06
Des
09

baca saja…OK

Sungguh, aku juga tak begitu mengerti mengapa kisah ini harus dituliskan. Hal-hal semacam ini pada dasarnya sudah sering terjadi dan aku tidak pernah merasa bahwa ia dan semisalnya harus dituliskan. Diguratkan dengan pena dan dibaca olehmu. Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan sejak pertama kali aku melihat tulisan kasar gadis kecil itu, aku tahu bahwa aku harus menuliskannya dan membiarkan dunia tahu akan kisahnya.

Aku tidak begitu tahu darimana harus memulainya. Jadi aku akan mulai dari perasaan aneh yang tiba-tiba muncul sore ini. Perasaan aneh. Maksudku, benar-benar perasaan yang aneh. Aku tidak pernah mampu menjelaskannya dengan baik. Meskipun hal ini bukan kali pertama terjadi, bukan yang kedua, juga bukan yang ketiga. Aku hanya bisa mengatakan bahwa hal semacam ini sudah sering terjadi padaku. Seperti halnya peristiwa-peristiwa sebelumnya, tiba-tiba saja terlintas untuk pergi ke suatu tempat. Meskipun aku tidak begitu terpikirkan alasan untuk melakukan itu. Dengan ringan saja aku pergi ke asrama yang lama. Sedikit bertegur sapa dengan kawan yang dijumpa, lalu entah dengan alasan apa terduduk begitu saja di depan TV. Diam dan menunggu.

Peristiwa-peristiwa setelahnya, tidak terlalu menarik, atau terlalu penting untuk diceritakan. Singkat cerita, aku menemukan diri terdampar di sebuah toko buku. Dengan hanya mengikuti intuisi yang semakin kuat, menuju ke sebuah rak dengan buku bertumpuk-tumpuk yang tertata tak begitu rapi. Tapi aku tidak menemukan apa yang intuisiku inginkan diantara tumpukan buku-buku itu. Ia ingin mengatakan kepadaku tentang sesuatu hal berkenaan dengan buku-buku, tapi sama sekali tidak berkeinginan untuk mengambil salah satu dari sekian buku yang ditumpuk berderet. “Baiklah..”, kataku dalam hati. Aku tidak ingin kunjunganku sia-sia. Maka ambil salah satu buku secara acak, membayarnya, lalu bergegas pulang. Tepat seperti apa yang diinginkan oleh intuisiku.

Kali ini, ia membawaku melewati jalan yang jarang aku lewati. Mempertemukanku dengan seorang gadis kecil. Ia gadis kecil biasa. Sungguh, hanya gadis kecil biasa. Seperti halnya anak-anak lain yang sering kau temui di perempatan-perempatan lampu merah, atau terminal-terminal, dan stasiun yang sering kau kunjungi. Ia hanya gadis kecil biasa yang memakai kaos putih agak lusuh, dengan ukuran yang aku pikir terlalu besar untuk akan seukurannya. Bersandal jepit, dan berambut sebahu yang ia biarkan tergerai tanpa diikat.

Dan ia berdiri disana, di bawah lampu merah. Ditemani anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya. Aku melihat mereka cukup akrab, membuatku berpikir bahwa anak laki-laki itu mungkin saja kawannya sepermainan, atau kawannya satu sekolah. Penampilan mereka biasa-biasa saja, atau bahkan terkesan lusuh untukmu. Aku lebih suka menyebut penampilan yang seperti itu ‘sederhana’. Aku tidak tahu pilihan kata yang lebih tepat dari itu. Mereka tidak tampak seperti halnya anak-anak jalanan lain yang tampak compang-camping begitu parahnya. Atau, mereka juga sama sekali tidak aku lihat berpenampilan necis seperti halnya anak-anak SD seumuran mereka. Jadi, aku pikir kata sederhana akan sangat tepat untuk melukiskan mereka dalam segala hal. Dalam penampilan, atau juga dalam keseharian, gaya hidup, atau bahkan senyuman mereka.

Mungkin terkesan sebagai sebuah kebetulan. Aku diharuskan berhenti di lampu merah gadis kecil itu. Dia menghampiri kami, pengguna jalan di sore itu, dan tampak antusias memberikan sesuatu kepada mereka. Termasuk aku. Gadis kecil itu memberiku sebuah amplop kecil yang mulanya hanya aku kira sobekan kertas kecil. Di atasnya bertulis, “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Aku terdiam. Waktu membeku. Sebuah godam seberat satu ton serasa baru dipukulkan tepat ke kepalaku. Dan jitu menampar semua bilik kesadaran hingga ia terbangun sempurna.

Aku memandang gadis kecil itu. Tapi ia tak membalas, alih-alih pergi dan menyerahkan benda yang sama kepada pengguna jalan yang lain. Aku berpikir tentang keseharian gadis kecil itu. Rumah kecilnya, Ayah, Ibu, dan adik-adiknya yang mungkin masih kecil. Mereka mungkin saat ini sedang di tempat lain. Bertarung dengan dunia dengan cara mereka sendiri-sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa dunia kejam atau berlaku tidak adil kepada mereka. Mereka mungkin memiliki semangat hidup, bertarung, dan belajar yang lebih dari orang lain. Bahkan lebih dari apa yang aku miliki. Tapi aku sadar bahwa setiap orang memiliki porsi yang berbeda satu sama lain. Dan aku, kebetulan, mendapat porsi untuk menempati kursi kehormatan sebagai mahasiswa. Di sebuah universitas ternama pula. Tanpa berpikir panjang, baru saja membeli sebuah buku yang tidak bisa dikatakan murah. Sedangkan gadis kecil itu, mendapat porsi….menduduki bangku kursi SD yang mungkin hampir rubuh. Bertarung untuk…membeli sebuah buku tulis!

Jika kau ingin tahu, di satu bagian masa yang lain, aku mengalami yang tidak jauh berbeda dengan mereka. Saat ini aku memiliki bagian yang lebih. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya jika aku memberikan sebagian porsiku kepada mereka kali ini. Aku mengisi amplop itu, lalu memanggil gadis kecil itu untuk mengembalikannya. Untuk terakhir kali, aku membaca tulisan itu. Masih sama. “mohon bantuan seikhlasnya untuk membeli buku”. Gadis kecil itu menerima amplop kecil itu, dan membalasku dengan senyuman.

Mataku terasa hangat. Tapi aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk tidak menangis di depan manusia lagi. Tapi, seperti kau tahu…sangat sulit untuk membendung ia tidak mengalir di sepanjang sisa sore itu. seperti halnya ketika tulisan ini diguratkan.

17 Dzulhijah 1430

08
Sep
09

9-8-2009

Tekad!!! (diakhiri dengan tiga tanda seru)

#Memoar untuk sebuah pekik merdeka#

Menatap parang yang tergenggam

Bambu runcing yang terhunus

Senapan yang terkokang

Selongsong-selongsong peluru yang berserakan di parit perlindungan

Suara-suara tembakan dan teriakan perang!

