17
Nov
11

tanya nggih

awalnya hanya sok filosofis, berpikir tentang bagaimana jika saya menganalogikan Tuhan sebagai energi. tapi kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. kalau ada yang tahu jawabannya, tolong dijawab nggih.

jadi seperti ini. dari penemuan rutherford dan yang lain kita mulai tahu tentang struktur atom. atom terdiri dari inti atom dan elektron yang menempati orbital tertentu. sedangkan inti atom itu sendiri, terdiri dari proton dan neutron. kemudian, dari einstein kita tahu bahwa massa bisa berubah menjadi energi, dan sebaliknya. sebagian dari massa inti atom terkonversi menjadi energi yang menyatukan inti atom (menghasilkan persamaan e=mc^2 yang legendaris). hal ini menjelaskan mengapa proton dalam inti atom bisa saling berkumpul.

nah, ketika sampai disini, saya berhenti dan tercenung. bom yang meledak di hiroshima dan nagasaki energinya berasal dari peruraian ikatan inti atom plutonium menjadi atom lain dengan massa yang lebih rendah. itu artinya, tidak semua massa plutonium terkonversi menjadi energi. saya berpikir, jika semua massa plutonium bisa terkonversi menjadi energi, maka satu kilo plutonium mungkin mampu menghancurkan seluruh tata surya. fyuuh….mengerikan. dan saya pun gemetar. bayangkan saja, betapa besar energi yang digunakan Tuhan untuk mencipta keseluruhan alam semesta.

dari sini kemudian muncul beberapa pertanyaan.

pertama, energi yang dibutuhkan untuk menyatukan inti atom sangat besar. apa yang membuat ikatan intra inti atom sangat sulit lepas?

padahal hukum termodinamika kedua, tentang entropi, menyatakan bahwa nilai entropi alam semesta selalu positif. artinya, tingkat “kekacauan” alam semesta selalu meningkat. dalam konteks ikatan kimia, berarti setiap reaksi kimia yang terjadi cenderung untuk membentuk senyawa baru dengan ukuran yang lebih kecil dan sederhana. maka tidak heran jika kita menemukan sebuah atom dengan massa besar cenderung tidak stabil dan meluruh membentuk atom-atom baru yang lebih kecil. dengan energi yang sebegitu besar, seharusnya ikatan intra inti atom mudah lepas. tapi mengapa hal itu jarang terjadi pada atom yang berukuran sedang atau kecil?

kedua, kita tahu reaksi reaksi yang terjadi di matahari adalah reaksi fusi antara dua atom hidrogen menjadi helium. tapi, penemuan-penemuan selanjutnya menemukan bahwa reaksi fusi hidrogen bukan satu-satunya reaksi fusi yang terjadi. ketika bintang sudah menua, reaksi fusi yang lain juga akan berlangsung dan menghasilkan atom-atom lain dengan massa yang lebih besar. nah, disini kemudian timbul sebuah pertanyaan. atom hidrogen hanya memiliki sebuah proton dan sebuah elektron. ketika bereaksi fusi, menghasilkan helium dengan dua proton dan dua elektron. sampai disini kita tidak melihat keberadaan neutron. akan tetapi, atom-atom dalam sistem periodik dengan massa lebih besar dari helium memiliki inti atom yang terdiri dari proton dan neutron. jika matahari mampu menciptakan atom yang lebih besar dari helium, darimana ia memperoleh neutronnya?

karena keterbatasan ilmu saya, saya tidak bisa menjawab dua pertanyaan diatas. ada yang mau bantu?

29
Okt
11

tentang cinta

Ketika cinta berada di luar sana, maka cinta adalah sebuah kata benda. Anggap saja bulat. Empuk. Kinyul-kinyul. Dan enak dicokot-cokot. Atau terserah deh…kalian bisa membayangkan cinta dalam berbagai versi. Silahkan gunakan imaji kalian dan bayangkan cinta dalam berbagai bentuk dan versi sesuka hati. Tapi kita harus sepakat tentang satu hal. Cinta di luar sana adalah kata benda.

Tapi ketika cinta ada dalam diri kita, maka cinta adalah sebuah kata kerja. Sebuah keputusan dan sikap. Cinta dalam diri kita tidak pernah mewujud dalam sekedar kata, sekedar vibrasi udara yang terartikulasi, atau sekedar tulisan yang tertulis dalam surat cinta.

Maka, ketika cinta datang mengetuk hati dan bertanya kepada anda tentang cinta, anda bisa memulai menjawab dengan sebuah kisah. Dimulai dari sebuah kelimat pendek, saya katakan kepada anda, “Cinta adalah manifestasi serangkaian tekad, rencana, dan sebuah aksi strategik yang tersusun sempurna.”

29
Okt
11

argumen tentang kesederhanaan

Ah, kawan kita, si Plato yang malang. Tidak akan berdaya jika harus beradu retorika berhadapan dengan tokoh sophis manapun. Maka ketika suatu hari, ketika seorang tokoh sophis mendatanginya dan berdebat tentang Tuhan, Plato hanya memberikan jawaban-jawaban pendek sekenanya. Menanggapinya tampak seolah malas.

