini, hingga…

Tak akan ada ragu ketika tangan berparang menebas

Bambu-bambu runcing dihunjam dan dihantam

Dan senapan-senapan terkokang melepaskan peluru-pelurunya

Memburu nyawa pendosa di medan perang

Aku!

Aku! Sekali lagi!

Aku katakan padamu, kawan, saudaraku

Aku! Aku akan merahkan bumi dengan darah!

Dan pekik kan membahana  untuk kemenangan negeri dan bangsaku!

Hah? Tidak lagi!!! Kataku!

#memoar untuk mereka…bukan kau#

Asap kehitaman membumbung

Tinggi…kataku. selayaknya yang kau lihat

Medan perang tlah ramai dengan jiwa yang berjibaku

Meriam-meriam tlah terisi peluru-peluru baja

Tidakkah kau sadar? Kita sedang berperang!

Pedang…

Tombak yang terhunus!

Asap mesiu membumbung

Lagi, tinggi

Kau….

Dimana?

Musik? Suara-suara

#memoar untuk kesunyian#

Hahahaha…

Tertawa!

Merayakan bait kegembiraan

Hihihihihi…

Menangis!

Mengaduh dalam duka

Hmmmm…

Berguman!

Penasaran dan berpikir

Pssssttt…

Diam kataku!

Panglimaku sedang menyusun rencana perang

Mbeeeek…

Kambing terkutuk!

Diam kau, kataku

Kukuruyuuuuk…

Ah, sudah pagi!

Pertempuran baru akan dimulai

Dung dung dung…

Genderang!

Tiga pendosa telah tewas dihunjam keris

Hahahaha…

Tertawa!

Kali ini untuk menyambut sang Mati

Jleger…

Petir!

Hujan datang diwaktu yang salah

Peduli apa dengan hujan?

Perang baru dimulai!

Terima kasih sudah mau membantu

#memoar  untuk sebuah pencarian#

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Kau mau bantu? Baiklah

Kita mulai dengan mencari mereka

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Dimana? Aku bertanya padamu

Kau tidak tahu? Baiklah. Kita cari lagi lebih teliti

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Aku ingin menangis? Mungkin

Bumi yang luas serasa sesak untuk jiwaku

Dimana?

Ah, mungkin mereka tidak memang tidak pernah ada

Siapa? Oh maksudku….mereka

Ksatria-ksatria negeri yang berkuda perang

Ah iya….Aku ingat

#memoar untuk sebuah jatidiri#

Kau pernah berkata padaku

Bahwa kau adalah anak negerimu

Yang lahir, tumbuh, berkembang

Besar dan dewasa di tanah surga katulistiwa

Iya kan?

Kau juga pernah berkata padaku

Kau terlahir di negeri yang diberkati

Yang subur, kaya, makmur sentosa

Disucikan oleh darah-darah pejuang suci

Iya kan?

Ah, pastilah kau anak yang diberkati

Karena darah pejuang suci diwariskan kepadamu

Mengalir di setiap urat dan pembuluh yang berdetak

Berdetak hingga darahmu menggelegak

Pikirku, pastilah kau anak yang terpilih dari urat generasi

Mereka yang memilih terasing demi kebenaran

Keadilan, dan rela mati untuk membelanya

Tentu saja, itulah kau…

Hah?

Bukan katamu?

Lalu…

Pada siapa lagi bunda pertiwi harus mempercayakan dirinya?

Pena kematian

#memoar untuk penaku#

Hahahaha….

Aku tertawa, menertawakan kau

Kau telah salah sangka kawan

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Hahahaha….

Aku tertawa, lagi

Tidakkah kau lihat apa yang digenggam di tangaku?

Bukan pena kawan, ini pedang! Yang terhunus!

Tak kah kau lihat pedang ini tajam?

Ia terasah halus seakan ia adalah permata

Permata kematian! Bukan untukmu

Tapi untuk mereka, para pendosa

Lewat penaku, aku bertutur

Bercerita dan berkisah, mendendangkan dongeng

Kata dan bait yang tercipta dari ujung penaku

Teriakan mendentum untuk kematian yang mendengus kelam

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Katakan….aku adalah penulis kematian untuk mereka

Penaku abadi dalam makna

AARGHH….!!!!

#Memoar untuk teriakan#

Memekik!

Merdeka! Merdeka! Merdeka atau MATI!

Berteriak!

Maju! Lawan! Hancurkan Tirani!