Oh, demi tiap-tiap kata merdeka

yang diteriakkan hingga memekak

Darahku menggelegak, batinku berteriak hingga serak

Demi bunda bumi…mata ini takkan jenak terlelap

Hingga bumi negeri ini tlah berdiri tegak

Aku tlah menjual jiwa ini, hingga…

Tak akan ada ragu ketika tangan berparang menebas

Bambu-bambu runcing dihunjam dan dihantam

Dan senapan-senapan terkokang melepaskan peluru-pelurunya

Memburu nyawa pendosa di medan perang

Aku!

Aku! Sekali lagi!

Aku katakan padamu, kawan, saudaraku

Aku! Aku akan merahkan bumi dengan darah!

Dan pekik kan membahana  untuk kemenangan negeri dan bangsaku!

Hah? Tidak lagi!!! Kataku!

#memoar untuk mereka…bukan kau#

Asap kehitaman membumbung

Tinggi…kataku. selayaknya yang kau lihat

Medan perang tlah ramai dengan jiwa yang berjibaku

Meriam-meriam tlah terisi peluru-peluru baja

Tidakkah kau sadar? Kita sedang berperang!

Pedang…

Tombak yang terhunus!

Asap mesiu membumbung

Lagi, tinggi

Kau….

Dimana?

Musik? Suara-suara

#memoar untuk kesunyian#

Hahahaha…

Tertawa!

Merayakan bait kegembiraan

Hihihihihi…

Menangis!

Mengaduh dalam duka

Hmmmm…

Berguman!

Penasaran dan berpikir

Pssssttt…

Diam kataku!

Panglimaku sedang menyusun rencana perang

Mbeeeek…

Kambing terkutuk!

Diam kau, kataku

Kukuruyuuuuk…

Ah, sudah pagi!

Pertempuran baru akan dimulai

Dung dung dung…

Genderang!

Tiga pendosa telah tewas dihunjam keris

Hahahaha…

Tertawa!

Kali ini untuk menyambut sang Mati

Jleger…

Petir!

Hujan datang diwaktu yang salah

Peduli apa dengan hujan?

Perang baru dimulai!

Terima kasih sudah mau membantu

#memoar  untuk sebuah pencarian#

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Kau mau bantu? Baiklah

Kita mulai dengan mencari mereka

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Dimana? Aku bertanya padamu

Kau tidak tahu? Baiklah. Kita cari lagi lebih teliti

Dimana?

Loh, kau malah bertanya balik padaku

Dimana?

Jangan membuatku kesal!

Aku sedang pusing, bingung

Kau tentu sudah tahu

Aku ingin menangis? Mungkin

Bumi yang luas serasa sesak untuk jiwaku

Dimana?

Ah, mungkin mereka tidak memang tidak pernah ada

Siapa? Oh maksudku….mereka

Ksatria-ksatria negeri yang berkuda perang

Ah iya….Aku ingat

#memoar untuk sebuah jatidiri#

Kau pernah berkata padaku

Bahwa kau adalah anak negerimu

Yang lahir, tumbuh, berkembang

Besar dan dewasa di tanah surga katulistiwa

Iya kan?

Kau juga pernah berkata padaku

Kau terlahir di negeri yang diberkati

Yang subur, kaya, makmur sentosa

Disucikan oleh darah-darah pejuang suci

Iya kan?

Ah, pastilah kau anak yang diberkati

Karena darah pejuang suci diwariskan kepadamu

Mengalir di setiap urat dan pembuluh yang berdetak

Berdetak hingga darahmu menggelegak

Pikirku, pastilah kau anak yang terpilih dari urat generasi

Mereka yang memilih terasing demi kebenaran

Keadilan, dan rela mati untuk membelanya

Tentu saja, itulah kau…

Hah?

Bukan katamu?

Lalu…

Pada siapa lagi bunda pertiwi harus mempercayakan dirinya?

Pena kematian

#memoar untuk penaku#

Hahahaha….

Aku tertawa, menertawakan kau

Kau telah salah sangka kawan

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Hahahaha….

Aku tertawa, lagi

Tidakkah kau lihat apa yang digenggam di tangaku?

Bukan pena kawan, ini pedang! Yang terhunus!

Tak kah kau lihat pedang ini tajam?

Ia terasah halus seakan ia adalah permata

Permata kematian! Bukan untukmu

Tapi untuk mereka, para pendosa

Lewat penaku, aku bertutur

Bercerita dan berkisah, mendendangkan dongeng

Kata dan bait yang tercipta dari ujung penaku

Teriakan mendentum untuk kematian yang mendengus kelam

Aku bukan pujangga, tak pula pantas kau sebut aku penyair

Katakan….aku adalah penulis kematian untuk mereka

Penaku abadi dalam makna

AARGHH….!!!!

#Memoar untuk teriakan#

Memekik!

Merdeka! Merdeka! Merdeka atau MATI!

Berteriak!

Maju! Lawan! Hancurkan Tirani!

Berdemo!

Pasang spanduk! Arak poster! Usung rontek!

Melantangkan suara!

Berteriak! Meracau dengan TOA! Bernyanyi-nyanyi kacau

Berkeringat!

Berpeluh! Berdempetan! Kakiku terinjak!

Marah!

Mendorong! Berjelalan! Nafasku sesak!

Anarki!

Melempari! Menghancurkan! Ditembaki polisi

Kecewa….

Masih untung kau tak mati…kau hendak gila…salahkan kedunguanmu atas itu…

ANAGRAM, A-N-A-G-R-A-M!

#memoar untuk kata yang sering aku dengar dari mereka#

MATI

M-A-T-I

KE-MATI-AN

DI-MATI-KAN

MATIKAN!!!

SAKIT

S-A-K-I-T

KE-SAKIT-AN

DI-SAKIT-KAN

SAKITKAN!!!

HINA

H-I-N-A

KE-HINA-AN

DI-HINA-KAN

HINAKAN!!!

BUNUH

B-U-N-U-H

PEM-BUNUH-AN

DI-BUNUH-I

BUNUH!!!

Baiklah…cukup

Aku sudah tahu kesenangan yang mereka rasakan

Perutku mual!!! (dengan tiga tanda seru!!!)