Maka si tokoh sophis pun makin bersemangat menyerang dengan deret-deret retorika yang ampuh. Menunjukkan dengan analisis yang sangat tajam betapa ia tidak mampu menemukan sosok Tuhan dimanapun ia mencarinya. Ia berteriak keras. Memanggil-manggil Tuhan. Menunjukkan pada khalayak ramai betapa Tuhan yang dipercaya Plato seakan tidak pernah mendengar satupun seruannya. Dan Plato pun tampak semakin terpojok. Hanya mampu memberikan jawaban-jawaban yang semakin pendek dan tampak seadanya.

Hingga Plato terdiam tanpa membalas sedikitpun.

Maka si tokoh sophis pun tertawa penuh kemenangan. Berkacak pinggang dengan bangga karena mengalahkan kawan kita tanpa perlawanan berarti. De facto. Hari ini Plato dan Tuhannya telah dikalahkan oleh kaum sophis, pikirnya.

Pada akhir diskusi, Plato bertanya pada si tokoh sophis. “Apakah kamu tidak percaya Tuhan?”. Maka si tokoh sophis pun menjawab angkuh, “untuk apa saya mempercayai sesuatu yang tidak ada?”. “Hidup jauh lebih menyenangkan jika penuh dengan kebebasan. Tuhan tidak pernah ada, dan aturan-aturan yang kalian sebut agama hanya imajinasi kalian para manusia yang tidak mengerti arti kebebasan.”, lanjutnya dengan bersemangat.

 “itu sih…Terserah kamu mau percaya pada tuhan. Saya tidak tahu, dan sepertinya juga tidak mau peduli. Hanya saja, saya memilih untuk percaya dengan Tuhan.”, jawab Plato dengan santai. “Orang bodoh saja punya argumen bodoh untuk percaya Tuhan. Kalaupun Tuhan tidak benar-benar ada, dengan menjalankan ajaran-ajaran agama, toh ia tidak rugi sedikitpun. Ajaran agama toh pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tapi masalahnya, jika Tuhan benar-benar ada, Tuhan akan sangat murka jika ia menyalahi ajaran-ajaran Tuhan. Dia akan membakar dan menyiksa orang itu terus menerus dalam neraka.”

Si tokoh sophis pun terdiam.

“kamu bukan orang bodoh kan?”

Plato pun pergi dengan senyum kemenangan.

========

Dan tentu saja, argumen bodoh itu hanya berlaku untuk ‘orang bodoh’ dari yang paling bodoh. Setiap orang yang berakal harusnya memiliki alasan lebih dari sekedar ‘argumen bodoh plato untuk orang bodoh yang tidak percaya Tuhan’.

Dengan tulisan ini, saya ingin mengatakan betapa ‘sederhana’ adalah kata yang menyenangkan. Tokoh Plato yang seringkali muncul dalam imaji kita sebagai sosok yang rumit. Kompleks. Tidak terdefinisikan. Pada kenyataannya adalah tokoh dengan pola pikir yang sangat ‘sederhana’. Sama sekali tidak rumit, dan jauh dari kompleksitas yang selama ini kita bayangkan.

Apapun yang ia hasilkan dari pemikirannya, entah itu filsafat, geometri, ataupun matematika, berasal dari sebuah ke’sederhana’an metode berpikir. Pada dunia, ia memperkenalkan bentuk geometri sederhana. Lingkaran, segitiga, segiempat, segilima, bentuk-bentuk yang sangat murni. Sebuah pe’nyederhana’an dari segala bentuk yang kita temukan di sekitar kita. Sebuah simplifikasi.

Metode platonik yang saya bahas dalam tulisan sebelumnya pun, muncul dari sebuah ke’sederhana’an berpikir yang sama. Semua hasil pemikirannya, dalam semua bidang, pada hakikatnya menunjukkan bagaimana sebenarnya Plato berpikir dengan sangat ‘sederhana’.

Kita namakan saja ke’sederhana’an berpikir ini dengan ‘bahasa logika’. Sebuah bahasa yang hanya mengenal hitam putih. Mengacuhkan semua macam dan bentuk ke’samar’an, dan ker’rancu’an yang ada di bumi. Memindahkan semua hal, hanya pada salah satu dari dua dimensi ke’sederhana’an, benar dan salah, lalu membuang sisanya.

Bahasa logika adalah bahasa pengetahuan. Bahasa yang sama, yang digunakan ratusan tokoh. Ribuan pemikir lainnya dalam menghasilkan karya-karya besar yang mengubah dunia. Dalam perspektif lainnya, kita menamakannya bahasa kebenaran. Dan Dalam perspektif agama, bahasa logika adalah bahasa ketauhidan. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan menafikan segala sesuatu selainnya.

Tapi sebagaimana bahasa logika bisa memanifestasikan dirinya dalam berbagai nama, bahasa logika dengan semua hal yang menjadikannya ‘sederhana’ adalah kerumitan itu sendiri. Tidak pernah mudah menjadikan sesuatu yang tertulis dalam ‘bahasa logika’ dijelaskan kembali dalam ‘bahasa bumi’ yang mengenal ‘samar’ dan ‘rancu’. Maka kita menemukan betapa keadilan dan kebenaran tidak pernah semudah yang terlihat untuk ditegakkan. Demikian pula akidah ketuhanan, hampir tidak pernah ditemukan dalam bentuk sempurnanya di bumi.