Berdemo!

Pasang spanduk! Arak poster! Usung rontek!

Melantangkan suara!

Berteriak! Meracau dengan TOA! Bernyanyi-nyanyi kacau

Berkeringat!

Berpeluh! Berdempetan! Kakiku terinjak!

Marah!

Mendorong! Berjelalan! Nafasku sesak!

Anarki!

Melempari! Menghancurkan! Ditembaki polisi

Kecewa….

Masih untung kau tak mati…kau hendak gila…salahkan kedunguanmu atas itu…

ANAGRAM, A-N-A-G-R-A-M!

#memoar untuk kata yang sering aku dengar dari mereka#

MATI

M-A-T-I

KE-MATI-AN

DI-MATI-KAN

MATIKAN!!!

SAKIT

S-A-K-I-T

KE-SAKIT-AN

DI-SAKIT-KAN

SAKITKAN!!!

HINA

H-I-N-A

KE-HINA-AN

DI-HINA-KAN

HINAKAN!!!

BUNUH

B-U-N-U-H

PEM-BUNUH-AN

DI-BUNUH-I

BUNUH!!!

Baiklah…cukup

Aku sudah tahu kesenangan yang mereka rasakan

Perutku mual!!! (dengan tiga tanda seru!!!)

18
Jun
09

catatan kecil pagi ini

kali ini sepertinya ia menggodaku. mengajakku bercanda dengan tingkahnya. dan aku tersenyum. karena memang hanya itu yang aku bisa lakukan melihat polahnya di pagi ini. kawan, aku katakan padamu, takdir tidak akan sepenuhnya bisa dimengerti oleh manusia. jalinannya rumit, bergelung dan berbelit. bertaut dan bersusun sedemikian rupa hingga manusia tercerdaspun tidak akan mengerti sepenuhnya kemana jalinan itu akan berujung. aku kau. kita atau bahkan mereka sekalipun.

dunia, toh ia seperti padang luas yang berujung. sedangkan aku tidak pernah tahu kisah seperti apa yang telah ditulis atas diriku. al iliyyun di tempat yang tinggi. maka, aku memilih untuk tidak terlalu banyak memikirkannya. aku langkahkan saja kakiku sekenanya. semauku. sekehendakku kemana ia akan menuju. lagipula, aku sudah akhir perjalanan yang seharusnya aku capai. yang harus aku lakukan hanyalah mengikuti jejak-jejak yang telah ditinggalkan kafilah-kafilah sebelum masaku.

dan…kali ini sepertinya ia  menggodaku lagi. memanfaatkan ketidaktahuanku atas mosaik rumit yang telah tertulis atas diriku.  aku ikuti saja kemana ia menuju. ia berhenti di suatu tempat. menunjuk pada oase yang sejuk. kali ini aku tertawa. renyah. ia telah membawaku pada akhir yang manis seperti biasa. aku memang tidak pernah sepenuhnya mengerti.

12
Jun
09

aozora…

Ketika itu, matahari baru saja hendak menyapa pagi dengan sinarnya. Semburat putihnya bahkan belum sempurna di ujung ufuk timur. Ujung lentik rerumputan masih basah oleh embun dan sisa tetesan hujan tadi malam. Suasana masih begitu sepi. Tidak ada suara kokok lantang ayam, celoteh burung-burung kecil di sela ranting cemara, atau bahkan sekedar suara gerisik serangga.

Ketika itu, masih di fajar yang sama, riak-riak angin kecil terkadang bermain jenaka memainkan ujung dedaunan dan ranting-ranting mungil. Suaranya sedikit bergemerisik, mungkin ia mencoba sedikit meramaikan fajar yang yang ia pikir tadinya terlalu sunyi. Ya, fajar itu memang sangat sunyi. Teramat sunyi malah. Langit yang hitam sedikit menyombongkan dirinya karena kali ini wajahnya bersih tanpa awan. Saking bersihnya, kau mungkin bisa dengan cepat mengenali tiga bintang berderet Alnilak, Alnilam dan mintaka sebagai rasi orion. Rigel yang kebiruan dan betelgeuse yang kemerahan juga akan bisa kau amati dengan bebas.