18
Jun
09

catatan kecil pagi ini

kali ini sepertinya ia menggodaku. mengajakku bercanda dengan tingkahnya. dan aku tersenyum. karena memang hanya itu yang aku bisa lakukan melihat polahnya di pagi ini. kawan, aku katakan padamu, takdir tidak akan sepenuhnya bisa dimengerti oleh manusia. jalinannya rumit, bergelung dan berbelit. bertaut dan bersusun sedemikian rupa hingga manusia tercerdaspun tidak akan mengerti sepenuhnya kemana jalinan itu akan berujung. aku kau. kita atau bahkan mereka sekalipun.

dunia, toh ia seperti padang luas yang berujung. sedangkan aku tidak pernah tahu kisah seperti apa yang telah ditulis atas diriku. al iliyyun di tempat yang tinggi. maka, aku memilih untuk tidak terlalu banyak memikirkannya. aku langkahkan saja kakiku sekenanya. semauku. sekehendakku kemana ia akan menuju. lagipula, aku sudah akhir perjalanan yang seharusnya aku capai. yang harus aku lakukan hanyalah mengikuti jejak-jejak yang telah ditinggalkan kafilah-kafilah sebelum masaku.

dan…kali ini sepertinya ia  menggodaku lagi. memanfaatkan ketidaktahuanku atas mosaik rumit yang telah tertulis atas diriku.  aku ikuti saja kemana ia menuju. ia berhenti di suatu tempat. menunjuk pada oase yang sejuk. kali ini aku tertawa. renyah. ia telah membawaku pada akhir yang manis seperti biasa. aku memang tidak pernah sepenuhnya mengerti.

12
Jun
09

aozora…

Ketika itu, matahari baru saja hendak menyapa pagi dengan sinarnya. Semburat putihnya bahkan belum sempurna di ujung ufuk timur. Ujung lentik rerumputan masih basah oleh embun dan sisa tetesan hujan tadi malam. Suasana masih begitu sepi. Tidak ada suara kokok lantang ayam, celoteh burung-burung kecil di sela ranting cemara, atau bahkan sekedar suara gerisik serangga.

Ketika itu, masih di fajar yang sama, riak-riak angin kecil terkadang bermain jenaka memainkan ujung dedaunan dan ranting-ranting mungil. Suaranya sedikit bergemerisik, mungkin ia mencoba sedikit meramaikan fajar yang yang ia pikir tadinya terlalu sunyi. Ya, fajar itu memang sangat sunyi. Teramat sunyi malah. Langit yang hitam sedikit menyombongkan dirinya karena kali ini wajahnya bersih tanpa awan. Saking bersihnya, kau mungkin bisa dengan cepat mengenali tiga bintang berderet Alnilak, Alnilam dan mintaka sebagai rasi orion. Rigel yang kebiruan dan betelgeuse yang kemerahan juga akan bisa kau amati dengan bebas.

Di pagi yang sama, seekor kucing kecil, berbulu keabuan melompat dari sebuah kardus. Sebentar ia mengeliat meluruskan badan. Sejenak sekilas. Tampak seekor tikus coklat tampak berlari-lari kecil tidak jauh dari ia berdiri. Tapi aku tak tahu. Kucing itu tampak acuh melihat tikus-tikus yang sebenarnya tampak sangat gemuk bagiku. (kalau aku seekor kucing, aku pasti mengejarnya). Ia berjalan, perlahan terhuyung. Mungkin lapar. Kucing kecil itu memandangi gadis mungil yang sedang duduk berdoa di atas sajadahnya.

Si mungil tertawa memandangi kucing kecil. Wajahnya tampak bersih karena basuhan air wudhu yang ia ambil sejak jam tiga tadi. Ia tersenyum nakal memandang kucing mungil di hadapannya. Matanya kecoklatannya bergerak-gerak lincah. Tangannya memainkan bola-bola kecil dari karet dan melajukannya dengan cepat. Melemparkannya ke sudut ruangan dan membiarkannya memantul. Kucing kecil dengan cepat mencoba mengejar dan menerkam satu per satu bola itu. Ia melompat, berguling lalu berlari menyergap. Aku tak tahu apa yang lagi-lagi kucing itu pikirkan. Seenaknya saja melesatkan dirinya ke udara tanpa berpikir hendak kemana ia mendarat. Ah, hanya membuat kamar itu semakin berantakan pikirku.

“Aisyah…kamu dimana”

“Uwaa…umi datang. Cepat sembunyi pus. Syuh syuh, lari-lari-lari. Keburu umi datang nih. Ah gawat. Sembunyi. Cepetan. Ntar kamu diusir.”

Kumohon, jangan memandangku seperti itu.

Kau tahu? Sungguh, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan kucing itu mendengar perintah gadis kecil. Yang aku tahu, ia hanya terduduk dan mendongakkan kepala sambil memandangi tingkah gadis kecil yang semakin panik. Apakah ia berpikir? Kurasa tidak, dan tentu saja tidak. Toh ia hanya seekor kucing. Maka, dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

“Ugh…dasar kucing. Jangan meow-meow terus. Umi sebentar lagi masuk kamar.”

“Aisyah! Kamu ngobrol sama siapa siapa sayang?”

“Ah, enggak kok umi. Sebentar lagi.” Kucing itu berganti menggelengkan kepalanya ke kanan dan kembali berkata, “Meow…?”

“Ugh…kuciiiiing. Kesabaranku sudah habis.” Tangan gadis kecil itu dengan cepat menyabet selimut di atas kasur dan dengan sigap melemparkannya menutupi tubuh kucing. Tepat ketika pintu kamarnya terbuka. Kree….eek. Engsel pintu terdengar berderit karena sudah lama tidak dilumasi. Terdengar menyeramkan? Tidak juga. Rumah kecil itu memang sudah cukup tua. Tapi tentu saja bukan tipe rumah tua berhantu seperti yang engkau pikirkan.

Si gadis kecil segera berdiri di depan pintu. Ia mencoba bersikap senormal mungkin. Ia mencoba melepaskan senyum polos khas anak-anak. Tapi kali ini senyumnya lebih tampak seperti senyum nyengir yang konyol bagiku. Ia mengaitkan jari-jarinya di belakang punggungnya dan menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan kanan berulang kali.

“Hai Umi. Apa kabar dengan pagi ini?” seorang wanita muda berjilbab biru muda muncul dari dari balik pintu. Gadis kecil masih mencoba bersikap sewajar mungkin.

“Insya Allah…masih dipenuhi dengan cinta. Apa kabar dengan pagi ini ukhti?”

“Kekeuh dengan semangat dan senyuman”

“Eleuh, ukhti mungil yang satu ini. Makin aneh-aneh aja jawabnya”

“Kan umi yang ngajarin”

“Aduh, apaan nih…Katanya ingin jadi mujahid mungil. Tapi kok kamarnya berantakan sih. Tuh, selimutnya malah keteteran di lantai. Kasurnya belum juga dirapiin. Masak kamar akhwat bisa berantakan kayak gini?”

“Umm…” sambil mengerutkan dahi. Tampak berpikir sangat keras.

“Itu…ah, iya. Habis simulasi perang umi.” Jawabnya, sambil memperagakan adegan pertempuran seru. Ia mengambil sebatang kayu. Ya, benar-benar sebatang kayu. Bundar, berwarna kecoklatan, dan panjangnya lima puluh centi-an. (Kumohon, jangan tanyakan padaku bagaimana kayu itu bisa berada di kamar itu. Aku hanya tahu benda itu ada disana ketika itu.) dan dengan segera gadis itu memainkannya seakan sebuah senapan perang. Memegangnya erat, dan seolah-olah sedang melontarkan rentetan peluru-peluru. Dor…dor….dor…

“Perang?”