Menjadikannya sebuah kenyataan pahit, hampir semua hal yang tertulis dalam bahasa logika sebagai sebuah entitas yang paling murni, mengalami transformasi sedemikian jauh ketika ia dituliskan kembali dalam ‘bahasa bumi’. Maka kita dapati pemikiran-pemikiran kawan kita Plato dikenal menjadi sebuah pemikiran yang sangat kompleks dan rumit. Demikian pula kita akan mendapat sifat Tuhan yang Maha Kasih kadang termanifestasi dalam tindakan tindakan keji. Serangkaian penyiksaan, pemerkosaan, genosida, dan parade pembunuhan yang tak mengenal manusiawi. Semua hal tersebut terjadi ketika entitas ‘bahasa logika’ bertransformasi dengan cara yang tidak semestinya.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan betapa tingginya urgensitas menerjemahkan semua hal yang tertulis dalam bahasa logika ke dalam bahasa bumi dengan cara yang tepat. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki kemampuan ini. Sebagaimana hanya beberapa orang yang mampu menangkap ke’sederhana’an pikir Plato, maka hanya segelintir pula orang-orang yang mampu menerjemahkan ajaran-ajaran Tuhan dengan semestinya.

Sampai disini, kita mungkin akan berpikir tentang kompleksitas. Kerumitan dalam menerjemahkan semua hal yang tertulis dalam ‘bahasa logika’.

Meskipun demikian, dengan semua ‘keadilan’ yang ada pada Tuhan, dibalik tingginya urgensitasnya, Ia menjadikan kemampuan menerjemahkan ‘bahasa logika’ sebagai sebuah hal yang sederhana. Kuncinya, adalah mengembalikan ‘bahasa logika’ kepada bahasa yang paling sederhana, tentang akidah ketuhanan. Setiap orang yang memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ‘bahasa logika’ ke dalam ‘bahasa bumi’ adalah orang-orang yang memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Tuhan. Maka jangan heran banyak Ilmuwan pada masa kini dan dahulu yang sekaligus menjadi sosok yang sangat religius. Hadist yang berbunyi, “man yuridullahu khairan, yufaqqihhu fiddin”, sepertinya sangat tepat untuk menjelaskan fenomena ini.

Saya ingin menjelaskan bagaimana otoritas Tuhan atas hidayah sangat berperan dalam hal ini. Akhir-akhir ini saya sering berpikir tentang buku-buku yang saya baca, diskusi-diskusi yang saya ikuti, dan bagaimana pikiran saya terbentuk olehnya. Saya banyak membaca buku yang banyak kawan saya menyebutnya ‘buku ekstrem’. Ajaran-ajaran ‘kiri’ yang banyak dijauhi orang. Juga pemikiran-pemikiran ‘radikal’ dan ‘revolusioner’ yang membuat banyak orang bergidik hanya karena namanya. Ajaibnya, saya tak lantas menjadi Marx yang ‘membunuh’ Tuhan dalam hatinya. Ilmu-ilmu filsafat dan tasawuf yang saya pelajari juga tak lantas membuat saya berteriak ‘tuhan telah mati’, atau malah berpikir tentang ‘menyatu’ dengan Tuhan.

Singkat kata, semua yang saya pelajari lebih dari sekedar cukup untuk membuat saya menjadi sosok yang mengerikan. Bisa saja saya menjadi seorang psikopat yang membunuh banyak orang. Menjadi tokoh dibalik genosida. Atau bahkan menghabisi semua manusia dengan dalil agama. Tapi disinilah otoritas Tuhan atas hidayah bekerja dan membuat saya menjadi sosok yang kawan-kawan saat ini kenal.

Hal yang sama terjadi pada semua orang. Tokoh tokoh, para pemikir luar biasa yang kita kenal kini, dulu, atau juga yang dunia akan kenal nantinya. Kita. Dibalik semua kerumitan yang tertampak padaNya, entitas Tuhan adalah keberadaan paling murni dan paling sederhana. Jika kita ingin mendapatkan otoritas untuk menerjemahkan ke’sederhana’anNya dalam bahasa bumi, maka pertanyaan yang harus kita jawab pada setiap diri kita adalah….sudah pantaskah kita melakukannya?

14
Okt
11

rahasia

tahukah? sebuah entitas bernama dunia dikendalikan oleh kisah kisah tentangnya. untuk setiap kisah baru yang dituliskan, lalu diceritakan kembali, dunia akan patuh selayaknya batu dalam genggaman.

12
Okt
11

tentang hati

sebuah hikayat tentang sebuah hati. dengan seribu bilik dan lorong-lorong sempit yang berliku.
sebuah cerita tentang sebatang iman. lalu sependar cahaya diatas kolam yang menari
tentang manusia, perjalanan, kemudian tentang rahasia-rahasia

bayangkan saja hati seperti sebuah ruangan besar dengan ribuan bilik yang terpisah. maka dinding yang melindunginya adalah rahasia-rahasia. pada setiap lorongnya yang sempit, gang-gang kecil yang berliku, setiap ujungnya akan membawa pada bilik terdalam pada hati. dengan sebuah kolam jernih dan cahaya kecil menari di atasnya. maka setiap tirai pada bilik-bilik hati adalah ragu. dan pedang yang merenggutnya adalah iman. maka hati yang dipenuhi ragu akan senantiasa tertutupi dari cahaya. dan hati yang dipenuhi iman akan bersinar untuk setiap bilik bilik hati yang dicapai cahaya.

para pemilik rahasia adalah musafir-musafir kehidupan. setiap perjalanan akan membawa pada renungan-renungan. dan setiap renungan akan mengantar musafir pada rahasia-rahasia. hidup. hilang. lalu mati tanpa ada yang tahu.