Di pagi yang sama, seekor kucing kecil, berbulu keabuan melompat dari sebuah kardus. Sebentar ia mengeliat meluruskan badan. Sejenak sekilas. Tampak seekor tikus coklat tampak berlari-lari kecil tidak jauh dari ia berdiri. Tapi aku tak tahu. Kucing itu tampak acuh melihat tikus-tikus yang sebenarnya tampak sangat gemuk bagiku. (kalau aku seekor kucing, aku pasti mengejarnya). Ia berjalan, perlahan terhuyung. Mungkin lapar. Kucing kecil itu memandangi gadis mungil yang sedang duduk berdoa di atas sajadahnya.

Si mungil tertawa memandangi kucing kecil. Wajahnya tampak bersih karena basuhan air wudhu yang ia ambil sejak jam tiga tadi. Ia tersenyum nakal memandang kucing mungil di hadapannya. Matanya kecoklatannya bergerak-gerak lincah. Tangannya memainkan bola-bola kecil dari karet dan melajukannya dengan cepat. Melemparkannya ke sudut ruangan dan membiarkannya memantul. Kucing kecil dengan cepat mencoba mengejar dan menerkam satu per satu bola itu. Ia melompat, berguling lalu berlari menyergap. Aku tak tahu apa yang lagi-lagi kucing itu pikirkan. Seenaknya saja melesatkan dirinya ke udara tanpa berpikir hendak kemana ia mendarat. Ah, hanya membuat kamar itu semakin berantakan pikirku.

“Aisyah…kamu dimana”

“Uwaa…umi datang. Cepat sembunyi pus. Syuh syuh, lari-lari-lari. Keburu umi datang nih. Ah gawat. Sembunyi. Cepetan. Ntar kamu diusir.”

Kumohon, jangan memandangku seperti itu.

Kau tahu? Sungguh, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan kucing itu mendengar perintah gadis kecil. Yang aku tahu, ia hanya terduduk dan mendongakkan kepala sambil memandangi tingkah gadis kecil yang semakin panik. Apakah ia berpikir? Kurasa tidak, dan tentu saja tidak. Toh ia hanya seekor kucing. Maka, dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

“Ugh…dasar kucing. Jangan meow-meow terus. Umi sebentar lagi masuk kamar.”

“Aisyah! Kamu ngobrol sama siapa siapa sayang?”

“Ah, enggak kok umi. Sebentar lagi.” Kucing itu berganti menggelengkan kepalanya ke kanan dan kembali berkata, “Meow…?”

“Ugh…kuciiiiing. Kesabaranku sudah habis.” Tangan gadis kecil itu dengan cepat menyabet selimut di atas kasur dan dengan sigap melemparkannya menutupi tubuh kucing. Tepat ketika pintu kamarnya terbuka. Kree….eek. Engsel pintu terdengar berderit karena sudah lama tidak dilumasi. Terdengar menyeramkan? Tidak juga. Rumah kecil itu memang sudah cukup tua. Tapi tentu saja bukan tipe rumah tua berhantu seperti yang engkau pikirkan.

Si gadis kecil segera berdiri di depan pintu. Ia mencoba bersikap senormal mungkin. Ia mencoba melepaskan senyum polos khas anak-anak. Tapi kali ini senyumnya lebih tampak seperti senyum nyengir yang konyol bagiku. Ia mengaitkan jari-jarinya di belakang punggungnya dan menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan kanan berulang kali.

“Hai Umi. Apa kabar dengan pagi ini?” seorang wanita muda berjilbab biru muda muncul dari dari balik pintu. Gadis kecil masih mencoba bersikap sewajar mungkin.

“Insya Allah…masih dipenuhi dengan cinta. Apa kabar dengan pagi ini ukhti?”

“Kekeuh dengan semangat dan senyuman”

“Eleuh, ukhti mungil yang satu ini. Makin aneh-aneh aja jawabnya”

“Kan umi yang ngajarin”

“Aduh, apaan nih…Katanya ingin jadi mujahid mungil. Tapi kok kamarnya berantakan sih. Tuh, selimutnya malah keteteran di lantai. Kasurnya belum juga dirapiin. Masak kamar akhwat bisa berantakan kayak gini?”

“Umm…” sambil mengerutkan dahi. Tampak berpikir sangat keras.

“Itu…ah, iya. Habis simulasi perang umi.” Jawabnya, sambil memperagakan adegan pertempuran seru. Ia mengambil sebatang kayu. Ya, benar-benar sebatang kayu. Bundar, berwarna kecoklatan, dan panjangnya lima puluh centi-an. (Kumohon, jangan tanyakan padaku bagaimana kayu itu bisa berada di kamar itu. Aku hanya tahu benda itu ada disana ketika itu.) dan dengan segera gadis itu memainkannya seakan sebuah senapan perang. Memegangnya erat, dan seolah-olah sedang melontarkan rentetan peluru-peluru. Dor…dor….dor…

“Perang?”