“Iya, perang.” Jawabnya. “Perang untuk membebaskan saudara-saudara kita di Palestina.”

“Eleuh…semangat sekali. Udahan dulu simulasi perangnya. Sudah hampir subuh. Mujahid kecil umi hari ini masuk sekolah pertama kan?”

“Iya tau. Ini juga mau dirapiin. Udah, umi keluar dulu. Biar Aisyah yang rapiin”

Tangan gadis kecil bekerja dengan cepat segera setelah pintu tertutup kembali. Satu per satu bola-bola berceceran itu dipungutnya dan dimasukkan dalam laci. Ia buka tirai yang menutupi jendelanya dan sempatkan sejenak menyapa pecahan-pecahan asteroida yang membara ketika memasuki atmosfer bumi. Indah bukan? Tentu saja indah. Tidak setiap saat kau bisa membuka tirai jendelamu dan mendapati meteorite yang berpijar ketika menuruni atmosfer di depanmu. Gadis kecil bekerja semakin cepat. Ia mengangkat selimut yang tergeletak di atas lantai dan mendapati makhluk kecil berbulu keabuan tadi sudah raib entah kemana.

“Uwaaaa….aaaa! kucingnya ilang…!!!!” ia panik.

^_^

Gadis kecil itu masih tampak sangat penasaran. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana kucing mungil itu tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Sepiring nasi yang ada di depannya belum satupun ia sentuh sejak ia berpindah ke depannya. Ia mendekapkan kedua tangannya dan membiarkan keningnya berkerut. Ia tampak berpikir sangat keras.

“Aisyah, kok makanannya belum dimakan?” sebuah suara menegurnya.

“Lagi mikirin apa sih? Serius amat.”

“Ah nggak kok mi, cuma mikirin sesuatu aja”

“Ya udah. Makanannya cepat dihabisin. Ntar kamu telat lho. Ngakunya pejuang cilik, mana ada pejuang cilik yang telat di hari pertama masuk sekolah.”

“Iya umi sayang. Sebentar lagi ni nasi juga habis.”

Tangan kecil itu kembali beraksi. Kali ini mereka dengan sigap memasukkan sendok-demi-sendok butir-butir nasi itu ke dalam mulut gadis cilik. Satu persatu, sedikit demi sedikit dengan segera piring penuh nasi itu tandas. Hmm…masakan umi memang paling enak, pikir gadis itu. Meskipun menu yang dihidangkan sebenarnya sangat sederhana, tetapi selalu terasa spesial jika umi yang memasaknya. Top abis wis. Buktinya, tujuh tahun sejak ia lahir tidak sekalipun terlintas rasa bosan melahap semua masakan yang telah dibuat umi. Jangankan tersisa, sebutir nasi pun tidak akan tertinggal jika umi yang memasaknya.

Sambil menikmati makanan yang terhidang di depannya, imaji gadis kecil meninggalkan dirinya. Andai mereka juga bisa menikmati makanan seperti ini pikirnya. Matanya menatap poster besar yang sengaja ia tempel di ruang makan kemarin sore. Gambar seorang anak memegang bendera palestina dan mengacungkannya tinggi udara terlihat sangat gagah di poster itu. Apakah mereka juga masih bisa makan seperti aku? Gadis kecil berumur tujuh tahun itu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah mereka masih memiliki rumah seperti aku? Apakah mereka masih bisa bersekolah sepertiku? Ah, imajinya membawanya melintasi benua. Mengantarnya pada sepotong lembah subur diantara Eufrat dan Tigris, bumi palestina. Ah tidak, aku tidak mau melihat lebih jauh lagi. Gadis kecil itu berkata pada hatinya.

“Umi, apakah saudaraku-saudaraku di palestina bisa menikmati makanan seperti ini?” wanita muda berjilbab biru itu terdiam mendengar pertanyaan dari gadis mungil di depannya. Pertanyaan ini sulit juga untuk dijawab, pikirnya.

“Mengapa kau bertanya tentang itu sayang?” tanyanya.

“Aku hanya ingin tahu. Itu saja” jawab gadis kecil itu.

“Kau tahu, perjuangan mereka tidak akan berhenti hanya sampai disini sayang”

“Sampai kapan umi?”

“Sampai bumi al-Quds merdeka sepenuhnya dari tangan-tangan penjajah. Hingga saat itu, perjuangan tidak akan pernah berhenti”

“Haruskah lebih banyak darah yang harus tertumpah lagi? Aisyah hanya tidak ingin menyaksikan lebih banyak teman-teman aisyah menjadi korban.”

“Apakah aisyah bisa melakukan sesuatu untuk mereka?” gadis itu kembali bertanya.

“Tentu saja bisa sayang” suara yang terdengar berat menjawab dari kejauhan. Dari seorang pria paruh baya yang tengah berjalan menuju ruang makan. Kali ini ia memakai kaos hijau dengan sebuah kaligrafi besar di atasnya ditambah beberapa ornamen gambar dan bendera palestina. Dipadu dengan celana denim coklat, ditambah jaket army yang sudah mulai luntur warnanya. Plus tidak lupa peci warna biru yang selalu dikenakannya.

“Uwaa…dasar abi. Gak sopan. Tiba-tiba nimbrung obrolan orang lain”

“Kan abi baru selesai mandi. Pertanyaan kamu yang tadi itu aneh.”

“Aneh? Apanya yang aneh bi?”

“Pertanyaan seperti itu sepertinya terlalu cepat untuk keluar dari anak seumuran kamu.”

“Ugh…dasar abi. Aisyah kan gak mau sama dengan anak-anak lain”

“Pengen beda maksudnya?”

“Iya dong…Aisyah tidak akan sama dengan anak-anak yang lain. Mulai saat ini, namaku bukan Aisyah. Panggil aku putri Aozora.” Gadis itu berkata dengan penuh rasa bangga.

“Lho kenapa namanya diganti? Nama Aisyah kan udah bagus. Itu kan nama Ummul Mukminin” Umi menimpali.

“Ah umi nih. Nama aozora kan lebih keren”

“Keren apanya?” abi ikut menimpali.

“Aozora itu artinya langit biru bi. Dengan tangan kecil ini, akan aisyah kembalikan langit biru pada anak-anak palestina. Huh, lihat saja nanti. Penjajah zionis akan aisyah buat kalang kabut dengan jurus-jurus rahasia putri aozora.”

“Duh ni anak. Makin lama makin enggak-enggak. Udah, itu minumannya cepet dihabisin. Ntar kamu telat lho?”