07
Okt
11

the black moon

black moon of the dark sky
sing the glorious song that has faded away

the light that can’t be seen
the untouchable sky
the black pearl beneath the deep of rainbow ocean
the fate of dying sorrow eye

01
Okt
11

tentang plato

Plato. Siapa sih yang tidak kenal Plato? Seorang pemikir, ilmuwan, filsuf, dan dalam beberapa perspektif, seorang rohaniawan. Dari buku yang kita baca, atau setidaknya, dari cerita orang, kita akan tahu bahwa plato berasal dari yunani. Maka ketika kita mengimajikan plato, yang terbayang adalah sosok laki-laki yang gagah, kekar berotot, dan tampan. Dan sebagai seorang pemikir, filsuf yang terkenal, kita mungkin membayangkan sosoknya pandai berpidato, dan menawan ketika harus berbicara di depan banyak orang.

Tapi yang tidak banyak orang ketahui adalah, bahwa plato, pada kenyataannya sangat jauh dari sosok yang seperti itu. Sejarah mencatatnya sebagai laki-laki yang pendek, gemuk, dengan wajah yang terdengar ironis jika dikatakan tampan. Dikatakan pula, suaranya sengau, melengking tinggi, dan sama sekali tidak menarik untuk lama lama didengarkan. Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang aneh, dan ia sangat dibenci kaum sophis yang menjadi golongan elit pada masa itu.

Pada masa itu, masyarakat yunani bisa dibagi dalam dua kelompok. Satu kelompok, golongan konservatif yang mengenal banyak tuhan. Satu lagi, golongan radikal yang memilih tidak percaya tuhan sama sekali. Golongan pertama diwakili oleh masyarakat kebanyakan, aristokrat, dan tentu saja, para pemuka agama. Golongan kedua, diwakili oleh oleh kaum sophis. Para pemikir, para filsuf, orang-orang dengan kemampuan berbicara, diplomasi, logika, dan dialektika diatas rata-rata.

Celakanya, orang-orang yang terakhir ini, lebih banyak menggunakan kemampuan berlogika dan berdialektika mereka untuk menyesatkan banyak orang. Slogan mereka, “kebenaran hari ini bukanlah kebenaran di hari esok”. Dengan kemampuan mereka berdebat dan membangun argumen, mereka mempengaruhi banyak orang untuk meninggalkan tuhan dan untuk berbuat hal-hal yang merugikan banyak orang. Dari merekalah kita mengenal materialisme yang mengarah pada menafikan keberadaan tuhan, dan hedonisme yang mengajarkan hidup hanya untuk bersenang-senang.

Dari sekian banyak orang yang melawan pemikiran kaum sophis, plato adalah salah satu diantaranya. Metode yang ia gunakan bisa dikatakan sangat unik. Ia tidak melawan dengan khotbah ataupun adu debat panjang lebar. Mungkin, karena memang ia sadar ia bukan tandingan kaum sophis dalam dua hal itu. Maka, ia melawan kaum sophis dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Setelah mendapatkan jawaban, maka ia akan mengajukan pertanyaan lagi. Demikian, ia terus-menerus mengulangnya hingga lawan bicara bingung dan orang-orang di sekitar tersadar mereka sedang ‘disesatkan’ oleh kaum sophis.
Metodenya sederhana, Tapi terbukti sangat efektif. Ia pun terkenal dan mempunyai beberapa murid yang belajar langsung darinya. Dan tentu saja, dengan cepat pula ia dibenci kaum sophis dan perlahan-lahan dianggap sebagai musuh yang harus segera disingkirkan.

Selanjutnya, plato mendapat pengaruh yang cukup kuat di masyarakat. Setelah satu per satu tokoh sophis tumbang di hadapan plato, ia mulai mendapat banyak murid dan pengikut. Celakanya, plato adalah orang yang ‘nyeleneh’ dalam beragama. Di tengah masyarakat yunani yang mengenal zeus, hades, dan ratusan dewa lain sebagai tuhannya, plato hanya mengakui keberadaan satu tuhan dan tidak mau mengakui tuhan-tuhan lainnya. Orang-orang sophis memanfaatkan hal ini. Menghasut pemerintah yang berkuasa, mengatakan pada mereka bahwa suatu saat plato dan para pengikutnya akan menumbangkan mereka dari tahta kekuasaan mereka.

Singkat cerita, pemerintah terhasut. Plato ditangkap. Dilempar ke penjara. Ia mati. Diracun.