“Iya, perang.” Jawabnya. “Perang untuk membebaskan saudara-saudara kita di Palestina.”

“Eleuh…semangat sekali. Udahan dulu simulasi perangnya. Sudah hampir subuh. Mujahid kecil umi hari ini masuk sekolah pertama kan?”

“Iya tau. Ini juga mau dirapiin. Udah, umi keluar dulu. Biar Aisyah yang rapiin”

Tangan gadis kecil bekerja dengan cepat segera setelah pintu tertutup kembali. Satu per satu bola-bola berceceran itu dipungutnya dan dimasukkan dalam laci. Ia buka tirai yang menutupi jendelanya dan sempatkan sejenak menyapa pecahan-pecahan asteroida yang membara ketika memasuki atmosfer bumi. Indah bukan? Tentu saja indah. Tidak setiap saat kau bisa membuka tirai jendelamu dan mendapati meteorite yang berpijar ketika menuruni atmosfer di depanmu. Gadis kecil bekerja semakin cepat. Ia mengangkat selimut yang tergeletak di atas lantai dan mendapati makhluk kecil berbulu keabuan tadi sudah raib entah kemana.

“Uwaaaa….aaaa! kucingnya ilang…!!!!” ia panik.

^_^

Gadis kecil itu masih tampak sangat penasaran. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana kucing mungil itu tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Sepiring nasi yang ada di depannya belum satupun ia sentuh sejak ia berpindah ke depannya. Ia mendekapkan kedua tangannya dan membiarkan keningnya berkerut. Ia tampak berpikir sangat keras.

“Aisyah, kok makanannya belum dimakan?” sebuah suara menegurnya.

“Lagi mikirin apa sih? Serius amat.”

“Ah nggak kok mi, cuma mikirin sesuatu aja”

“Ya udah. Makanannya cepat dihabisin. Ntar kamu telat lho. Ngakunya pejuang cilik, mana ada pejuang cilik yang telat di hari pertama masuk sekolah.”

“Iya umi sayang. Sebentar lagi ni nasi juga habis.”

Tangan kecil itu kembali beraksi. Kali ini mereka dengan sigap memasukkan sendok-demi-sendok butir-butir nasi itu ke dalam mulut gadis cilik. Satu persatu, sedikit demi sedikit dengan segera piring penuh nasi itu tandas. Hmm…masakan umi memang paling enak, pikir gadis itu. Meskipun menu yang dihidangkan sebenarnya sangat sederhana, tetapi selalu terasa spesial jika umi yang memasaknya. Top abis wis. Buktinya, tujuh tahun sejak ia lahir tidak sekalipun terlintas rasa bosan melahap semua masakan yang telah dibuat umi. Jangankan tersisa, sebutir nasi pun tidak akan tertinggal jika umi yang memasaknya.

Sambil menikmati makanan yang terhidang di depannya, imaji gadis kecil meninggalkan dirinya. Andai mereka juga bisa menikmati makanan seperti ini pikirnya. Matanya menatap poster besar yang sengaja ia tempel di ruang makan kemarin sore. Gambar seorang anak memegang bendera palestina dan mengacungkannya tinggi udara terlihat sangat gagah di poster itu. Apakah mereka juga masih bisa makan seperti aku? Gadis kecil berumur tujuh tahun itu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah mereka masih memiliki rumah seperti aku? Apakah mereka masih bisa bersekolah sepertiku? Ah, imajinya membawanya melintasi benua. Mengantarnya pada sepotong lembah subur diantara Eufrat dan Tigris, bumi palestina. Ah tidak, aku tidak mau melihat lebih jauh lagi. Gadis kecil itu berkata pada hatinya.

“Umi, apakah saudaraku-saudaraku di palestina bisa menikmati makanan seperti ini?” wanita muda berjilbab biru itu terdiam mendengar pertanyaan dari gadis mungil di depannya. Pertanyaan ini sulit juga untuk dijawab, pikirnya.

“Mengapa kau bertanya tentang itu sayang?” tanyanya.

“Aku hanya ingin tahu. Itu saja” jawab gadis kecil itu.

“Kau tahu, perjuangan mereka tidak akan berhenti hanya sampai disini sayang”

“Sampai kapan umi?”