“Ugh…dasar abi. Gak apresiatif sama anaknya sendiri nih”

“Emang kamu tahu arti apresiatif”

“Umm…apa ya?” ia kembali berpikir sangat keras. “Pokoknya ya itu deh…”

^_^

“Aaaah….Pagi yang menakjubkan. Hari ini aku belajar banyak hal.”, kata Aisyah dalam hati. “Banyak hal yang harus disyukuri.”, tambahnya. Langit masih biru, padang hijau masih luas terhampar, dan rahmat Allah masih mengalir tanpa batas. Ia menghitungnya satu per satu. Ia masih bisa sekolah, punya abi dan umi, punya banyak teman (ia menambahkan-yang kadang galak dan nyebelin juga sih), punya banyak makanan, dan tidak lupa, waktu yang banyak untuk ia bermain, melompat, berlari, atau bahkan bergulingan sekalipun. Ah (ia menambahkan), juga seekor kucing lucu yang dengan sukses ia selundupkan ke kamarnya sore kemarin. Hi hi hi…

“Allah itu Maha Baik ya…”, gumannya dalam hati. Ia ingin meneruskan menghitung rahmat Allah satu per satu. Tapi nikmat terakhir yang ia hitung membuatnya teringat dengan sesuatu. Si kucing! Ia panik. “Ah, bisa gawat kalau ketahuan umi.”, pikirnya dalam hati. Ia tahu umi tidak begitu suka dengan kucing, dan dengan alasan apapun (meskipun kelihatan dipaksakan banget) selalu menolak kehadiran kucing di rumah.

“Kucing kan lucu, umi”, protesnya pada suatu kali.

“Iya tahu. Tapi tetep aja kamu nggak boleh miara kucing, ai”

“Loh kenapa….?”

“Karena kucing diawali dengan huruf K. Karenanya, bisa menularkan virus toksoplasma” (kelihatan gak nyambung banget kan). Dalam kesempatan lain, umi menjawab “Karena kucing salah satu keluarga vertebrata. Dalam ilmu biologi, nama latinnya felis domestica. Secara alami, dia bermusuhan dengan canis familiaris. Ntar kalau ada canis familiaris lewat di depan rumah gimana? Mereka pasti berantem tuh. Ntar bunga hibiscus rosasinensis yang baru umi tanam kemarin mati keinjek-injek….”, jawab umi panjang lebar.

Uwaaaa…..aduh umi, ai gak paham.

Sudahlah, tidak ada gunanya membantah umi. sebelum umi mengeluarkan jurus-jurusnya yang lebih mematikan, kita ambil aja intinya. Umi tidak suka kucing. Titik. Gak pake koma. Ditulis diatas kertas folio margin 3, 3, 3, 3 pakai huruf Times New Roman spasi dua.

Malang benar nasibmu, kucing.

Tiba-tiba saja ia disana. Aku hanya bisa terdiam. Kaku. Seperti halnya aisyah yang hanya terpaku. Melongo memandangi makhluk keabuan muncul dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Kucing kecil itu dengan raut muka penuh dengan rasa penasaran berdiri di celah pintu yang terbuka. Toh ia hanya seekor kucing. Aku tidak tahu apa yang makhluk kecil itu pikirkan. Aku bahkan ragu apakah ia bisa berpikir. Maka, sekali lagi dengan segenap jiwa dan semangat anak kucing yang ada pada dirinya ia memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata, “Meow…?”

Gawat!

Bisa ketahuan!

Maka sebuah tindakan penyelamatan kembali diambil. Tangan aisyah kecil sekali lagi bergerak dengan kecepatan luar biasa tinggi. Kali ini untuk menyambar tas dan sepatu yang sedari tadi sudah disiapkannya. Dengan tak kalah cepat mengenakannya, lalu berlari ke jalan. Kabur!

“Aisyah berangkat dulu umi! Assalamualaikum!”

Sejenak hening. Lalu. Sebuah teriakan bergema di udara, “Aiiiiii! Ini kucing siyaaapaaaaaa?!!!” Gadis kecil itu nyengir.

“Ah sudahlah. Ngejelasinnya nanti aja sepulang sekolah”, batinnya dalam hati. “Sekarang, Aisyah…eh nggak ding…putri aozora harus fokus sekolah.”

“fokus…fokus.. fokus…!”

Putri aozora harus tumbuh jadi muslimah yang pinter, cerdas, minimalnya dapat gelar master lah. Ditambah berbudi, punya akhlah mulia, sopan, (dan cantik tentunya-ia menambahkan sambil tersenyum-senyum) agar bisa menolong teman-teman di Palestine. Juga biar bisa nikah dengan ikhwan soleh yang militan. Hi hi hi

Kali ini ia membiarkan matanya memandang bebas ke langit di atasnya yang perlahan mulai terang oleh cahaya matahari. Kini, sudah tidak terlihat lagi hujan meteorit seperti yang disaksikannya seperti saat pagi tadi. Langit kini tampak biru. Dengan hiasan awan tipis yang tidak terlalu tampak oleh mata biasa.

Pagi yang indah. Beberapa burung tampak berloncatan dan berkicau sesukanya, tapi masih terdengar harmonik dan merdu. Angin berhembus pelan, mendesau. Dan titik-titik embun yang menetes perlahan dari ujung-ujung rerumputan dapat kau saksikan seperti butiran intan di tengah padang. Udara semakin terdengar riuh. Ramai oleh suara-suara.

“Satu lagi nikmat Allah di pagi ini.”, katanya dalam hati. Ia menarik nafas panjang, lalu sejenak membiarkannya memenuhi rongga parunya. “Angin, titip salam buat saudara-saudaraku di palestina ya. Katakan pada mereka, tunggu sebentar lagi. Putri aozora akan datang menyelematkan kalian. Tetep semangat dan senyum nggih…”

31
Mei
09

hanya bahan renungan kok

di suatu pagi, kau seperti terbangun. kau dapati tubuhmu terkapar diatas ranjang
bersprei hijau, di dalam ruangan berdinding putih pucat dengan aroma-aroma aneh
yang menusuk-nusuk hidungmu. telingamu tak mendengar apapun, hanya tangis. kau
dapati orang-orang disekelilingmu terisak yang kau bahkan kau tak tahu mengapa.
kau hanya merasakan tangan mereka yang gemetar ketika menggenggam tanganmu yang
mulai dingin dan perlahan kaku.

matamu nanar, kosong. menatap satu demi satu wajah-wajah di sekitarmu. kau ingin
bertanya, “ada apa?” tapi lehermu serasa tercekat. kau teriak sekenanya. tapi
yang keluar dari mulutmu tak lebih dari desis bisikan yang tak terdengar oleh
siapapun. kau bertanya dalam hati, “ada apa dengan tubuhku?”. kau panik, tubuhmu
tak bisa bergerak. neuron-neuron dalam otakmu kehilangan transducer yang
menghantarkan impuls-impuls kimia post synapsis syarafmu. kau hanya merasakan
keringat dingin yang mengalir pias mengalir di kening dan sekujur tubuhmu.

kau bertanya pada dirimu, “Tuhan, apakah ini?”. lalu perlahan penglihatanmu
memudar, syarafmu meradang, dan tanpa bisa kau kendalikan otot-ototmu menegang
dan membuat seluruh tubuhmu bergetar. lalu kau dapati semuanya sunyi, tepat
setelah dua baris kalimat dibisikkan lewat telingamu begitu lirihnya.