=====

Ketika membaca cerita ini, dari sebuah buku yang ditulis bung Hatta, beberapa persepsi saya tentang diri plato banyak berubah. Sampai pada suatu titik, saya menganggapnya orang suci. Atau setidaknya, orang yang diberi hidayah hingga menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Anda boleh mendebatnya. Sungguh. Toh itupun hanya pendapat saya. Sesuatu yang terlintas di pikiran setelah membaca kisahnya. Dan sungguh, tidak ada bukti otentik yang menyatakan bahwa ia adalah wali Tuhan. Apalagi seorang nabi. Jika memang tidak sepakat, anda bisa mendatangi saya, dan mari kita berdiskusi tentang itu.

Sayangnya, tulisan ini tidak sedang membahas kebenaran apakah plato itu nabi atau bukan. Saya hanya sekedar ingin bercerita tentang seseorang bernama plato yang pernah hidup di masa lalu. Kebetulan, saya memiliki cara berpikir kurang lebih sama. Kritis. Anda boleh menambahkan kata ‘sangat’ jika perlu. Kami berdua memiliki cara berpikir yang membuat kami dikenal tak segan untuk mempertanyakan semua hal.

Harus diakui bahwa cara berpikir seperti itu sering menempatkan kami dalam posisi yang tidak menyenangkan. Lihat saja, plato dibunuh. Dan saya sering dicap ‘pembunuh’ dalam sesi debat dan diskusi. Meskipun demikian, bagi orang-orang seperti kami rasa kepuasan dari sebuah ‘ketahuan’ yang diperoleh dari jawaban sebuah pertanyaan selalu terasa lebih manis dibanding semua resiko yang harus kami terima. Dalam banyak kasus, kadang pertanyaan yang diajukan dinilai banyak orang tidak relevan. Pertama, karena membicarakan hal hal yang menjadi kewenangan Tuhan sehingga tidak pantas untuk dipertanyakan. Kedua, hal yang ditanyakan bersifat aksiomatik atau sebuah konvensi umum. Meskipun demikian, dengan ‘bertanya’, kami akan mendapat banyak ‘ketahuan’ baru. Banyak hal baru dan menarik yang bisa kami dapatkan dari setiap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.

Saya harus tekankan bahwa urgensi berpikir kritis tidak hanya tentang rasa puas dari memperoleh sebuah ‘ketahuan’. Metode ‘bertanya’ yang dilakukan plato untuk melawan kaum sophis mengilustrasikan urgensi kedua dari ketiga urgensi berpikir kritis. Dalam kasus plato, berpikir kritis ia gunakan untuk menguji kevalidan dari sebuah kebenaran. Kebenaran dalam cara pandang ‘berpikir kritis’ tidak akan tergoyahkan dengan semua argumen yang dilempar dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Untuk itulah, untuk membuktikan ‘kesesatan pikir’ kaum sophis, ia mengajukan pertanyaan pertanyaan kepada mereka. Hal ini semata-mata untuk menunjukkan kepada orang-orang di sekitar bahwa apa yang kaum sophis pada hakikatnya adalah kebohongan yang dilebih-lebihkan dan dihias dengan seni dialektika.

Dengan menggunakan premis yang sama, saya memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan kembali semua hal yang diklaim sebagai ‘kebenaran’. Kecenderungan ini akan bertambah besar jika ‘kebenaran’ yang diklaim itu mengusik ‘kebenaran’ atas ‘ketahuan’ yang kami miliki. Pada banyak situasi, orang-orang yang berpikir kritis semacam ini akan dinilai sebagai sosok yang ‘ngeyelan’ dan tidak mau kalah. Tapi dibalik stigma negatif itu, yang kami inginkan hanyalah sebuah ‘ketahuan’ dengan validitas yang tinggi. Jika memang terbukti salah, kami tidak akan segan untuk membuang ‘ketahuan’ yang kami miliki dan menggantinya dengan yang baru.

Selanjutnya, urgensi ketiga dari berpikir kritis adalah untuk mengajar dan menyadarkan orang. Plato hampir tidak pernah memberikan ceramah kepada murid dan para pengikutnya. Untuk mengajarkan apa yang ia ketahui, ia akan mengajukan pertanyaan pertanyaan dan membiarkan murid-muridnya mencari jawabannya sendiri. Sejarah mencatat bahwa plato sangat konsisten dengan metode mengajarnya. Meskipun demikian, metode belajar ini tak lepas dari banyak kritik. Hal ini terutama terkait dengan perbedaan kemampuan kognitif pada setiap orang. Intinya, tidak setiap orang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan plato. Kalaupun mampu, jawaban yang diperoleh belum tentu tepat seperti yang diinginkan. Dalam banyak kasus, transfer pengetahuan dari guru ke murid gagal terjadi karena murid tidak mampu menjawab pertanyaan dengan tepat.

Beberapa pengikut plato menyempurnakan metode mengajar plato. Aristoteles, salah satunya, menambahkan dengan memberi ceramah-ceramah klasikal kepada muridnya. Hal ini akan menyelesaikan permasalahan dari cara mengajar plato seperti yang telah dijelaskan di atas. Meskipun demikian, salah satu yang sangat saya sukai adalah kepraktisannya. Mengajukan pertanyaan tentu saja lebih mudah dan cepat jika dibandingkan harus menjelaskan panjang lebar. Dalam banyak kasus yang saya temukan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya pada dasarnya sudah diketahui oleh sang penanya. Hanya saja, kadang sang penanya ragu dengan jawabannya atau malas untuk menggali. Maka, saya seringkali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung. Melainkan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang secara otomatis menjawab pertanyaan si penanya itu sendiri. Bagi saya, cara ini lebih praktis. Bagaimana menurut anda?