“Sampai bumi al-Quds merdeka sepenuhnya dari tangan-tangan penjajah. Hingga saat itu, perjuangan tidak akan pernah berhenti”

“Haruskah lebih banyak darah yang harus tertumpah lagi? Aisyah hanya tidak ingin menyaksikan lebih banyak teman-teman aisyah menjadi korban.”

“Apakah aisyah bisa melakukan sesuatu untuk mereka?” gadis itu kembali bertanya.

“Tentu saja bisa sayang” suara yang terdengar berat menjawab dari kejauhan. Dari seorang pria paruh baya yang tengah berjalan menuju ruang makan. Kali ini ia memakai kaos hijau dengan sebuah kaligrafi besar di atasnya ditambah beberapa ornamen gambar dan bendera palestina. Dipadu dengan celana denim coklat, ditambah jaket army yang sudah mulai luntur warnanya. Plus tidak lupa peci warna biru yang selalu dikenakannya.

“Uwaa…dasar abi. Gak sopan. Tiba-tiba nimbrung obrolan orang lain”

“Kan abi baru selesai mandi. Pertanyaan kamu yang tadi itu aneh.”

“Aneh? Apanya yang aneh bi?”

“Pertanyaan seperti itu sepertinya terlalu cepat untuk keluar dari anak seumuran kamu.”

“Ugh…dasar abi. Aisyah kan gak mau sama dengan anak-anak lain”

“Pengen beda maksudnya?”

“Iya dong…Aisyah tidak akan sama dengan anak-anak yang lain. Mulai saat ini, namaku bukan Aisyah. Panggil aku putri Aozora.” Gadis itu berkata dengan penuh rasa bangga.

“Lho kenapa namanya diganti? Nama Aisyah kan udah bagus. Itu kan nama Ummul Mukminin” Umi menimpali.

“Ah umi nih. Nama aozora kan lebih keren”

“Keren apanya?” abi ikut menimpali.

“Aozora itu artinya langit biru bi. Dengan tangan kecil ini, akan aisyah kembalikan langit biru pada anak-anak palestina. Huh, lihat saja nanti. Penjajah zionis akan aisyah buat kalang kabut dengan jurus-jurus rahasia putri aozora.”

“Duh ni anak. Makin lama makin enggak-enggak. Udah, itu minumannya cepet dihabisin. Ntar kamu telat lho?”

“Ugh…dasar abi. Gak apresiatif sama anaknya sendiri nih”

“Emang kamu tahu arti apresiatif”

“Umm…apa ya?” ia kembali berpikir sangat keras. “Pokoknya ya itu deh…”

^_^

“Aaaah….Pagi yang menakjubkan. Hari ini aku belajar banyak hal.”, kata Aisyah dalam hati. “Banyak hal yang harus disyukuri.”, tambahnya. Langit masih biru, padang hijau masih luas terhampar, dan rahmat Allah masih mengalir tanpa batas. Ia menghitungnya satu per satu. Ia masih bisa sekolah, punya abi dan umi, punya banyak teman (ia menambahkan-yang kadang galak dan nyebelin juga sih), punya banyak makanan, dan tidak lupa, waktu yang banyak untuk ia bermain, melompat, berlari, atau bahkan bergulingan sekalipun. Ah (ia menambahkan), juga seekor kucing lucu yang dengan sukses ia selundupkan ke kamarnya sore kemarin. Hi hi hi…

“Allah itu Maha Baik ya…”, gumannya dalam hati. Ia ingin meneruskan menghitung rahmat Allah satu per satu. Tapi nikmat terakhir yang ia hitung membuatnya teringat dengan sesuatu. Si kucing! Ia panik. “Ah, bisa gawat kalau ketahuan umi.”, pikirnya dalam hati. Ia tahu umi tidak begitu suka dengan kucing, dan dengan alasan apapun (meskipun kelihatan dipaksakan banget) selalu menolak kehadiran kucing di rumah.

“Kucing kan lucu, umi”, protesnya pada suatu kali.

“Iya tahu. Tapi tetep aja kamu nggak boleh miara kucing, ai”

“Loh kenapa….?”