“dimana aku?” lalu kau bertanya pada dirimu sendiri. gelap menjadi apa yang kau
lihat. sunyi memenuhi telingamu, dan kekosongan menjadi satu-satunya yang
dirasakan seluruh indra sensorimu. keheningan yang sempurna…

29
Apr
09

case-001

Ah, apakah menulis sulit?

Hanya menuliskan beberapa kata, memberinya makna leksikal. Lalu merangkainya membentuk baris-baris kalimat, memberinya makna gramatikal. Hanya menaruh kepada kata-kata itu sebuah makna. Memberinya arti, entah itu kisah, narasi, prosa, eksposisi, atau lantunan syair dan puisi-puisi. Itulah menulis. Ambil saja secarik kertas, lalu biarkan jemari-jemari mungil itu menari-menari mengikuti fluks gelombang otak yang meledak-ledak. Ciptakanlah keajaiban dengan tulisan.

Dalam narasi ini –meskipun entah apakah tulisan ini memang layak disebut narasi- menulis toh adalah sebuah keajaiban. “keajaiban yang hanya bisa ditemukan pada orang-orang yang bermetamorfosa”, kata si penulis. Faktanya, orang yang menciptakan tulisan ini toh menguasai ketrampilan membuat tulisan hanya dalam satu malam. Malam yang ajaib. Entah. Malam itu ia tiba-tiba saja mampu bermain dengan ribuan kata-kata yang menari di benaknya dan menciptakan tulisan pertamanya. Sebuah prosa, yang hanya berkisah pendek tentang seekor kucing dalam imajinasinya. Bukan tulisan yang luar biasa memang, toh hanya ia yang mampu menangkap metafora-metafora yang ia rajutkan dalam simbol-simbol tulisan pertamanya. Egois. Biarlah. Ia memang tidak memberikan petunjuk sedikitpun untuk orang lain memahami elan tersembunyi dari kumpulan metafor itu. Tapi baginya, tulisan itu adalah sebuah keajaiban.

Baiklah, ia memang pernah memiliki guru-guru bahasa yang ‘menurutnya’ luar biasa. Dalam satu bagian penggalan narasinya tentang masa lalu. Dan memang pada kenyataanya demikian. Guru-guru bahasa itu adalah karakter yang telah membentuk kepribadiaannya sehingga anda menemukannya seperti sekarang ini. Seorang ‘guru’ yang menyadarkan dirinya dari ketololannya tidak bisa menulis huruf ‘f’, seorang ‘bapak’ yang mengajarinya tentang narasi sebuah masa, seorang ‘ibu’ multi talenta yang menguasai langgam-langgam jawa nan susah dibaca, sekaligus ‘kawan’ untuk bercanda, dan sekaligus ‘teman’ debat yang kadang menjengkelkan. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Ajaib. Tapi toh mereka belum mampu membuat si penulis mampu bermain dengan rangkaian kata-kata dalam otaknya, menulis!

Baiklah, kadang-kadang penulis juga hilang sebagian kesadarannya dan tiba-tiba menuliskan ‘sesuatu’ yang menarik. Ia duduk di depan mesin ketik tua, dan tiba-tiba jari-jarinya menari-nari dengan cepatnya diatas tuts-tuts yang sudah berkarat. Ia tiba-tiba menulis! Sebuah puisi aneh dengan permainan rima, bertajuk si Joni. Entah, ia juga tidak tahu. Tulisan itu seketika sudah ada di depannya ketika ia tersadar. Diketik rapi, dengan spasi 1,5 diatas kertas bekas bungkus kacang yang entah ia temukan dari mana. Kesurupankah? Ia tidak yakin. Ia tahu reputasinya selama ini mungkin cukup buruk untuk membuat jin kelas teri terjengkang terbirit ketika melihat tubuh kurusnya melintasi kuburan. Dan tulisan itu? Pada akhirnya toh hilang. Tidak ada yang tahu. Nasibnya entah berakhir di tumpukan sampah, hilang dan menyatu dengan bumi, atau kembali menjalani takdir sebagai bungkus kacang.

Lalu apa yang membuatnya menjadi penulis?

Sebuah keajaiban. Sama seperti keajaiban lain yang membuatnya tiba bisa membaca al-Quran dengan fasih ketika pertama menginjakkan kaki di bumi jogja, juga tidak jauh berbeda dengan keajaiban yang membuatnya tiba-tiba memahami arti dari ayat-ayat al-Quran yang ia baca. Sebuah keajaiban, seperti halnya keajaiban yang mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa di sekelilingnya. Tapi ia tidak sedang berbicara tentang keajaiban yang datang tiba-tiba begitu saja. whuz…selayaknya angin yang mengalir, lalu tiba-tiba hidupnya berubah drastis. Tidak, ia tidak berbicara tentang keajaiban yang seperti itu. Entah bagaimana bentuk keajaiban itu, semua keajaiban-keajaiban itu hadir sebagai konsekuen dari pilihan-pilihan yang telah ia ambil, dan tentu saja, ada resiko besar dari keajaiban-keajaiban itu. Katakanlah, kawan kita yang satu ini adalah pengecualian. Beberapa keajaiban yang diberikan kepadanya datang dengan tiba-tiba. Tapi toh tidak semua keajaiban itu datang seperti itu. Adakalanya, sama seperti ia ketika menemukan keajaiban dari makna metamorphosa, ia butuh waktu berbulan-bulan. Bukan waktu yang singkat tentu saja. Atau, ketika ia menemukan 3 orang luar biasa yang merubah total hidupnya, ia butuh waktu 7 tahun untuk menarik analogi dari 3 orang itu!

Baiklah, katakan saja si penulis menguasai kemampuan memanipulasi kata-kata dalam satu malam. Sebuah keajaiban seketika? Barangkali bukan. Seperti yang telah diceritakan dalam narasi sebelumnya, si penulis juga beberapa kali sempat berlatih menulis. Kadang, ia mengalami kejadian-kejadian ‘aneh’ seperti yang sudah dikisahkan, tapi tak jarang pula kertas tak berdosa ukuran A4s di depannya menjadi korban. Diremas, dicabik, diremuk, terserpih menjadi lembar-lembar kecil sobekan kertas putih, lantaran penulis frustasi dan gemas akan ketololannya pada dirinya sendiri. Ia tidak menghasilkan tulisan apapun! Atau, anda mungkin menemukannya ringan bermain dengan diksi atau rima. Tapi toh itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar, dengan berjam-jam bermain plesetan, lalu tertawa terbahak karena saking lucunya.