29
Sep
11

puisi pagi 2

#1 bulan hitam tak
memerlukan
kawan. bintang biru tak perlu sepasang mata kekasih yang
merindu. angin pun kan
membadai kapanpun ia suka.

#2 kumbang tak
mencinta mawar karna harumnya..malam tak merindu bulan karna lembutnya. Mentari tak pernah butuh alasan untuk
bersinar menebar hangat pada bumi kala pagi

19
Sep
11

puisi pagi

Pada hati yang sedang mencinta, jarak adalah ketiadaan. Untuk setiap kata cinta yang diucap, angin kan menyampaikannya pada semesta. Mengantarkannya pada buluh hingga ia bersenandung syahdu. Mengantarkannya pada setiap rerumputan. Membisikkan kata cinta. Untuk setiap flux cahaya dan kehangatan mentari yang menyapanya pada pagi. Ia akan tahu, kau begitu mencintainya.

17
Sep
11

‘menyamar’ dan ‘menipu’

Sebuah organisasi mahasiswa, pada suatu hari mengundang saya untuk mengundang saya dalam sebuah diskusi. Sebenarnya sih, sebuah training. Kebetulan, saya pernah aktif di organisasi tersebut. Dan untuk alasan yang tidak saya ketahui sepenuhnya, saya didaulat untuk mengisi sebuah sesi dalam training tersebut. Sesinya bertajuk “Peran Strategis Lembaga dalam dakwah siyasi di UGM”. Terdengar berat. Tapi panitia mengemas bentuknya dalam sebuah diskusi panel. Menghadirkan beberapa orang yang pernah aktif dalam ‘dakwah siyasi’ di UGM. Kebetulan juga, saya salah satu diantaranya.

Yang membuat saya sedikit minder, ternyata peserta training kali ini banyak. Jauh melebihi ekspektasi saya. Dan celakanya lagi, saya disandingkan dengan tokoh dengan kaliber jauh di atas saya. Mantan ketua BEM. Sekarang ketua KAMMI komisariat UGM. Bahkan dilihat sekilas pun, style saya kalah kelas. Dibandingkan kawan saya yang datang dengan kemeja dan celana kain yang disetrika rapi, saya datang dengan celana jins dan kaos. Itupun warnanya sudah luntur dan terlihat agak kusam. Sialnya, catatan materi yang akan saya sampaikan terselip entah dimana dan sepertinya menolak saya temukan. Maka saya pun membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat saya diundang sebagai salah satu pembicara dalam diskusi ini?”

Saya katakan, yang membuat saya hadir dalam diskusi tersebut sepertinya bukan pengalaman, ataupun kapasitas saya dalam dunia ‘dakwah siyasi’. Secara historis, saya tidak dibesarkan dalam ranah ‘dakwah siyasi’. Sebaliknya, saya besar dan tumbuh dalam nuansa ‘daawy’ yang cukup kental. Pernah aktif sebagai anggota SKI di SMA, maka pada awal kuliah, saya pun dikenal sebagai anak rohis. Meskipun secara administratif pernah tercatat sebagai staf BEM dan kader KAMMI, saya lebih banyak menghabiskan waktu aktif di SKI dan cenderung menganggap aktivitas organisasi di tempat lain sekedar sambilan atau iseng-iseng menghabiskan waktu.

Lucunya, apa yang membuat saya aktif di dunia ‘dakwah siyasi’ UGM justru sering saya sebut sebagai ‘kecelakaan sejarah’. Ketika amanah di SKI baru saja selesai, sebuah partai mahasiswa di UGM (sebut saja partai bulet) baru saja menang pemira, dan menyisakan sebuah kursi kosong di DPM. Kebetulan, salah seorang kakak angkatan adalah pengurus di partai tersebut. Saya pun ditunjuk untuk mengisi kursi kosong tersebut. Lalu, karena saya sedang tidak ada amanah, dan dijanjikan mendapat bimbingan selama di DPM, saya menerima tawaran tersebut.

Yang tidak saya ketahui, ternyata kondisi perpolitikan mahasiswa pada waktu itu  sedang panas-panasnya. Partai bulet selama bertahun tahun menguasai suara mayoritas di DPM, dan hampir selalu menang dalam pemilihan presiden BEM. Hal ini menimbulkan sentimen ketidaksukaan di beberapa partai mahasiswa lain. Pada akhirnya, partai partai ini kemudian membentuk sebuah aliansi untuk ‘menggulingkan’ partai bulet. Konflik demi konflik pun muncul. Perdebatan dan adu argumentasi pun menjadi sebuah rutinitas, menjadikan saya sebagai salah satu ‘aktor’ yang harus bertahan di dalamnya.

Pada awalnya, jujur saya katakan bahwa saya merasa tidak nyaman dengan situasi yang saya hadapi. Ada jurang besar yang harus saya hadapi ketika saya menjadi anggota DPM. Pertama, saya harus membiasakan diri dengan kultur yang sangat jauh berbeda dengan yang sebelumnya saya hadapi. Nuansa SKI yang sedemikian ‘tenang’, harus diganti dengan nuansa DPM yang sedemikian ricuh. Penuh dengan tak hanya debat dan adu argumentasi, tapi juga caci dan luapan kemarahan yang seakan menjadi rutinitas pertemuan setiap hari.