“Karena kucing diawali dengan huruf K. Karenanya, bisa menularkan virus toksoplasma” (kelihatan gak nyambung banget kan). Dalam kesempatan lain, umi menjawab “Karena kucing salah satu keluarga vertebrata. Dalam ilmu biologi, nama latinnya felis domestica. Secara alami, dia bermusuhan dengan canis familiaris. Ntar kalau ada canis familiaris lewat di depan rumah gimana? Mereka pasti berantem tuh. Ntar bunga hibiscus rosasinensis yang baru umi tanam kemarin mati keinjek-injek….”, jawab umi panjang lebar.

Uwaaaa…..aduh umi, ai gak paham.

Sudahlah, tidak ada gunanya membantah umi. sebelum umi mengeluarkan jurus-jurusnya yang lebih mematikan, kita ambil aja intinya. Umi tidak suka kucing. Titik. Gak pake koma. Ditulis diatas kertas folio margin 3, 3, 3, 3 pakai huruf Times New Roman spasi dua.

Malang benar nasibmu, kucing.

Tiba-tiba saja ia disana. Aku hanya bisa terdiam. Kaku. Seperti halnya aisyah yang hanya terpaku. Melongo memandangi makhluk keabuan muncul dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Kucing kecil itu dengan raut muka penuh dengan rasa penasaran berdiri di celah pintu yang terbuka. Toh ia hanya seekor kucing. Aku tidak tahu apa yang makhluk kecil itu pikirkan. Aku bahkan ragu apakah ia bisa berpikir. Maka, sekali lagi dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

Gawat!

Bisa ketahuan!

Maka sebuah tindakan penyelamatan kembali diambil. Tangan aisyah kecil sekali lagi bergerak dengan kecepatan luar biasa tinggi. Kali ini untuk menyambar tas dan sepatu yang sedari tadi sudah disiapkannya. Dengan tak kalah cepat mengenakannya, lalu berlari ke jalan. Kabur!

“Aisyah berangkat dulu umi! Assalamualaikum!”

Sejenak hening. Lalu. Sebuah teriakan bergema di udara, “Aiiiiii! Ini kucing siyaaapaaaaaa?!!!” Gadis kecil itu nyengir.

“Ah sudahlah. Ngejelasinnya nanti aja sepulang sekolah”, batinnya dalam hati. “Sekarang, Aisyah…eh nggak ding…putri aozora harus fokus sekolah.”

“fokus…fokus.. fokus…!”

Putri aozora harus tumbuh jadi muslimah yang pinter, cerdas, minimalnya dapat gelar master lah. Ditambah berbudi, punya akhlah mulia, sopan, (dan cantik tentunya-ia menambahkan sambil tersenyum-senyum) agar bisa menolong teman-teman di Palestine. Juga biar bisa nikah dengan ikhwan soleh yang militan. Hi hi hi

Kali ini ia membiarkan matanya memandang bebas ke langit di atasnya yang perlahan mulai terang oleh cahaya matahari. Kini, sudah tidak terlihat lagi hujan meteorit seperti yang disaksikannya seperti saat pagi tadi. Langit kini tampak biru. Dengan hiasan awan tipis yang tidak terlalu tampak oleh mata biasa.

Pagi yang indah. Beberapa burung tampak berloncatan dan berkicau sesukanya, tapi masih terdengar harmonik dan merdu. Angin berhembus pelan, mendesau. Dan titik-titik embun yang menetes perlahan dari ujung-ujung rerumputan dapat kau saksikan seperti butiran intan di tengah padang. Udara semakin terdengar riuh. Ramai oleh suara-suara.

“Satu lagi nikmat Allah di pagi ini.”, katanya dalam hati. Ia menarik nafas panjang, lalu sejenak membiarkannya memenuhi rongga parunya. “Angin, titip salam buat saudara-saudaraku di palestina ya. Katakan pada mereka, tunggu sebentar lagi. Putri aozora akan datang menyelematkan kalian. Tetep semangat dan senyum nggih…”

31
Mei
09

hanya bahan renungan kok

di suatu pagi, kau seperti terbangun. kau dapati tubuhmu terkapar diatas ranjang
bersprei hijau, di dalam ruangan berdinding putih pucat dengan aroma-aroma aneh
yang menusuk-nusuk hidungmu. telingamu tak mendengar apapun, hanya tangis. kau
dapati orang-orang disekelilingmu terisak yang kau bahkan kau tak tahu mengapa.
kau hanya merasakan tangan mereka yang gemetar ketika menggenggam tanganmu yang
mulai dingin dan perlahan kaku.