Ia memilih menjadi penulis karena ia ingin menciptakan keajaiban.

Bayangkan saja, kata-kata itu mungkin bisa teronggok begitu saja dalam otak. Meracuni neuron sebagi hafalan tanpa makna. Tapi menulis telah menciptakan keajaiban dengan memberikan makna pada setiap huruf, morfem yang digoreskan. Pada setiap kata, fonem yang dituliskan. Dan pada setiap kalimat, bait dan syair yang dibacakan pada akhirnya. Ia memberinya ruh, semangat jika tulisan itu berapi-api. Melodi, ketika tulisan itu ditulis dengan bait-bait ritmis. Dan symphoni, ketika tulisan itu rancak bermain nada, rima, dan rentak ritmis yang menyihir. Menulis telah menciptakan keajaiban bagi kata-kata. Ia memberikan kepadanya makna.

Ah, apakah menulis itu sulit?

Menulis adalah keajaiban. Ciptakan saja keajaiban dengan penamu sendiri.

18
Mar
09

bumi bergemuruh, bergetar, berdetak mencipta ritmis perkusi menghipnotis. angin mencipta rhapsody, ia biarkan melodinya mengayun lentik di sela-sela lambaian ujung cemara. “dengar concertoku” kata sang air yang berdericik. suaranya tegas, lantang tapi tak memekakkan telinga yang mendengar. ketika itu, mentari tertegun. seketika ia menghentikan nada yang dialunkannya. “wahai, lagu apakah yang kalian mainkan. bolehkah aku ikut bersama kalian?”. “kami sedang memainkan simphony semesta” jawab mereka. “ikutlah bersama kami. dan kita kan runtuhkan realita bersama-sama”

10
Mar
09

epistema 1

Tiba-tiba saja, naluri epistema itu muncul. Mengambil alih pikiran dan memaksa nalar untuk merevolusi makna dan definisi. Tiba-tiba saja, logika mempertanyakan semua definisi dan memaksa akal memuntahkan semua paradigma. “muntahkan saja semuanya” ia berkata kepadaku. “dunia yang kau kenal tak lain hanya manifestasi kebohongan-kebohongan aksioma manusia.”

Tiba tiba saja, ia bertanya tentang leksikal, bagaimana runtutan huruf-huruf yang berbaris memanjang itu tiba-tiba menjadi sebuah kata yang berbunyi dan memiliki makna. Ia memaksaku nalarku berpikir gramatik, runtutan kata yang kacau itu dilemparkan padaku dan aku disuruhnya merangkainya menjadi barisan kalimat-kalimat. “apa itu hakekat?” ia bertanya kepadaku. Aku diam berpikir. “apa itu makna?” ia bertanya lagi. Mungki karena nalarku yang tidak mampu berjalan, atau entah karena aksioma massa telah menipuku. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Akhirnya, ia bertanya lagi padaku, “apa itu kebenaran?”. Jawabku, “entahlah”.

Tiba-tiba saja, lintasan-lintasan masa itu muncul dari benakku. Aku melihat masa berlari. Ia melintas cepat, tapi aku masih bisa melihat wujudnya yang seperti kabut. Di sela-sela kabut itu, aku melihat kawanan pengembara asing. “dari mana kau”, aku bertanya kepada salah seorang diantaranya. “aku tidak tahu. Waktu tiba-tiba telah menyeretku ke tempat ini”. “siapa namamu?” aku bertanya lagi. “mereka memanggilku kehidupan. Apakah kau melihat kawanku yang lain?”. “tidak” jawabku. “aku belum melihat pengembara-pengembara asing seperti kalian sebelum ini”.

Tiba-tiba saja, aku enggan bercakap lagi dengan pengembara-pengembara asing ini. Tapi naluri epistema itu kembali muncul dan mengambil alih fungsi motorik otakku. “jika kau memang kehidupan, ceritakan padaku apa itu harapan” pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar. “harapan hanya ilusi”, jawabnya. “mengapa kau berkata demikian?” aku bertanya menyelidik. “bukankah mimpi itu ada karena harapan?”. “harapan hanya ilusi. Ia tidak pernah nyata. Ia muncul karena manusia butuh pembenaran atas kegagalan dan realita”. Aku bertanya lagi padanya, “lalu, apa yang telah membuat manusia bertahan dari menghadapi dunia yang seperti ini”. “percaya” jawabnya. “percaya atas apa?” protesku.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba saja, pengembara-pengembara asing itu pergi dan meninggalkan pertanyaan besar bagiku. “kau sendiri yang harus mencari jawabannya”, teriak salah satu mereka dari kejauhan. Aku berbalik, seraya merenungkan dialog antara aku dan pengembara-pengembara asing tadi. Aku bertanya pada nalarku, “sudah puaskah kau?”. Tapi ia tidak menjawab. Lalu, aku bertanya kepada kawan disampingku, “katakan padaku, apakah kau berpikiran sama seperti pengembara-pengembara asing itu?”. Ia juga tidak segera menjawab. “apa yang kau pikirkan kawan, jawaban apa yang kau harapkan dariku?”. “Tidak ada”, jawabku. “aku tidak pernah berharap akan mendapatkan jawaban apapun. Tapi aku percaya bahwa engkau akan menjawab setiap pertanyaan apapun yang aku ajukan”. “demikian pula aku” tambah kawanku. “aku selalu ingin bisa menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan padaku. Tapi aku tidak pernah berharap untuk itu. Menaruh harapan dan mimpi akan terasa sangat menyakitkan ketika realita datang dan menghempaskannya begitu saja. Yang bisa aku lakukan hanyalah percaya, bahwa setiap jawaban yang aku berikan akan memuaskan rasa ingin tahumu dan membuatmu lebih bijak melihat kehidupan”.

“mungkin kau benar”, kataku. Mimpi, harapan, atau entah apapun namanya adalah entitas imajiner yang hanya ada dalam benak nalar manusia. Bisa saja, ia hanyalah angan sebagai wujud manifestasi ketidakpuasan alam bawah sadar manusia akan realita. “bisa saja”, kataku. “dunia tak butuh mimpi” kawanku menimpali. “Kurasa kau benar” jawabku. Mimpi tetaplah sebuah mimpi, dan harapan bisa jadi hanya wujud pelampiasan atas kepahitan masa lalu. Setiap orang bisa saja punya mimpi, tapi hanya orang-orang yang percaya dengan harapan dan mimpi-mimpinya, yang bisa merubah realitas

—)!(—

10
Mar
09

just a note

kawan…

Ketika memang beban itu terlalu berat, letakkan saja sejenak. Melihat sejenak sayap-sayap perak yang mengayun di langit bersama bintang-bintang dan gugusnya masing-masing akan meringankan bebanmu.