Kedua, saya harus mengejar kapasitas keilmuan dan skill yang besar. Seorang legislator dituntut untuk menguasai pengetahuan pengetahuan dasar dan skill untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Saya yang besar dan tumbuh di SKI hampir tidak tahu menahu banyak tentang perpolitikan kampus. Hanya selintas kabar. Jangankan pengetahuan dasar dan skill yang melangit itu, istilah istilah yang sering dipakai pun saya tak banyak tahu.

Yang membuat posisi saya semakin tidak nyaman, sebagai pendatang baru di ranah perpolitikan kampus, saya justru dituntut memiliki performasi yang lebih tinggi dari orang orang yang sudah terlebih dahulu terjun di ranah ini. Belakangan, saya baru bahwa salah satu alasan partai harus repot repot ‘mengimpor’ saya dari ranah ‘daawy’ adalah karena pada tahun itu saya terpilih sebagai kader terbaik partai. Dan karenanya, beberapa senior menaruh harapan yang cukup besar pada saya.

Pada akhirnya, meskipun bisa beradaptasi dengan cepat pada suasana yang jauh berbeda, saya tidak mampu mengejar ketertinggalan kapasitas yang (menurut saya) sudah terlambat untuk dikejar. Untungnya, saya terbiasa ‘menyamar’ dan ‘menipu’ untuk menghadapi situasi situasi sulit semacam ini. Sebagai anggota DPM misalnya, karena saya berasal dari partai incumbent yang hegemonik, saya berada dalam posisi dimana saya harus berhadapan dengan banyak lawan lawan politik yang membenci partai saya. Akan tetapi, dengan ‘menyamar’, saya bisa menyembunyikan jatidiri saya dan bisa berbaur dengan nyaman. Dengan cara ini, setidaknya saya bisa menghindar dari sasaran pelampiasan kebencian dari lawan lawan politik. Selain itu, saya bisa dengan mudah mempengaruhi massa yang lebih besar dan memenangkan debat dengan mudah.

Kemudian, dengan sedikit ‘menipu’, saya menciptakan sebuah ilusi dimana saya adalah orang dengan kapasitas tinggi yang sulit dikalahkan. Sederhana saja, satu kali saja, pada awal forum, gunakan kata kata bermajaz tingkat tinggi nan elegan. Lawan bicara akan mengira kita pintar luar biasa dan membuatnya segan untuk mendebat. Trik menyenangkan bukan? Ajak satu dua kawan untuk berkoordinasi. Dengan ditambah ‘trik trik kecil’ manipulasi forum, masalah ‘tipu menipu’ ini akan menjadikan tim anda sukar dikalahkan dalam banyak debat sengit dan menghindarkan anda dari adu argumentasi yang panjang.

Meskipun sederhana, dua trik ini seringkali menyelamatkan diri saya dari posisi posisi yang sulit. Terdengar sangat licik memang, tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Pada dasarnya dua trik diatas bertujuan untuk menciptakan penerimaan yang lebih besar atas ide ide dan gagasan yang kita miliki. Dan dalam konteks tertentu bisa juga diartikan ‘pemaksaan tersembunyi’ atas ide dan gagasan. Meskipun demikian, kunci keberhasilan dari terlaksananya ide dan gagasan kita juga terletak pada kualitas ide dan gagasan itu sendiri. Sebuah produk makanan misalnya, jika makanan itu adalah ide dan gagasan, maka kemasannya adalah trik ‘menyamar’ dan ‘menipu’. Strategi yang diterapkan tidak jauh berbeda dengan strategi pemasaran yang berlaku pada umumnya. Seberapa besar penerimaan massa atas produk kita ditentukan oleh seberapa baik kualitas ‘makanan’ dan seberapa cantik ‘bungkus’ yang kita gunakan.

Saya harus katakan bahwa baik buruknya trik ini tergantung dari tujuan trik ini digunakan. Dengan melakukan beberapa modifikasi sederhana, trik yang sama saya gunakan untuk mengagitasi staf-staf saya di SKI dan membuat mereka lebih semangat dan produktif. Juga membuat mereka menjadi tim departemen yang paling kompak di SKI. Trik yang sama juga membuat diri saya dikenal ‘ramah’ dan mudah bergaul, menyembunyikan sisi diri saya yang eksplosif dan radikal. Sesekali, digunakan untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai. Akan tetapi, trik yang sama juga saya gunakan untuk membunuh karakter orang, memenangkan debat, dan memanipulasi forum rapat DPM agar menguntungkan kepentingan partai.

Lebih jauh lagi…agak sedikit jahat, trik yang sama saya gunakan untuk ‘menghancurkan’ sebuah kongres mahasiswa menjadi ajang tawuran massa. Caranya mudah kok, pertama, tunjuk satu atau dua orang dalam forum. Setelah itu, bagi tugas. Satu orang sebagai ‘biang kacau’, tugasnya membuat forum menjadi ricuh dan mengeluarkan pernyataan yang konfrontatif. Satu orang lagi ‘biang damai’, tugasnya mendamaikan forum. Yang terakhir, bertugas sebagai ‘biang petunjuk’ tugasnya menyampaikan resolusi dan usulan yang menceerahkan pada forum.