matamu nanar, kosong. menatap satu demi satu wajah-wajah di sekitarmu. kau ingin
bertanya, “ada apa?” tapi lehermu serasa tercekat. kau teriak sekenanya. tapi
yang keluar dari mulutmu tak lebih dari desis bisikan yang tak terdengar oleh
siapapun. kau bertanya dalam hati, “ada apa dengan tubuhku?”. kau panik, tubuhmu
tak bisa bergerak. neuron-neuron dalam otakmu kehilangan transducer yang
menghantarkan impuls-impuls kimia post synapsis syarafmu. kau hanya merasakan
keringat dingin yang mengalir pias mengalir di kening dan sekujur tubuhmu.

kau bertanya pada dirimu, “Tuhan, apakah ini?”. lalu perlahan penglihatanmu
memudar, syarafmu meradang, dan tanpa bisa kau kendalikan otot-ototmu menegang
dan membuat seluruh tubuhmu bergetar. lalu kau dapati semuanya sunyi, tepat
setelah dua baris kalimat dibisikkan lewat telingamu begitu lirihnya.

“dimana aku?” lalu kau bertanya pada dirimu sendiri. gelap menjadi apa yang kau
lihat. sunyi memenuhi telingamu, dan kekosongan menjadi satu-satunya yang
dirasakan seluruh indra sensorimu. keheningan yang sempurna…

29
Apr
09

case-001

Ah, apakah menulis sulit?

Hanya menuliskan beberapa kata, memberinya makna leksikal. Lalu merangkainya membentuk baris-baris kalimat, memberinya makna gramatikal. Hanya menaruh kepada kata-kata itu sebuah makna. Memberinya arti, entah itu kisah, narasi, prosa, eksposisi, atau lantunan syair dan puisi-puisi. Itulah menulis. Ambil saja secarik kertas, lalu biarkan jemari-jemari mungil itu menari-menari mengikuti fluks gelombang otak yang meledak-ledak. Ciptakanlah keajaiban dengan tulisan.

Dalam narasi ini –meskipun entah apakah tulisan ini memang layak disebut narasi- menulis toh adalah sebuah keajaiban. “keajaiban yang hanya bisa ditemukan pada orang-orang yang bermetamorfosa”, kata si penulis. Faktanya, orang yang menciptakan tulisan ini toh menguasai ketrampilan membuat tulisan hanya dalam satu malam. Malam yang ajaib. Entah. Malam itu ia tiba-tiba saja mampu bermain dengan ribuan kata-kata yang menari di benaknya dan menciptakan tulisan pertamanya. Sebuah prosa, yang hanya berkisah pendek tentang seekor kucing dalam imajinasinya. Bukan tulisan yang luar biasa memang, toh hanya ia yang mampu menangkap metafora-metafora yang ia rajutkan dalam simbol-simbol tulisan pertamanya. Egois. Biarlah. Ia memang tidak memberikan petunjuk sedikitpun untuk orang lain memahami elan tersembunyi dari kumpulan metafor itu. Tapi baginya, tulisan itu adalah sebuah keajaiban.

Baiklah, ia memang pernah memiliki guru-guru bahasa yang ‘menurutnya’ luar biasa. Dalam satu bagian penggalan narasinya tentang masa lalu. Dan memang pada kenyataanya demikian. Guru-guru bahasa itu adalah karakter yang telah membentuk kepribadiaannya sehingga anda menemukannya seperti sekarang ini. Seorang ‘guru’ yang menyadarkan dirinya dari ketololannya tidak bisa menulis huruf ‘f’, seorang ‘bapak’ yang mengajarinya tentang narasi sebuah masa, seorang ‘ibu’ multi talenta yang menguasai langgam-langgam jawa nan susah dibaca, sekaligus ‘kawan’ untuk bercanda, dan sekaligus ‘teman’ debat yang kadang menjengkelkan. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Ajaib. Tapi toh mereka belum mampu membuat si penulis mampu bermain dengan rangkaian kata-kata dalam otaknya, menulis!