Ketika kaki telah letih menapak, istirahatkan saja ia sejenak. Dengarkan saja dan hibur dirimu dengan bisik-bisik dan desau angin yang mengalunkan harmony samar dari samudra nun jauh disana.

Ketika pikir tlah jenuh dan tubuh telah dikuasai penat, rebahkan saja ia sejenak. Ketika kau sambut pagi, buka saja jendela kusam itu dan sibakkan tirai yang mulai lusuh itu. Katakan pada sayap emas matahari di ufuk timur jauh sana, “lihat saja, aku kan bersinar melebihi terangmu hari ini”.

Ketika kau merasa lelah, hirup saja udara segar di pagi hari dan katakan pada dunia, “tunggu saja, dan suatu hari angin itu akan membadai menderu”.

16
Feb
09

dialogia

Suatu pagi, seorang anak terbangun dan menemukan dirinya tengah menatap dunia. Dengan penuh ketidak percayaan ia berkata, “inikah dunia?”. Ia menemukan tak satupun jawaban terdengar menjawab pertanyaanya. Kecuali oleh orang asing yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Orang asing itu pun menjawab, “ya inilah dunia”. Anak itu tertegun sejenak.

“ah, mungkin aku salah lihat” ia mencoba berargumen.

“inilah dunia!” orang asing itu mengulangi perkataanya.

“tapi ia tidak seperti yang diceritakan padaku. Seharusnya ia tak seperti ini. Dimana harmoni? Dimana aku bisa menemukan keterpaduan? Yang aku lihat disini adalah kekacauan” anak itu menukas.

Lelaki itu tertawa…keras sekali.

“dunia yang diceritakan kepadamu tak pernah ada”

“lalu mengapa ia dikisahkan”

“karena ia bagian dari mimpi”

“sok tahu, siapa kau? Bagaimana kau tahu tentang itu?”

“aku masa. Aku hidup dan menyaksikan segalanya”

“omong kosong”

“aku telah melihat banyak hal. Dan aku katakan padamu, inilah dunia”

“lalu mengapa ia begitu berbeda dengan yang diceritakan padaku?”

“karena ia bagian dari pilihan. Manusia telah memilih dunia yang seperti ini.”

“apa yang bisa aku lakukan disini. Yang aku lihat hanya sekumpulan manusia berkerumun dan mendengungkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku bahkan ragu apakah mereka manusia seperti yang dikisahkan kepadaku”

“kau benar. Itulah manusia”

“aku juga manusia. Tak lama lagi aku juga akan dewasa selayaknya manusia. Mengapa aku tidak seperti mereka?”

“karena kau tidak memilih untuk seperti itu?”

“mengapa aku tidak memilih seperti itu? Mengapa aku harus menjadi sosok yang terasing di tengah bangsaku sendiri. Apa yang telah membuat sosokku harus begitu spesial. Aku tidak melihat sosokku jauh berbeda dengan manusia-manusia itu.”

“pertanyaan bodoh. Karena kau memiliki cinta. Lalu dengan cinta itu, kau mencari satu demi satu kepingan-kepingan kebenaran. Merangkainya dan menyatukannya untuk menggantikan aksioma-aksioma yang membelenggu pikirmu. Kau lepas semua yang kau miliki dan menggunakan semuanya untuk menemukan sosok yang kau cintai.”

“yang aku cintai?”

“kau yang lebih tahu. Karena kau yang telah memilih untuk mencintainya lebih dari apapun.”

“hmm..ph”, anak itu menghela nafas. “aku heran. Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang dunia hai orang asing. Bagaimana pula kau tahu tentang diriku. Aku tidak pernah merasa bertemu denganmu sebelum ini.”

“sudah aku katakan, aku adalah masa. Sisi lain dari dunia yang selalu luput dari kebanyakan mata-mata manusia. Aku hadir bersamaan dengan dunia ketika ia muncul dari ketiadaan. Aku menyaksikannya tumbuh, aku melihat satu demi satu fase-fase zaman berlalu dan berganti. Aku menyaksikan ketika makhluk-makhluk pertama tercipta, tumbuh, berkembang dan memenuhi bumi dengan jenisnya. Aku memperhatikan setiap inci demi inci polah manusia yang terus membawa bumi pada kehancurannya. Aku juga menyaksikan kau. Bagaimana kau lahir dari sosok yang kau namai ibu. Bagaimana juga kau bertingkah dan berlaku jumpalitan di atas bumi. Aku menyaksikanmu terkapar tak berdaya ketika kau diperdaya sebuah ilusi yang manusia-manusia itu nyata-nyatakan sebagai dunia. Aku juga menyaksikanmu terbangun, tiba-tiba terasing dengan semua hal sebelumnya sudah begitu akrab bagimu. Aku menyaksikan semuanya.”

“dunia terasa begitu indah sebelum ini. Mengapa ia tak seperti yang pernah aku kenal. Setiap inci, setiap jengkal terasa begitu asing. Rasa muak dan ketidakpuasan tiba-tiba melingkupi semua inderaku. Seakan aku bukan lagi bagian dari dunia ini. Apakah aku bukan manusia?”

“kau tidak berbeda dengan mereka. Kau tidak lain hanya manusia biasa. Sama saja seperti mereka. Tetapi kau telah memilih untuk lepas dari ilusi yang manusia-manusia lain ciptakan dan memilih menggunakan nuranimu untuk melihat dunia seutuhnya”

“tapi apa yang aku lihat sekarang. Hanya kekacauan. Dimana harmoni? Dimana keterpaduan? Yang aku lihat hanya hati-hati yang ketulusannya telah digantikan oleh keserakahan dan jiwa-jiwa yang tak mampu lagi menampung luapan-luapan amarah. Apakah mereka masih menyebut dirinya manusia? Mereka tak lebih dari monster di mataku.”

“apakah kau tidak puas dengan keadaan dunia yang seperti ini?”

“tentu saja ya”

“mengapa kau tidak mengubahnya sesuai mimpimu? Toh kau sudah melihat semuanya dalam mimpimu. Aku tidak perlu lagi mengajarimu tentang dunia yang seharusnya.”

“mengapa dunia begitu lain dengan yang dikisahkan kepadaku”

“karena ia bagian dari manusia. Ia bagian dari dirimu, dan kau yang menentukan seperti apa rupa dunia”




dayscounter

Desember 2009
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

mind oracle

jasad manusia selalu terkurung dalam batas dimensi ruang dan waktu. tetapi jiwa dan pikirnya ketika bertautan dengan keimanan akan membebaskannya dari bumi dan dunia untuk selamanya

Arsip

Kategori

Komentar Terakhir

KAtS di 9-8-2009
atik di 9-8-2009
kurotsugi di catatan kecil pagi ini
LoveAlloh_atik di catatan kecil pagi ini
kurotsugi di aozora…

counters

  • 636 views