Selanjutnya, kita tinggal memainkan tingkat emosi orang orang yang bertugas mengambil keputusan (dalam kasus ini, pimpinan sidang) dan orang yang menjadi lawan politik kita.  Koordinasi tiga aktor ini akan menjadi faktor krusial. Jika perlu, lakukan koordinasi diam diam ketika di dalam forum. Timing permainan juga menjadi faktor penentu yang penting. Ketiga aktor harus tahu kapan dan bagaimana perannya dimainkan dengan tepat.

Ketika forum sudah tidak lagi kondusif untuk mengambil keputusan, atau keputusan yang diambil sangat krusial dan merugikan kepentingan partai, ‘biang petunjuk’ bisa segera beraksi mengeluarkan statemen akhir yang dengan tegas menolak putusan tersebut, lalu keluar dari forum. Forum akan merasa kehilangan ‘cahaya’ yang menjadi harapan terakhir forum, dan ragu dengan putusan yang akan diambil. Selanjutnya, ‘biang damai’ berganti peran menjadi ‘biang kacau’. Forum akan berpikir, “bahkan orang yang paling sabar di ruangan ini pun akan marah jika putusan dipaksakan”. Mereka akan berpikir ulang untuk menetapkan keputusan. Pada tahap ini, oknum oknum yang mengusulkan pendapat memaksakan putusan akan berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil. Pada satu sisi, mereka sangat ingin putusan diambil. Tapi pada sisi lain, mereka takut ditentang forum. Jika kemudian mereka berubah pikiran, kembalikan peran ‘biang damai’, dan tunjuk satu teman kita dalam forum menjadi ‘biang petunjuk’ yang baru.

Cara diatas biasanya berhasil. Setidaknya, itu juga yang saya pikirkan ketika kongres mahasiswa ketika itu. Akan tetapi, oknum oknum yang berkepentingan dengan putusan pada saat itu justru terus memaksakan kehendaknya. Bahkan, dengan kasar mengusir ‘biang damai’ yang sedang berganti peran. Jika hal ini juga terjadi pada kasus anda, maka pilihan yang anda ambil ada dua. Pertama, legowo dengan putusan forum dengan segala konsekuensi yang merugikan partai. Kedua, ‘menghancurkan’ forum. Dengan kondisi psikologis yang sudah sedemikian labil, sedikit provokasi akan membuat forum dengan segera menjadi ricuh. Coba saja.

Tentu saja, kedua pilihan diatas memiliki konsekuensi yang berbeda dan saya berlepas diri dari konsekuensi yang anda hadapi. Semua pilihan memiliki konsekuensi, dan saya harap anda sadar akan semua konsekuensi yang akan anda hadapi dari pilihan yang anda ambil. Penggunaan trik ‘menyamar’ dan ‘menipu’ bisa menyelamatkan anda dari situasi yang tidak menyenangkan, tapi juga bisa membawa anda pada situasi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Untuk kasus saya, setelah kongres mahasiswa dan masa jabatan saya berakhir, beberapa bulan kemudian saya ditunjuk kembali menggantikan kawan di DPM. Dengan ‘menyamar’ dan ‘menipu’, meskipun orang-orang yang saya hadapi sama dengan orang-orang yang saya hadapi pada periode sebelumnya, saya bisa berbaur dengan santai seolah olah tidak terjadi apa apa. Menyenangkan bukan?

Dalam sebuah konteks yang lebih luas, sebagaimana saya sampaikan di depan forum pada waktu itu, pada dasarnya kita adalah para ‘ninja’ yang sedang ‘menyamar’ dan ‘menipu’. Masing-masing dari kita memiliki mimpi-mimpi, cita, dan keinginan yang berbeda terkait organisasi tempat kita mengaktualisasikan diri. Setiap orang yang berada dalam sebuah organisasi yang sama, bisa jadi memiliki idealita organisasi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kemampuan ‘menyamar’ dan ‘menipu’ dalam konteks kita berorganisasi adalah gabungan dari kedewasaan, kreativitas, dan kepemimpinan dalam diri kita. Meskipun demikian, saya tidak mengatakan hal ini berlaku sebaliknya. Maksud saya, kualitas kedewasaan, kreativitas, dan kepemimpinan akan membuat anda mampu ‘menyamar’ dan ‘menipu’ dengan baik. Akan tetapi, kemampuan ‘menyamar’ dan ‘menipu’ yang linuwih tidak akan serta merta membawa anda menjadi seorang pemimpin yang baik. Ketika kepemimpinan diukur dari seberapa besar ide ide dan gagasan dari seorang pimpinan mampu diterima dan ditransformasikan dalam amalan amalan organisasi, maka kita dapat mengatakan bahwa pemimpin yang hebat ada seorang ‘penyamar’ dan ‘penipu’ yang hebat pula.




dayscounter

Januari 2012
S S R K J S M
« Nov    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

mind oracle

jasad manusia selalu terkurung dalam batas dimensi ruang dan waktu. tetapi jiwa dan pikirnya ketika bertautan dengan keimanan akan membebaskannya dari bumi dan dunia untuk selamanya

Arsip

Kategori

counters

  • 3,557 views

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.