Baiklah, kadang-kadang penulis juga hilang sebagian kesadarannya dan tiba-tiba menuliskan ‘sesuatu’ yang menarik. Ia duduk di depan mesin ketik tua, dan tiba-tiba jari-jarinya menari-nari dengan cepatnya diatas tuts-tuts yang sudah berkarat. Ia tiba-tiba menulis! Sebuah puisi aneh dengan permainan rima, bertajuk si Joni. Entah, ia juga tidak tahu. Tulisan itu seketika sudah ada di depannya ketika ia tersadar. Diketik rapi, dengan spasi 1,5 diatas kertas bekas bungkus kacang yang entah ia temukan dari mana. Kesurupankah? Ia tidak yakin. Ia tahu reputasinya selama ini mungkin cukup buruk untuk membuat jin kelas teri terjengkang terbirit ketika melihat tubuh kurusnya melintasi kuburan. Dan tulisan itu? Pada akhirnya toh hilang. Tidak ada yang tahu. Nasibnya entah berakhir di tumpukan sampah, hilang dan menyatu dengan bumi, atau kembali menjalani takdir sebagai bungkus kacang.

Lalu apa yang membuatnya menjadi penulis?

Sebuah keajaiban. Sama seperti keajaiban lain yang membuatnya tiba bisa membaca al-Quran dengan fasih ketika pertama menginjakkan kaki di bumi jogja, juga tidak jauh berbeda dengan keajaiban yang membuatnya tiba-tiba memahami arti dari ayat-ayat al-Quran yang ia baca. Sebuah keajaiban, seperti halnya keajaiban yang mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa di sekelilingnya. Tapi ia tidak sedang berbicara tentang keajaiban yang datang tiba-tiba begitu saja. whuz…selayaknya angin yang mengalir, lalu tiba-tiba hidupnya berubah drastis. Tidak, ia tidak berbicara tentang keajaiban yang seperti itu. Entah bagaimana bentuk keajaiban itu, semua keajaiban-keajaiban itu hadir sebagai konsekuen dari pilihan-pilihan yang telah ia ambil, dan tentu saja, ada resiko besar dari keajaiban-keajaiban itu. Katakanlah, kawan kita yang satu ini adalah pengecualian. Beberapa keajaiban yang diberikan kepadanya datang dengan tiba-tiba. Tapi toh tidak semua keajaiban itu datang seperti itu. Adakalanya, sama seperti ia ketika menemukan keajaiban dari makna metamorphosa, ia butuh waktu berbulan-bulan. Bukan waktu yang singkat tentu saja. Atau, ketika ia menemukan 3 orang luar biasa yang merubah total hidupnya, ia butuh waktu 7 tahun untuk menarik analogi dari 3 orang itu!

Baiklah, katakan saja si penulis menguasai kemampuan memanipulasi kata-kata dalam satu malam. Sebuah keajaiban seketika? Barangkali bukan. Seperti yang telah diceritakan dalam narasi sebelumnya, si penulis juga beberapa kali sempat berlatih menulis. Kadang, ia mengalami kejadian-kejadian ‘aneh’ seperti yang sudah dikisahkan, tapi tak jarang pula kertas tak berdosa ukuran A4s di depannya menjadi korban. Diremas, dicabik, diremuk, terserpih menjadi lembar-lembar kecil sobekan kertas putih, lantaran penulis frustasi dan gemas akan ketololannya pada dirinya sendiri. Ia tidak menghasilkan tulisan apapun! Atau, anda mungkin menemukannya ringan bermain dengan diksi atau rima. Tapi toh itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar, dengan berjam-jam bermain plesetan, lalu tertawa terbahak karena saking lucunya.

Ia memilih menjadi penulis karena ia ingin menciptakan keajaiban.

Bayangkan saja, kata-kata itu mungkin bisa teronggok begitu saja dalam otak. Meracuni neuron sebagi hafalan tanpa makna. Tapi menulis telah menciptakan keajaiban dengan memberikan makna pada setiap huruf, morfem yang digoreskan. Pada setiap kata, fonem yang dituliskan. Dan pada setiap kalimat, bait dan syair yang dibacakan pada akhirnya. Ia memberinya ruh, semangat jika tulisan itu berapi-api. Melodi, ketika tulisan itu ditulis dengan bait-bait ritmis. Dan symphoni, ketika tulisan itu rancak bermain nada, rima, dan rentak ritmis yang menyihir. Menulis telah menciptakan keajaiban bagi kata-kata. Ia memberikan kepadanya makna.

Ah, apakah menulis itu sulit?

Menulis adalah keajaiban. Ciptakan saja keajaiban dengan penamu sendiri.




dayscounter

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

mind oracle

jasad manusia selalu terkurung dalam batas dimensi ruang dan waktu. tetapi jiwa dan pikirnya ketika bertautan dengan keimanan akan membebaskannya dari bumi dan dunia untuk selamanya

Arsip

Kategori

counters

  • 764 views